September 19, 2020
Pernik

Di Bulan Bahasa Bali 2020, Siswa Berlatih Jadi “MC”

Gelaran “Bulan Bahasa Bali 2020” mengajak para siswa-siswi SMA/SMK dan mahasiswa untuk belajar dan berlatih menjadi pembawa acara, Master of Ceremony (MC) berbahasa Bali yang baik dan benar. Workshop yang berlangsung di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Minggu 16 Pebruari 2020 itu menghadirkan dua narasumber yakni Ida Ayu Frischa Mahayani (reporter sekaligus redaktur berita berbahasa Bali di LPP RRI Denpasar) dan Tjokorda Istri Priti Mahendradevi (reporter dan presenter LPP TVRI Denpasar) dan Krialoka sebagai pemandu.

Tjokorda Istri Mahendradevi yang akrab dipanggil Cok Devi menekankan kunci sukses menjadi pembawa acara atau MC berbahasa apapun itu adalah adanya koordinasi dan konfirmasi, sehingga tidak sampai ada kesalahan atau kekeliruan dalam penyebutan nama dan jabatan tokoh-tokoh penting yang hadir sebagai undangan maupun pengisi acara pokok dari acara yang dipandu. “Lewat koordinasi dan konfirmasi, juga dapat menjamin kelancaran acara yang dibawakan sesuai dengan urutan acara yang sudah dirancang penyelenggara,” ungkapnya.

Untuk bisa sukses menjadi MC, jelas Cok Devi harus mempunyai pengalaman dan pengetahuan, punya imajinasi, juga rasa humor. MC perlu menyelipkan kata-kata lucu agar acara yang dibawakan itu tidak membosankan. Selanjutnya pembawa acara juga harus menunjukkan antusiasmenya supaya acara yang dibawakan itu lebih hidup. “Yang paling penting adalah vokal yang mencakup volume suara, intonasi, penekanan, kecepatan dan sebagainya. Penting juga memperhatikan diksi,” ungkapnya.

Sementara itu, Ida Ayu Frischa Mahayani menyebut peranan seorang MC itu begitu penting karena sukses tidaknya acara terletak di tangan pembawa acara. MC tidak boleh hanya sekadar membawakan acara, kalau hanya demikian, maka acara yang dibawakan tidak akan ‘hidup’. Pembawa acara yang profesional, harus siap untuk berbagai jenis acara yang dibawakan, baik itu acara formal, nonformal, maupun kombinasi keduanya. “Proses latihan atau gladi sebelum membawakan acara juga penting untuk kesuksesan dan kelancaran acara,” ujarnya.

Dalam acara “workshop” tersebut, sejumlah perwakilan siswa juga langsung diajak praktik membawakan acara berbahasa Bali dengan naskah yang sudah disiapkan panitia. “Kami sengaja melibatkan para pelajar dan mahasiswa dalam acara workshop MC berbahasa Bali ini untuk semakin menumbuhkan minat generasi muda Bali agar mau belajar bahasa Bali dan juga tidak segan menjadi pembawa acara berbahasa Bali,” ucap Kepala Seksi Inventaris dan Pemeliharaan Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Made Mahesa Yuma Putra.

Sejauh ini jumlah pembawa acara di Pulau Dewata yang mampu memandu acara menggunakan bahasa Bali tergolong minim karena dianggap masih cukup sulit. “Untuk kegiatan di instansi pemerintahan yang mengharuskan berbahasa Bali, kami juga cukup sulit mencari MC. Padahal melalui Pergub No 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Satra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali itu, Bapak Gubernur menginginkan penggunaan bahasa Bali bisa lebih meluas,” ucap Mahesa. (B/AR)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *