January 23, 2021
Agenda

Pasti Istimewa, Kuliah Umum Julie Taymor di Kampus ISI Denpasar

Julie Taymor seorang seniman kondang sejagat akan memberikan kuliah umum di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, mengawali perkulihan tahun 2020. Kehadiran seniman dari New York Amerika Serikat itu, bakal menjadikan kuliah umum di kampus seni itu sangat istimewa. “Materi yang diberikan akan menyentuh semua bidang seni yang ada di ISI Denpasar. Berbeda dengan kuliah-kuliah umum sebelumnya, materinya hanya fokus pada satu bidang ilmu saja,” kata Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST.,MA.
 
Julie, demikian sapaan akrabnya, jelas Prof. Dibia adalah seorang seniman multi talenta, sehingga mampu mengelola materi perkulihan dengan baik. Perkuliahan umum itu akan berlangsung pada tanggal 2 Januari 2020 bertempat di Auditorium Natya Mandala. “Julie tampaknya ingin mengingatkan warga kampus ISI Denpasar, betapa pentingnya para kreator seni untuk membekali diri dengan unsur-unsur budaya tradisional yang ada di sekitarnya,” paparnya.
 
Dalam kuliah umum itu, Julie yang ditemani oleh partnernya Elliot Goldental, seorang komposer ternama akan berbagi pengalaman dengan warga kampus, terutama dosen dan mahasiswa. Ia berbagi pengalaman, tentang bagaimana secara kreatif menggunakan unsur-unsur budaya Indonesia, terutama Jawa dan Bali ke dalam karya-karyanya. “Kita semua tahu, selama ini ada anggapan keliru yang beredar, bahwa untuk melahirkan karya seni modern atau kontemporer seorang kreator harus melepaskan diri dari ikatan budaya tradisi. Padahal tidak demikian,” jelas Prof. Dibia.
 
Dengan keberanian kreatif serta kecerdasan estetik yang tinggi, lanjut Prof. Dibia orang genius seperti Julie Taymor telah mampu mengolah unsur-unsur budaya tradisional, dari manapun asalnya untuk melahirkan karya-karya baru berkelas dunia. Karya-karyanya bahkan monumental, seperti Lion King, Tempest, Midnight Summer Dream dan lainnya. “Julie Taymor seorang kreator seni seperti Dasamuka yang memiliki banyak kepala, memiliki berbagai kecerdasan seni. Ia adalah seorang sutradara teater dan film, seorang pembuat topeng dan wayang, seorang pematung, seorang perancang kostum, seorang seniman animator, dan sebagainya,” paparnya.
 
Sejak meninggalkan Bali pada 1979 silam, kedatangan Julie ke ISI Denpasar untuk napak tilas perjalanan hidupnya selama empat tahun melakukan pengembaraan budaya di Pulau Dewata ini. “Setelah beberapa lama bereksplorasi seni di Jawa, Julie datang ke Bali pada tahun 1976 untuk melakukan eksperimen seni dengan sejumlah seniman di Bali. Julie sering berolah seni di ASTI (ISI Denpasar) yang ketika itu masih meminjam tempat di Gedung Kokar-Bali, di Jalan Ratna Denpasar,” kenang Prof. Dibia.
 
Selama di Bali, Julie banyak bekerja sama dengan seorang seniman asal Tampaksiring bernama I Made Pasek Tempo juga dengan anak-anaknya. “Dengan memasukkan unsur-unsur budaya Bali yang ia amati di Trunyan Bangli, di Bugbug Karangasem, dan di Petitenget Badung, Julie melahirkan sebuah karya yang diberi nama Teater Loh (Loh Jinawi) garapan teater yang berbicara tentang kemakmuran,” pungkas Prof. Dibia. (AD)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *