January 23, 2022
Kreasi

Gus Sena Itu Tantra di Film The Seen and Unseen

Melihat penampilannya yang polos dan sederhana, orang pasti tak mengira kalau remaja itu seorang pemain film layar lebar. Namanya, Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena sebagai pemeran utama pria dalam film berjudul The Seen and Unseen karya sineas muda berbakat Kamila Andini. Film inilah yang membawanya bertandang ke Toronto, Canada untuk menghadiri Toronto International Film Festival. “Saya tak menyangka bisa sebagai pemain film, bahkan dapat ke luar negeri lagi,” katanya kalem.

The Seen and Unseen yang dinominasikan dan ditayangkan di World Premiere Festival Film itu menjadi perhatian dunia, khususnya dalam perfilman. Film yang dibuat di Pulau Dewata itu ditampilkan dalam ajang festival film di beberapa negara, seperti Korea, Jepang, dan Singapura. The Seen and Unseen adalah film Asia yang diputar di Toronto International Film Festival (TIFF). “Jujur, saya merasa bangga dan senang dengan semua ini. Saya sempat mengunjungi Niagara Falls yang fenomenal, melihat Mapple Tree yang daunnya terdapat di bendera negara Canada,” ceritanya senang.

Gus Sena demikian sapan akrabnya, sangat menjiwai semua kegiatannya itu. Sebut saja dalam World Premiere sebuah acara Q and A, dimana sutradara dan pemain film ditanya (sejenis tanya jawab) seputar film tersebut. Sebagai salah satu pemain inti, ia ditanya tentang perasaannya memerankan tokoh Tantra, tentang cerita dan aspek-aspek budaya Bali yang muncul dalam film tersebut. “Saya ditanya kemunculan tonya (mahluk halus di Bali), diminta penjelasan saat adengan memainkan wayang, serta peran keluarga. Saya jawab aja apa adanya, mereka kemudian tertawa,” bebernya.

Menurut bocah asal Karangasem ini, untuk bisa terlibat sebagai pemain film itu tidak mudah, melainkan melewati proses yang panjang. Mulai dari mengikuti berbagai pelatihan, hingga sampai pada proses casting. Gus Sena kemudian dipercaya memerankan sebuah tokoh dalam film layar lebar berjudul The Seen and Unseen itu. Film inilah yang membawanya bertandang ke Toronto, Canada untuk menghadiri TIFF dalam waktu tempuh berjam-jam. Ajang bergengsi itu juga yang membuatnya berkunjung ke berbegai Negara. Ida Ayu Arya Satyani, koreografer dalam film itu memiliki andil besar atas kemampuan Gus Sena dalam mengikuti dunia peran.

Anak kelahiran Denpasar 26 Januari 2004 itu mengaku, tidak pernah bercita-cita menjadi pemain film. Ia hanya ingin menjadi seniman kreatif, karena seniman itu adalah orang yang paling berbahagia dalam hidupnya. Selain bisa menghibur orang lain, juga bisa menghibur diri sendiri. “Saya hanya ingin menjadi penari yang baik, penabuh yang baik dan pelaku seni tembang yang baik. Karena itu, saya hanya berlatih dan berlatih saja,” ungkap putra sulung dari pasangan Ida Bagus PutuPanca Mahardika dan Ida Ayu Wayan Sri Agustini ini enteng.

Kehidupan Gus Sena memang tidak jauh dari kegiatan berkesenian. Sejak ada dalam kandungan hingga bayi, ia sudah biasa mendengar gamelan di Sanggar Maha Bajra Sandhi (MBS). Ia selalu dininabobokan oleh gamelan-gamelan klasik dengan nada-nada yang memang beda. Umur 3,5 tahun, ia mulai mengikuti kegiatan MBS, seperti belajar menari. Ia kemudian sering terlibat pada pagelaran. Setelah umur 5 tahun, ia mulai aktif megamel. “Saya mulai mengenal gamelan Bali dengan memainkan Jegog dalam Pakarana, barungan gamelan gaya MBS. Saat itu memainkan tabuh iringan Tari Rejang Revolusi,” kenangnya.

Bakat menari itu, tak hanya disajikan untuk ngayah, tetapi juga dalam ajang lomba sebagai upaya untuk mencari pengalaman lebih, serta memupuk rasa percaya diri. Ia sempat meraih juara III saat mengikuti lomba tari laki-laki antar TK se-Kota Denpasar. Seiring perkembangan teknologi, Gus Sena kemudian banyak belajar secara otodidak melalui internet. Maklum, di lingkungannya ada banyak seniman tari yang memberikan kesempatan untuk lebih mengasah kemampuannya dibidang seni tari. Apalagi, sentuhan tangan lembut Ida Ayu Wayan Arya Satyani, penari dan sang guru di MBS yang banyak membentuk karakternya.

Kepiawaianya memainkan alat gamelan, terasah di Sanggar MBS yang memberikan Gus Sena kesempatan yang lebih. Ia juga banyak mendapat pendidikan dari Sang Maestro-Ida Wayan Oka Granoka yang menanamkan konsep berkesenian melalui gamelan-gamelan Yuganadhakalpa. Gus Sena yang juga mengidolakan Ida Granoka itu memiliki pemahaman yang unik tentang seni. Bekal ilmu yang diberikan oleh Sang Maestro itu, membentuk dirinya menjadi anak yang memiliki kepekaan terhadap nada, sebuah instrumen music. Karena itu, siswa SMA Negeri 3 Denpasar ini juga menguasai alat music yang beragam, seperti gitar, keyboard, cajon, penting, rindik, gender, genggong, dan biola. (AD/Ar)

Related Posts