October 28, 2020
Ulasan

Tari Sekar Pudak, Maskot Desa Darmasaba – (Cerita Sang Koreografer)

Saya sungguh tidak menyangka bakal didapuk sebagai penggarp Tari Maskot Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Prosesnya sangat panjang yang dimulai sekitar Maret 2018 silam. Ketika itu, Perbekel Desa Darmasaba, I Made Taram menemui saya dan menyampaikan keinginan dari desa untuk membuat tari maskot desa.

Saya kemudian mencoba untuk mengumpulkan materi dengan menggali potensi-potensi yang ada di wilayah Desa Darmasaba, mempelajari sejarah desa, sosial budaya masyarakat, dan mengumpulkan cerita-cerita dari para tetua terkait kisah keberadaan desa. Pertengahan 2018, juga sempat melakukan rapat hingga 3 kali bertempat di kantor perbekel Desa Darmasaba. Rapat itu untuk membahas tema yang akan diangkat sebagai maskot desa. Rapat itu dihadiri oleh seluruh prajuru/perangkat desa, hingga tokoh-tokoh masyarakat. Namun dalam perjalanannya proses kelanjutan/penggarapan dari tema tersebut mengalami kemandegan, hingga penghujung tahun 2018 pun berakhir.

Memasuki pertengahan tahun, tepatnya Jumat, 17 Mei 2019 saya kembali diundang untuk mengikuti rapat pembahasan tema maskot desa di kantor Perbekel Desa Darmasaba. Saat itu hadir prajuru desa dan teman-teman yang dipercaya untuk menggarap tari maskot itu. Saya kembali didapuk untuk memaparkan ide dan tema yang sempat dibahas pada tahun sebelumnya. Saya akhirnya menyampaikan bahwa belum yakin (belum sreg) untuk mengangkat tema terdahulu. Saya teringat akan ceritera dari para tetua yang mengatakan, Desa Darmasaba dahulunya ditumbuhi tanaman pudak, sehingga disebut sebagai alas pudak.

Di tengah masyarakat istilah pudak sinegal memang familiar. Nah, teringat akan kisah tersebut, saya akhirnya mengusulkan untuk mengangkat bunga pudak sebagai maskot Desa Darmasaba. Bunga pudak memiliki aroma keharuman semerbak dan mencermikan filosofi kehidupan. Saya sangat sadar maskot itu haruslah ikonik, menjadi identitas, dan mampu mencermikan keberadaan masyarakat khususnya di Desa Darmasaba. Saya kemudian menyampaikan pemaparan itu, dan semua tokoh yang hadir begitu sumringah dan setuju. Peserta rapat merespon dengan baik, sehingga ditetapkan Bunga Pudak diangkat sebagai maskot desa.

Keesokan harinya, 18 Mei 2019, saya keliling desa khusus menelusuri ladang-ladang di desa itu untuk mencari bunga pudak. Akhirnya saya dapat menemukan kuntum bunga pudak di areal Balai Sekaa Tegalan “Gumuh Ayu Pudak Sinegal”, yang berada di wilayah Desa Darmasaba.

Pencarian bunga pudak ini sangat penting, sebelum menggarap tema bunga pudak sebagai tari maskot. Saya melihat, mengamati bentuknya, teksturnya, dan merasakan secara langsung aroma harumnya. Itu sebagai pengalaman empirik dan menjadi bekal penting dalam proses penggarapan tari. Saya kemudian melakukan proses penggarapan, mulai dari mengimajinasikan dan merancang konsep garapan Tari Maskot Sekar Pudak itu. Menata gerak hingga memikirkan konsep kostumnya.

Pada 28 Oktober 2019, Perbekel Desa Darmasaba kemudian mengeluarkan Surat Keputusan (SK) penunjukan tim penggarap maskot Desa Darmasaba yang terdiri dari, penata tari ditunjuk I Wayan Adi Gunarta, S.Sn., M.Sn saya sendiri, penata iringan I Wayan Agun Adi Putra dan pencipta lagu maskot Ida Bagus Surya Prabhawa M, SH. Saat itu pula, memutuskan launching Maskot Desa Darmasaba dilaksanakan pada 22 Desember 2019 bertepatan dengan Hari Ibu.

Saya langsung berkordinasi dengan tim penggarap untuk menyamakan persepsi, lalu merancang konsep supaya antara tari, musik iringan tari dan lagu bisa saling terkait. Saya kemudian berkoordinasi dengan Anak Agung Gede Agung Rahma Putra untuk merancang kostum, dan proses pembuatan kostum itu dibantu oleh I Made Sugiarta. Selanjutnya saya kembali berkordinasi dengan penata iringan tari untuk merancang struktur tari dan penggambaran musik iringannya. Saya kemudian berproses dengan memilih penari. Saya memilih 5 penari putri yang semuanya merupakan putri daerah.

Penciptaan tari itu benar-benar dapat berjalan mulai, 16 November 2019. Saya kemudian menyelenggarakan nuasen (upacara memulai berkarya tari dan tabuh) pada tanggal 19 November 2019 bertempat di Pura Puseh Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba. Nuasen untuk memohon kelancaran dan keselamatan selama proses penggarapan hingga pementasan. Karena waktunya sangat singkat, saya melakukan latihan lebih awal dengan membuat tabungan berupa pola-pola gerak tari, mulai dari papeson, pangawak, dan pangecet sesuai dengan imajinasi. Setelah iringan terbentuk secara bertahap, gerak tarinya pun bagian perbagian mulai diselaraskan. Cara seperti ini, sudah menjadi kebiasaan dalam mencipta sebuah tari baru. Saya merasa dengan cara seperti itu bisa melakukan penataan tari dengan lebih cepat.

Tari Sekar Pudak ini terbentuk setelah melakukan latihan bersama penari sebanyak 12 kali. Saya memiliki waktu sebanyak 18 kali latihan untuk merevisi dan menghaluskan garapan tari tersebut. Saya dan penari melakukan gerak bagian perbagian untuk mencari detail teknik dan menyeragamkan gerak tarinya. Dalam prose itu juga memantapkan ekspresi, serta menyelaraskan gerak tari dengan musik iringan. Mula-mula proses penggarapan tari dilaksanakan di rumah sendiri, lalu berpindah ke
wantilan Pura Puseh pada saat melakukan latihan gabungan antara penari dengan penabuh.

Tari Sekar Pudak akhirnya terbentuk dalam waktu 30 kali latihan termasuk gladi kotor dan gladi bersih. Pada 20 Desember 2019 melaksanakan latihan gabungan dengan memakai lamak dan oncer agar dapat merasakan dan terbiasa menggunakan kostum itu. Pada tanggal 21 Desember 2019 sore harinya mulai pukul 15.00 s/d 18.00 Wita, melakukan persembahyangan bersama di Pura Kahyangan Tiga (Puseh, Desa, Dalem), Pura Goa Petang, dan Pura Enteg Ghana yang ada di wilayah Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba. Malam itu langsung melaksanakan gladi bersih di depan kantor Perbekel Desa Darmasaba, hingga pukul 23.00 Wita.

Besoknya, tepat pada, 22 Desember 2019 pukul 20.00 wita, Tari Sekar Pudak sebagai maskot Desa Darmasaba resmi di Launching. Acara itu dihadiri oleh Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa, sekaligus mengukuhkan maskot Desa Darmasaba, yakni Sekar Pudak. Garapan Tari Sekar Pudak sebagai tari maskot Desa Darmasaba bisa tampil secara utuh dalam acara launching. Saya merasa bangga dan senang, karena karya kami tersebut mendapatkan apresiasi positif dari seluruh masyarakat, tamu undangan, dan penonton.

I Wayan Adi Gunarta

Tamatan S2 Penciptaan Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang lahir dan tinggal di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *