October 29, 2020
Ulasan

Bulan Menari Bertabur Bintang

Saya merasa senang dan bangga dengan pagelaran seni bertajuk Bulan Menari yang digelar di Wantilan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar setiap tanggal 28. Bulan Menari yang sudah berlangsung selama setahun itu sudah mampu menjadi wadah bagi penikmat dan pencinta seni, khususnya dibidang seni tari. Ajang pentas seni itu pertama kali dicetuskan oleh dosen seni tari yaitu I Gusti Ngurah Sudibya bersama dosen-dosen seni yang lainnya.

Idenya sangat mulia, yaitu memberikan ruang berkreatifitas bagi mahasiswa ISI Denpasar untuk melahirkan karya-karya baru, khususnya dibidang seni tari. Disamping itu, kurangnya wadah berkreatifitas bagi mahasiswa ISI Denpasar, sehingga ajang Bulan Menari diharapkan mampu memberikan inspirasi untuk melahirkan sebuah karya seni. Jujur, saya juga terdorong untuk bias menyajikan seni baru di ajang itu.

Bulan Menari ini berdiri pada tanggal 28 Januari 2019. Berdasarkan informasi yang saya dapat, pemilihan tanggal 28 itu dikarenakan Kampus ISI Denpasar diresmikan pada tanggal tersebut, sehingga Bulan Menari ini dilaksanakan setiap tanggal 28. Setiap Bulan Menari digelar, selalu menampilkan 5 karya seni saja. Selainh menyajikan hasil karya mahasiswa, juga menampilkan karya tari dari alumnus serta menampilkan karya dari luar kampus ISI Denpasar.

Nah, berbeda sekali hajatan Bulan Menari yang genap berusia satu tahun. Untuk memperingati 1tahun Bulan Menari tepatnya pada tanggal 28 Januari 2020, dibuat Edisi Spesial yaitu Bulan Menari Bertabur Bintang. Maksud dari bertabur bintang itu, karena para Penyaji yang berasal dari seniman alam yang sudah sangat terkenal di seantero jagat Bali. Senimkan senior itu berkolaborasi bersama para Dosen Jurusan Tari ISI Denpasar.

Para bintang yang tampil yaitu Prof. Dr. I Made Bandem, Dr. Ni Luh N. Swasthi Widjaja Bandem, Tjok Istri Putra Padmini, SST. M.Sn., Dr. Ni Made Wiratini, SST., MA., Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST., MA., A.A. Ayu Kusuma Arini, SST., M.Si., Ni Nyoman Manik Suryani, SST., M.Si., Ni Nhyoman Kasih, SST., M.Sn., Gusti Ketut Ayu Suandewi, SST., M.Si., Dr. Ni Made Arshiniwati, SST., M.Si., Ni Wayan Suartini, SSn., A.A. Mayun Artati, SST., M.Sn., Dr. I. A. Trisnawati, SST., M.Si., Dr. I.A. Wimba Ruspawati, SST., M.Si., Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si., Ni Komang Sri Wahyuni, SST., M.Sn., Dra. Dyah Kustiyanti M.Hum., dan Sulistyani, S.Kar.,M.Si.

Pada kesempatan itu menampilkan Tari Belibis dan Tari Jaran Teji yang dibawakan oleh para Dosen ISI Denpasar, Tari Gruyuh yang diciptakan khusus oleh Ibu Dyah Kustiyanti, Tari Panji Semirang dibawakan oleh Ibu Kusuma Arini, Tari Oleg Tamulilingan yang dibawakan oleh Ibu Cok Padmini dan dilanjutkan oleh sepasang seniman tari yaitu Bapak Prof. Bandem dan Ibu Swasthi Bandem, Ttari Trunajaya yang dibawakan oleh Ibu Wiratini, dan ditutup dengan Tari Topeng Legod Bawa yang dibawakan oleh Bapak Prof. Dibia.

Dari semua tarian yang sudah ditampilkan merupakan tarian yang berasal dari Bali, kecuali Tari Gruyuh yang diciptakan khusus oleh Ibu Dyah Kustiyanti untuk memperingati Bulan Menari yang ke-1. Tari ini menggambarkan seorang ibu ketika usia memasuki umur tua tubuh menjadi renta, dan tubuh menjadi tidak seimbang. Saya dan teman-teman menjadi tertarik pada karya ini adalah ada unsure humoris pada bagian akhir karyanya.

Ibu Dyah Kustiyanti tersenyum dan memperlihatkan giginya yang berwarna hitam, sontak seluruh penonton tertawa. Saya pada awalnya, terkejut melihat beliau terjatuh namun berubah menjadi tertawa karena melihat beliau memperlihatkan giginya. Tari baru ini dibawakan bersama Ibu Sulistyani yang merupakan Ketua JurusanTari.

Secara tidak langsung pesan dari Edisi Spesial Bulan Menari ini sangatlah bermakna bagi seluruh penonton. Terutama anak muda untuk menjaga dan melestarikan Seni dan Budaya yang ada. Saya yang semula hanya menonton saja, menjadi belajar untuk mengapresiasi. Saya banyak mendapatkan pelajaran dari Seniman Alam yang ada di Bali itu. Saya berharap banyak lagi yang terinspirasi, sehingga Taksu Bali akan tetap terjaga.

Putu Yuliantika Ardhaswari

Kelahiran Denpasar
Mahasiswa Jurusan Tari atau Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *