January 23, 2022
Kreasi

Cara Memperkenalkan Gender Wayang Style Tunjuk

Menyaksikan permainan gender tanpa dibarengi dengan pertunjukan wayang kulit, sudah tak membosankan lagi. Bahkan, penampilan gamelan tergolong klasik itu, kini menjadi tontonan segar dan dipercaya sebagai terapi jiwa. Simak saja penampilan penabuh anak-anak dan remaja yang memainkan gender wayang pada Lomba Gender Wayang Berpasangan di Balai Banjar Tunjuk Kelod, Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Rabu (25/12). Dalam lomba bertajuk Gorawa Kalangwaning Harja itu, para seniman anak-anak hingga remaja saling beraksi adu kepiawaian memainkan gamelan gender.

Lomba yang digelar oleh Sanggar Seni Kembang Bali dan Komunitas Seni Padma Buddharam itu diikuti oleh peserta tingkat anak-anak (SD dan SMP) dan tingkat remaja dari seluruh Bali. lomba dibagi menjadi tiga kategori yaitu tingkat anak-anak Kabupaten Tabanan diikuti sebanyak 8 pasang, tingkat anak-anak se-Bali diikuti 15 pasang, dan tingkat remaja umum diikuti 7 pasang. “Kami ingin menggali potensi seni di Tabanan melalui lomba gender. Kami juga ingin memperkenalkan gending-gending khas Tunjuk,” kata panitia lomba I Nyoman Hartanegara.

Karena itu, lanjut dalang wayang kulit keturunan Pekak Rajeg ini materi yang dilombakan khusus peserta dari Tabanan adalah gending Merak Angelo style (gaya) Tunjuk (gending wajib) dan gending Angkat-angkatan (gending pilihan). Untuk peserta umum (Bali), juga menyajikan materi lomba yang sama, namun dengan style yang bebas. gending Merak Angelo. Hanya saja menggunakan style bebas. “Style Tunjuk, ada di jineman (di awal gending) ada kekhasan, gegedig yang memang khas. Gaya Tunjuk mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan style lainnya,” imbuhnya.

Peserta lokal Tabanan mendapat kesempatan tampil pertama kali. Meski lebih banyak diikuti peserta pemula, namun mereka tampil dengan sangat manis. Mereka menampilkan gerak dan gaya yang sungguh menjadi tontonan yang atraktif. Para penabuh, tak hanya memainkan gending-gending kuno dengan teknik pukulan yang benar, tetapi juga menampilkan ekspresi gerak tari yang indah. “Kami akan terus melakukan pembinaan agar mereka bisa tampil optimal terutama saat mengikuti lomba ataupun ngayah magender,” ucap Hartanegara.

Para peserta kategori umum tampil lebih variatif. Mereka tak hanya memainkan gending-gending kuno dengan teknik pukulan yang benar, tetapi juga menampilkan ekspresi gerak tari. Panggul yang biasanya sebagai pemukul bilah gender, berubah menjadi property pendukung gerak tariannya. Saat mengolah lagu dengan permainan ngembang ngisep, senyum mereka menjadi bumbu lantunan gending-gending klasik yang penub jiwa. Maka wajar, penampilan para seniman cilik ini mendapat tepuk tangan pengunjung.

Salah satu dewan juri Wayan Tusti Adnyana mengaku senang melihat antosias anak-anak memainkan gender wayang. Niat generasi dalam melestarikan gender wayang cukup tinggi. “Semua peserta tampil baik, mulai dari teknik gegebug, kompak, membawakan gending style Tunjuk dan ekspresi hidup, sehingga membuat orang tertarik melihatnya,” ungkap salah satu dewan juri Wayan Tusti Adnyana.

Lomba kali pertama ini, melibatkan 6 juri yang merupakan seniman, guru dan dosen yang biasa menjadi juri dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Kreteria penilaiannya meliputi teknik, kekompakan, kreativitas, dan penampilan. Untuk kategori lokal Tabanan, tampil sebagai Juaea I, III dan juara III diraih oleh Sanggar Mudragita Cundamani Desa Jegu, Sanggar Batel Wayang Br Kuwum Mambal Desa Kuwum dan Sanggar Buratwangi Br. Ole Desa Marga Dauh Puri.

Sementara untuk kategori umum tingkat anak-anak di raih Kadek Candra Paramita dan
Putu Nanda Rahayu (Denpasar) sebagai Juara I, I Wayan Aris Murdita dan Ni Made Yunita Kerniawati (Gianyar) sebagai Juara II serta Ni Kadek Mita Utari dan Tri Gayatri (Denpasar) meraih Juara III. Sedangkan untuk kategori remaja umum juara I, II dan III diraih oleh Sanggar Savitri Desa Kapal (Badung), Sangar Sabda Kencana Sakti (Denpasar) dan sanggar seni di Karangasem.

Penyerahaan hadiah kepada para pemenang dilalukan pada malam Apresiasi Seni Gorawa Kalangwaning Harja yang digelar tanggal 27 Desember 2019 bertempat di Bale banjar Tunjuk Kelod. pada malam apresiasi seni itu juga akan menampilkan sendratari karya terbaru serta penampilan seni tradisi dan modern lainnya. (B)

Related Posts