January 23, 2022
Tradisi

Bendesa Adat Lomba Pidarta Bahasa Bali

Bendesa Adat berbicara dihadapan warga desa? Ah, itu biasa. Tetapi, bagaimana kalau bendesa adat mapidarta (berpidato) berbahasa Bali dihadapan dewan juri. Nah, ini yang belum biasa, itu hanya ada pada wimbakara (lomba) Pidarta Bendesa Adat Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat 21 Pebruari 2020. Satu persatu Bendesa Adat merupakan perwakilan dari kabupaten/kota di Bali adu kepiawaian mapidarta dengan berbagai gaya dan cirri khas masing-masing.

Lomba kali pertama itu masing-masing peserta membawakan materi berkaitan dengan tema Bulan Bahasa Bali, yakni Atma Kertih: Nyujur Jiwa Paripurna Melarapan Bulan Bahasa Bali. Setelah melalui seleksi yang ketat, Cokorda Gede Brasika Putra perwakilan dari Kabupaten Klungkung meraih Juara I, Ketut Sudiarsa mewakili Badung sebagai Juara II dan AA Ketut Oka Adnyana dari Denpasar terpilih sebagai Juara III.

Cokorda Gede Brasika Putra mengaku, meski sudah terbiasa berbicara dihadapan krama adat, namun saat lomba masih ada rasa gerogi juga. Namun, hal itu tidak terlalu mempengaruhi penampilannya saat berlomba. Dirinya mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Sebab aktivitas di desa adat yang begitu padat membuatnya tak sempat berlatih. “Saya tidak memiliki persiapan khusus. Aktivitas di desa adat begitu padat. Konsep dan tema saya olah di pikiran saja. Tidak ada latihan khusus. Tetapi, karena sudah terbiasa berbicara dengan krama adat, untuk bahasa tidak jadi masalah,” ungkapnya.

Kepala Seksi Inventaris dan Pemeliharaan Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, lomba ini merupakan suatu terobosan dalam mengimplementasikan pelestarian bahasa, aksara dan sastra Bali dilingkup desa adat. Apalagi kini desa adat semakin dikuatkan dengan adanya Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019. Desa adat menjadi salah satu tempat untuk melestarikan keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali. “Lomba pidarta bendesa adat ini bertujuan untuk mengembangkan bahasa, aksara dan sastra Bali di sejebag desa adat di Bali,” katanya.

Salah satu juri lomba pidarta bendesa adat, I Gusti Lanang Subamia mengatakan, ada beberapa hal yang dinilai dalam lomba tersebut. Pertama, penampilan saat pidato. Kedua, pengolahan tema. Ketiga, penguasaan materi. Keempat, penggunaan bahasa Bali. Terakhir, amanat yang ingin disampaikan. “Jadi pidarta beda dengan dharma wacana. Karena itu, yang dinilai dalam pidarta ini adalah bagaimana dia menjadi seorang orator. Secara keseluruhan sangat bagus penampilan masing-masing peserta. Mereka punya gaya masing-masing dalam membawakan materi. Memang ada beberapa yang terkesan seperti sedang dharma wacana,” terangnya.

Lanang Subamia yang praktisi bahasa Bali asal Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Petang, Badung ini mengatakan, ada beberapa perbedaan antara dharma wacana dengan pidarta. Menurutnya, jika dharma wacana tidak boleh sembarangan dalam mengutip filsafat ataupun ungkapan lainnya untuk dijadikan materi. Sedangkan pidarta adalah seni atau kemampuan menuangkan ide yang bertujuan untuk menggugah masyarakat, dan kadangkala disertai dengan sedikit mengutip pernyataan dari buku atau kitab. (B/AR)

Related Posts