November 28, 2021
Kreasi

Dari Made Taro; “Halo Tuan”

Nyatua (bercerita) tanpa diisi dengan permainan terasa ada yang kurang. Kalau permainan tanpa diisi dengan satua (cerita), juga terasa hampa. Nah, bagaimana kalau satua dipadukan dengan permainan tradisional? Nah itu yang pas, mendengar langsung mempratekan, sehingga tidak merasa bosan serta semua orang bisa terlibat. Itulah yang dilakukan Maestro dongeng Made Taro dalam gelaran “Bulan Bahasa Bali 2020” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 16 Pebruari 2020.

Saat itu, Made Taro mengangkat “satua” atau cerita berbahasa Bali berjudul “Halo Tuan” yang dipadukan dengan sejumlah permainan dan lagu tradisional Bali. sajiannya itu tidak hanya sekedar tontonan atau permaian, tetapi juga sebagai media untuk belajar bahasa Bali. “Saya rasa, mengajarkan bahasa Bali melalui permainan dan gending-gending (lagu-lagu), jauh akan lebih diingat oleh anak-anak,” kata Made Taro usai pentas bersama anak-anak Sanggar Kukuruyuk Denpasar.

Permainan “Halo Tuan” mengisahkan seorang wisatawan mancanegara yang sedang melancong ke Bali. Ia ingin melihat “tajen” atau “cock fighting”. Tetapi pemandu wisata menjelaskan bahwa, di Bali tidak ada tajen, yang ada adalah permainan tradisional (plalian) Siap-Siapan. Wisatawan itu tertarik dan akhirnya bukan saja menyaksiakan Siap-siapan, tetapi juga menikmati “plalian” yang lainnya. Sejumlah permainan tradisional lainnya juga dipentaskan, seperti Kedis-kedisan, Siap-siapan, Dadong Dauh, Ngalih Roang, dan Macan Mebaju Kambing.

Dalam pentas kali melibatkan 27 anak-anak dari SD 8 Dauh Puri, Denpasar sebagai pemain. Sementara tukang “satua” atau pendongeng oleh Kadek Natia (SD Saraswati 3 Denpasar), serta diiiringi 8 orang penabuh yang membawakan alat musik cungklik, kendang, cengceng, suling dan tumbung. Made Taro memainkan alat musik cunglik yang suaranya lirih dan manis.

Pria kelahiran tahun 1939 itu tidak memungkiri anak-anak dan generasi milenial Bali saat ini cenderung mengalami kesulitan untuk berbahasa Bali dibandingkan berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Inggris. Memang, di sekolahnya anak-anak diajarkan bahasa Bali, tetapi sayangnya bahasa Ibu ini tidak digunakan sehari-hari. “Bahasa Bali itu, sebagai media informasi yang ada dan diterima anak-anak juga sebagian besar bahasa Indonesia,” ucapnya.

Melalui garapan yang ditampilkan sekitar 45 menit itu, pihaknya mengutamakan penghayatan anak-anak terhadap nilai-nilai moral seperti kejujuran, disiplin, kebersamaan, percaya diri dan kemandirian, di samping juga pentingnya menjaga kelestarian alam. Seperti halnya permainan Macan Mebaju Kambing itu yang menceritakan seekor macan (harimau) yang ingin mencari mangsa dengan berpura-pura mengenakan baju kambing.

Ekosistem hutan yang rusak, sang macan terpaksa turun gunung seteleh melihat kambing yang sedang asyik bermain. Supaya dapat mangsa, macan itu mengganti bajunya menjadi baju kambing dan ikut bermain serta memangsa kambing. Kambing lainnya akhirnya melapor kepada tuannya agar mencari harimau (macan) itu yang telah berbuat keonaran. Barulah akhirnya disadari karena ulah manusia yang merusak hutan yang menjadi habitat macan, sehingga macan sampai turun gunung. (B/AR)

Related Posts