January 22, 2022
Ulasan

Di Bulan Bahasa Bali 2020 “Jaratkaru” Mencari Cinta

Jaratkaru, seorang wiku mendapatkan ijin untuk mencari seorang pendamping hidup. Hal itu, sesuai dengan janji yang ia ikrarkan kepada roh leluhurnya ketika ditemuinya saat tergantung pada ujung bambu petung di Ayastanasthana. Keturunan adalah keberlanjutan pada aspek sekala, begitu juga pada aspek niskala (atma krtih). Hal tersebutlah yang dikejar oleh Sang Jaratkaru untuk membebaskan roh leluhurnya dari siksaan. Cerita itu menjadi sangat menarik, ketika dibungkus dengan konsep kekinian yang menggabungkan seni tari, vocal, tabuh, dan proyektor unsure modern menjadi cerita berbingkai.

Itulah sesolahan seni sastra berjudul “Jaratkaru” yang disajikan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar berkolaborasi dengan Sanggar Sekdut Bali PAC serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020. Sesolahan teater tari yang didukung 40 penari dan penabuh itu mampu membuat penonton terpesona. I Gede Tilem Pastika Pangripta selaku sutradara tampak lihai dalam menggarapnya. Dibantu Praptika Kamalia Jaya sebagai penggarap tabuh, ia menyajikan cerita secara utuh, namun kemasannya diwarnai inovasi yang bersifat kekinian. Teater tari berdurasi 1 jam itu dipentaskan di Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 12 Pebruari 2020.

Diawal pentasnya, memasukan tambahan unsur musik dan lagu-lagu hit kekinian. Anak-anak muda yang dengan konsep kekinian sebagai gambaran suasana pasar. Di sana ada pedagang dan pembeli yang tengah tawar menawar. Nah, disana kemudian muncul Jaratkaru mencari cinta, karena sebagai seorang wiku telah diperkenankan untuk ngelebar kewikuannya dan memasuki grahasta asrama agar memiliki keturunan. Pasar adalah tempat para wanita itu berkumpul, sehingga adegan pasar itu tak hanya menjadi tempelan, namun menjadi satu kesatuan dari garapan itu.

Adegan itu memang perlu ada, karena menjadi sebuah kebutuhan alur dramatiknya agar tidak monotun. Unsur komedi dan banyolan, dimainkan dengan kreatif dan mendidik. Para pemain tak hanya melucu, melainkan juga mengulas makna, arti dari pada setiap kata yang dilontarkan. Hal itu, membuat sesolahan menjadi lebih lues dan tidak menjadi kaku. Para penari begitu lihai melucu, namun mereka tetap pada kontek, bahkan tidak merubah secara konseptual cerita Jaratkaru itu. Maklum, mereka adalah mahasiswa dan dosen yang setiap hari berhadapan dengan ajaran sastra dan agama.

Menariknya lagi, sang sutradara memasukan gerakan yoga pada garapan itu. Maklum, IHDN juga memiliki jurusan pendidikan yoga, sehingga sangat perlu unsur itu dimasukan. Kampus pendidikan Agama Hindu itu, sehingga dalam penyajiannya dominan dengan garapan tari bersumber pada mudra. Artinya, lembaga perguruan tinggi agama ini supaya tidak menyelewengkan dari ranahnya. IHDN memiliki ranah agama, maka pertamen dan literasi yang ada di agama itu tetap dibawa dan ditransfer pada pertunjukan seni. Sebut saja diantaranya memasukan usur menyanyi atau tembang.

Pada adegan Jaratkaru bertemu leluhurnya para penari menggunakan property bambu yang panjang, bambu secara utuh. Memang, jarang ada pertunjukan yang memakai bambu secara utuh. Kalau memakai sepotong-sepotong memang biasa. Penambahan unsur wayang yang dibantu dengan sinar proyektor menggambarkan leluhur Jaratkaru itu tergantung, sehingga ada dimensi berbeda pada adegan itu. Jaratkaru di mensi dunia nyata dan leluhurnya ada didunia tidak nyata.

Dalam garapan itu, sutradara sengaja tidak menyimpulkan pesan yang ada. Tetapi, dari cerita itu sudah disebutkan, seseorang atau yang beragama Hindu harus memiliki pretisentana, yaitu keturunan. Bukan hanya terhitung keturunan kandung, tetapi ada pewarisnya karena itu yang akan memberikan sembah pada lelangit dan leluhur. “Kami membahasnya dengan baik, sehingga tidak terjadi penyelewengan makna. Obrolan orang awam, apa itu keturunan, apa itu pertisentana yang akan melanjutkan keturunan dan sebagainya. Itulah yang kami ingin sampaikan pada garapan teater tari ini,” ungkap I Gede Tilem Pastika Pangripta.

Konsep dan bentuk garapan itu, ingin menawarkan sesuatu yang baru. Sutradara tidak mau ribet-ribet mengajarkan sesuatu yang baru, melainkan memanfaatkan kopetensi yang dimiliki oleh para pemain itu sendiri. Karena itu, memasukan lagu-lagu karena diantara pemain itu ada yang piawai menyanyi, ada yang bermain gitar, dan teater sehingga itu yang digabung. Ide cerita yang diberikan panitia itu, tidak disajikan secara mentah, melainkan dikemas dan diolah sesuai dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki. Disitu tampak, visual dan bentuk, sepenuhnya diserahkan kepada sutradara.

Hal itu juga sesuai dengan pengakuan I Gede Tilem Pastika Pangripta, kalau dari cerita Jaratkkaru itu tidak ada perubahan, tetapi sebagai sutradara memiliki kuasa untuk menginterpretasi untuk memasukan kembali imajinasi sutradara agar patahan adegan dan alur dramatiknya tidak patah. “Lama penggarapannya sekitar 3 minggu, sektoral dulu, tari tabuh dan ngadungang terakhir. Kendalanya, biasa kalau mengurus orang banyak pasti ada yang tidak hadir. Artinya kekompakan itu yang perlu ditingkatkan,” papar Dosen PGSD Dharma Acarya IHDN Denpasar. (B/AD/AR)

Related Posts