August 11, 2020
Ulasan

Koreografer Muda Dalam Ujian Koreografi Akhir Prodi Tari ISI Denpasar

Koreografer muda Bali memang lihai dalam mencipta tari. Olah seni selalu kreatif dan menarik untuk disaksikan, maka tidak tidak salah kalau ditunggu-tunggu oleh pencinta ataupun penikmat seni. Kekuatannya, ada pada seni tradisi dan budaya yang selalu menjadi sumber inspirasi dalam penciptaannya. Tentu, berbekal daya imajinasi dan jiwa inovatif yang tinggi, para koreografer muda itu seakan berlomba untuk menciptakan serta mempertunjukan hasil karya cipta terbaiknya. Hasilnya, kemampuannya dalam berolah gerak dan berolah rasa terus bertumbuh dan semakin matang seiring dengan proses perjalanan berkesenian atau kesenimanan yang dilakukannya.

Mau bukti? Lihat saja karya para koregrafer muda dalam Ujian Koreografi Akhir Program Studi (Prodi) Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Selama dua hari, mulai tanggal 29 – 30 Januari 2020, Gedung Natya Mandala ISI Denpasar sebagai tempat pelaksanaan ujian itu telah mencatat para koreografer-koreografer muda berbakat. Ada sebanyak 24 (dua puluh empat) karya tari yang dipertunjukan dihadapan para dosen, penikmat seni ataupun masyarakat umum. Karya-karya mereka juga sangat beragam, terdiri dari tari tradisi dan kontemporer.

Para koreografer muda itu merupakan Mahasiswa Semester VII Prodi Tari ISI Denpasar yang secara bergantian menunjukan kreativitas dalam mencipta. Pada hari pertama, menampilkan; Wiku Murti karya Hana Yustiani, Nyomya karya Ni Kadek Ayu Pande Sintya Dewi, Fantasi Mexico karya Ni Made Yunita Dewi, Pecangakan Bana Rana karya I Putu Agus Satyawan, Kerthaning Bumi karya I Gusti Ayu Mas Indah Purnamasari, Nyawang karya Made Angelia Mahadewi, Ballare karya I Wayan Irpan Pernanda, Satyeng Sedulur karya I Gusti Ayu Wira Astuti, Kamanala karya Ni Ketut Candra Lestari, Tudung Muakhi karya Ida Ayu Pradnya Wulandari, Putri Nyale karya Nyoman Prawani Wulantari, dan Abirawa karya I Wayan Adi Candra Negara.

Sedangkan pada hari kedua, menampilkan; Siat Peteng karya Ni Putu Vikky Aldelia, Rengreng Wastra karya I Made Widi Artha, Mapruput karya Ida Ayu Triana Titania Manuaba, Un-Balance karya I Kadek Yoga Aditya, Sukupupu karya I Putu Wibi Wicaksana, Luk Pitu karya Pande Putu Rama Wijaya, Nyi Ageng Serang karya Ni Luh Putu Kristina Yanti, Tatikesan karya Ni Putu Ari Sidiastini, Matiti Suara karya I Gede Suta Bayu Bagas Karayana, Anggada Duta karya Anak Agung Gede Angga Mahaputra, Lara Duhita karya Putu Shinta Sandrina, dan Mangoncang karya Ni Luh Nita Kusuma Dewi.

Menariknya, dari semua karya seniman akademis selalu ada yang beda. Sebut saja Tari Rengreng Wastra. Judul tari ini terdiri dari kata Rengreng yang berarti merancang dan wastra berarti kain. Karya ini terinspirasi dari proses pembuatan adi busana yang dilakukan oleh para designer, mulai dari merancang busana dengan bahan kain tenun ikat lembaran, sampai terwujud menjadi sebuah karya adi busana. Proses pencarian ide, keindahan kain, mengukur, memotong, menjarit, hingga menjadi busana yang indah dituangkan ke dalam bentuk gerak tari yang ekspresif, dinamis, serta menampilkan kesan yang elegan dan glamor. Karya tari ciptaan I Made Widi Artha ini mengungkapkan tentang proses terciptanya Adi busana melalui suatu tahapan yang mengutamakan detail dan ketelitian dalam pengerjaannya. Keindahannya terpancar karena rasa, keagungannya tersirat karena hati yang tulus.

Karya Tatikesan, memiliki arti gerakan wayang, dalam bahasa jawa istilah tatikesan disebut sabetan. Inspirasinya dari wayang kulit yang manampilkan visual dua dimensi. Wayang merupakan seni klasik bernilai estetik tinggi dan dapat dijadikan sebagai cerminan baik buruknya kehidupan manusia. Seni wayang kulit selalu manampilkan lakon dan cerita yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral, filosofi, dan nilai religius yang dapat dijadikan sebagai guru kehidupan. Bentuk dan gerak-gerak wayang kulit seperti nabdab gelung, nabdab gelang kana, sembahan, nanjek, piles, petangkilan, dan gerakan berjalan ditransformasikan ke dalam bentuk gerak tari yang menampilkan kesan unik.

Ni Putu Ari Sidiastini selaku koreografer menampilkan kesan wayang dengan gerakannya yang meliuk, mengalir, dan patah-patah tampak dalam bentuk tiga dimensional lewat medium tubuh penari. Karya ini didukung dengan tata kostum atau busana tari yang juga mengimplementasikan ornamen-ornamen hiasan wayang kulit. Penataan cahaya yang ditata apik menggunakan pencahayaan special light dan backlight yang dipadukan dengan proyeksi video mapping, menjadikan tubuh penari tampak membentuk bayangan-bayangan siluet serta menampilkan kesan yang dramatis.

Demikiam pula dengan karya Tari Mapruput ciptaan Ida Ayu Triana Titania Manuaba. Karya ini terinspirasi dari aktvitas meruput siap. Aktivitas meruput siap adalah salah satu bagian dari aktivitas tajen, yaitu memasukkan kedua ayam aduan ke dalam sangkar ayam atau guwungan siap secara bersamaan. Karya ini diwujudkan ke dalam bentuk tari kreasi yang ditarikan oleh 7 (tujuh) orang penari putri dan memvisualkan karakter ayam. Karya Tari Mapruput, merupakan wujud sumbangsih dari koreografer terhadap khasanah seni tari di Bali, dimana sang koreografer merupakan cucu dari maestro Tari Kebyar Duduk Blangsinga, yakni Ida Bagus Blangsinga. Dalam pertunjukannya, Karya Tari Mapruput menampilkan suasana riuh dalam aktivitas matajen yang divisualkan lewat gerak-gerak simbolis serta menggunakan properti guwungan siap untuk dijadikan sebagai identitas dan ciri khas karya.

Penampilan seluruh karya yang disajikan dalam Ujian Koreografi Akhir, pada prinsifnya telah tertata secara rapi dengan kekhasannya masing-masing sebagai suatu bentuk presentasi estetis yang artistik dan memiliki nilai originalitas. Nilai originalitas merupakan hal yang sangat penting dan harus dimiliki oleh sebuah karya seni, khususnya tari. Originalitas ialah kadar nilai kebaruan suatu karya seni, baik dari segi ide atau gagasan penciptaan maupun bentuk kemasannya yang membedakan antara satu karya dengan karya cipta lainnya.

Karya Tari ciptaan para koreografer muda tersebut sejatinya merupakan embrio dari karya yang akan diajukan pada Ujian Tugas Akhir, guna menyelesaikan jenjang pendidikan Strata 1 (S1) pada Program Studi Tari, ISI Denpasar. Koreografer-koreografer muda ini merupakan “aset berharga” yang dimiliki Bali dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni, baik di masa kini maupun masa depan. Kiprah dan eksistensi dari para koreografer muda ini akan teruji seiring perjalanan waktu, dalam menghiasi jagat seni pertunjukan lewat karya-karya inovatif ciptaanya.

I Wayan Adi Gunarta

Dosen Program Studi Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Lahir dan Tinggal di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *