October 29, 2020
Ulasan

Bulan Bahasa Bali, Teater 3 Garap Kisah Cinta Made Sarati dan Dayu Priya

Mereka adalah pregina muda berbakat. Saat tampil di atas panggung karakter dan ekspresinya begitu kuat. Dialognya lugas, jelas didengar dan mudah dimengerti. Penampilannya tidak kaku, karena masing-masing pemain sudah menguasai peran serta panggung. Mereka juga kreatif, sehingga cekatan dalam mengekplorasi lawan main. Music iringannya tampak minimalis. Artinya disamping memakai alat music yang sedikit, tidak semua adegan harus diisi music. Hal itu membuat pertunjukan menjadi indah, dan pesanpun sampai.

Itulah gambaran sesolahan teater berjudul “Kilang” yang disajikan Teater 3 SMA Negeri 3 Denpasar serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2020 di Panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (5/2). Kilang yang berarti cinta yang hilang, merupakan kisah cinta I Made Sarati dan Dayu Putu Priya ketika melancaran ke Sasak. Kisah teater itu disadur dari sebuah Novel berbahasa Bali karya I Wayan Bhadra dengan nama pena Gde Srawana tahun 1978.

Sesolahan berdurasi 1,5 jam itu didukung sebanyak 12 pemain inti, dan 28 tim crew yang terdiri dari pemain musik, vocal dan stage crew. Teater ini disutradari oleh Putu Ivan Bagaskara dan I Komang Nara Dhananjaya bertindak sebagai pimpinan produksi, penggarap dan penyadur, serta Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Denpasar Ida Bagus Sudirga selaku penanggung jawab. Sementara sebagai pendamping adalah guru-guru SMA Negeri 3 Denpasart yang salah satu, I Wayan Phala Suwara.

Teater itu mengisahkan, seorang pemuda bernama I Made Sarati yang berteman sekaligus sebagai abdi dari Dayu Puti Priya. Pria ganteng dan rendah hati itu sudah berteman sejak lama, ketika mereka belajar di Bandung. Perkenalan mereka berawal dari ringan tangan Made Sarati kepada Dayu Priya. Saat itu, ketika hujan lebat, Dayu Priya kecelakaan ditabrak yang hampir terlindas mobil. Saat Made Sarati melihatnya, ia kemudian membantunya. Atas bantuan itu, Dayu Priya merasa berhutang budi. Hal itu membuat perteman mereka setia sampai sekarang.

Pada suatu hari, Made Sarati dan Dayu Priya jalan-jalan atau berwisata ke Sasak. Mereka ditemani satu abdi perempuan bernama Luh Sari. Mereka bertiga kemudian menumpang kapal laut untuk bisa menyeberang ke Sasak. Mereka bertemu dengan penumpang kapal yang sangat banyak. Penumpang itu terdiri dari nyonya-nyonya, tuan-tuan, anak alit, anak kelih dan dari masyarakat biasa. Mereka berlayar hingga malam. Berbagai ceritera lahir dari mulut mereka. Ada yang mengatakan capek, sedih, dan ada yang bercanda sambil tertawa.

Setelah sampai di Sasak mereka menginap di Pasanggrahan Suranadi. Dalam persahabatan itu, kemudian muncul getar cinta. Namun saya, orang tua Dayu Priya yakni Ida Bagus Kumara ingin menjodohkan Dayu Priya dengan Ida Kade Ngurah Warmadewa dari Geria Sunia. Dayu Priya tidak menyukai Ida Kade Ngurah memang tidak ada rasa padanya. Walau tidak sampai pada pernikahan, namun cinta mereka tetap setia bahkan tak tergantikan.

Teater 3 ini menggunakan bahasa Bali dalam setiap dialognya. Untuk memberikan suasana dalam setiap adegan, memakai musik iringan perbaduan antara music diatonic dan pentatonic, seperti suling, gangsa, jembe kecil, gitar dan alat musik lainnya. Walau mengangkat kisah roman, namun unsure banyol (lucu) menjadi bumbu dalam setiap adegannya. Sebut saja pada adegan Luh Sari yang kental dengan dialek bahasa Bali lumrah, jongos dan manager penginapan yang menggunakan bahasa dan dialek Jawa, sering sekali mengundang tawa.

Para penggarap teater ini jelas sangat lihai, perjalanan Made Sarati, Dayu Priya dan Luh Sari menyeberangi laut digambarkan dengan siluet yang menggunakan kelir. Suasana penumpang disajikan lewat gerak tari yang disorot proyektor berwarna warni. Suasana dilaut didukung pula dengan iringan music, seperti laju kapal laut. Ketiganya kemudian sampai di pelabuhan lalu mencari penginapan terdekat.

Pergantian setiap babak, dikelola dengan apik, sehingga suasana sesolah menjadi lebih kreatif. Ketika pergantian adegan, dimana para crew mengganti setting panggung dengan memindahkan property, para penabuh justru memainkan gending-gending menarik dipadu dengan lagu-lagu unik. Para pemain tak hanya memanfaatkan kalangan, tetapi juga tempat penabuh yang berada di sebalah kiri panggung itu juga digarap menjadi tempat pertunjukan.

Suasana romantis dalam adegan Made Sarati dan Dayu Priya dibangun dengan apik, karena didukung suara music, setting panggung dan cahaya lampu. Kedua pemain ini sangat menjiwai perannya masing-masing, sehingga selalu mengundang tepuk tanga penonton. Sambutan paling meriah, ketika Made Sarati dan Dayu Priya yang akan meninggalkan tanah Sasak berpelukan sangat erat, sebagai bukti cinta mereka tak tergantikan. Walau lampu sudah dimatikan sebagai tanda sesolahan telah usai, namun penonton masih saja bertepuk tangan. (B/*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *