November 28, 2021
Gagasan

Parade Lagu Daerah Bali Isian PKB Paling Digemari

Kriyaloka (workshop) Lagu Daerah Bali yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (11/3) berlangsung hangat. Para peserta yang hadir aktif bertanya, mengkretisi pelaksanaan sebelumnya, lalu mencoba memberikan solusi. Workshop mengawali persiapan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII itu menghadirkan narasumber yaitu I Gusti Putu Raka Danu dan Made Sugianto sebagai moderator. Workshop dibuka oleh Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana.

Kadis ‘Kun’ Adnyana mengatakan, perkembangan lagu Bali menggembirakan. Pemajuan kebudayaan yang paling dinikmati masyarakat adalah lagu Bali. Dulu, generasi muda risih memutar ataupun mendengarkan lagu berbahasa Bali, kini sebaliknya. Mereka dengan gembira menyanyikan lagu Bali di segala kesempatan. “Parade lagu Bali menjadi isian PKB yang paling digemari,” ungkapnya.

Akademisi ISI Denpasar ini menegaskan, workshop digelar untuk menyamakan persepsi tentang materi parade pada pementasan PKB mendatang. Tujuannya untuk menghindari miss komunikasi dalam penampilan dari masing-masing duta kabupaten/kota. “Pulau Dewata memiliki kebanggaan bahwa budaya Bali juga dilestarikan lewat lagu-lagu yang mudah diterima oleh berbagai kalangan usia. Lewat parade lagu daerah Bali ini juga menjadi wahana pembangunan karakter generasi muda Bali ke depan,” katanya.

Untuk parade Lagu Daerah Bali, materi lagu yang diciptakan tidak hanya bertutur tentang keindahan, tapi di dalamnya juga harus diselipkan tuntunan, etika, motivasi kehidupan yang optimistik, kegairahan semangat masyarakat. “Kami ingin tema-tema yang diangkat membangkitkan optimisme. Lagu seperti juga di masa lalu, memiliki peran menyemangati perjuangan kemerdekaan, persatuan dan pembangunan bangsa. Harapannya lagu daerah Bali juga ada pada titik itu,” harap Kadis Kun Adnyana.

Raka Danu memaparkan, sejarah perkembangan lagu daerah Bali, dimulai dari terbentuknya Band Putra Dewata, pimpinan AA Made Cakra pada awal tahun 1960, kemudian disusul I Gede Darna (Singaraja), dan pencipta-pencipta lainnya. Perkembangan lagu Bali tahun 1960 oleh Band Putra Dewata berlangsung hingga bulan September 1965. Sempat terhenti karena ada peristiwa G30S/PKI. Sejak 1969 dan 1970, lalu muncul siaran langsung lagu-lagu ciptaan AA Made Cakra lewat stasiun-stasiun radio swasta yang hanya diiringi gitar tunggal.

Band Putra Dewata kembali dibangkitkan. Semua lagu AA Made Cakra tersebut sangat kental dengan nuansa Bali dengan notasi pentatonis. Barulah kemudian muncul pencipta-pencipta milenial menggebrak Bali dengan lagu-lagu diatonis berbahasa Bali. Pada saat 1978, Gubernur Bali, Prof Dr Ida Bagus Mantra mengadakan Lomba Cipta Lagu Bali, sekaligus menjadi tonggak PKB pertama. Lagu-lagu yang menang dijadikan lagu wajib dan lagu pilihan pada PKB. Kriteria lomba diwajibkan notasinya memakai laras pelog atau selendro, sesuai dengan laras gamelan Bali. Hal ini bertujuan agar identitas Bali tetap terjaga atau tidak punah.

Dewa Gede Alit Saputra, peserta asal Klungkung mengkritisi narasumber. Menurutnya, materi yang disajikan tidak menukik pada isian parade lagu pop Bali untuk pentas di PKB. Melainkan masih melebar tentang ‘lelintihan’ atau sejarah perkembangan lagu pop Bali dari era (alm) Anak Agung Made Cakra hingga sekarang. Lemahnya dewan juri PKB khususnya lagu pop Bali yang kurang awas atau jeli melihat lirik lagu juga menjadi perhatiannya. “Banyak kata-kata pada lagu Bali itu masih macladukan sor singgihnya. Seolah tak memikirkan bahasa alus dan basa kapara, melainkan mementingkan enak didengar,” ucapnya.

Gusti Putu Raka Danu mengakui kurang jelinya para juri memperhatikan kata-kata dalam lagu Bali. Seharusnya para juri memperhatikan lirik. Namun dalam parade, tidak ada kalah menang atau meraih juara. Sebab dalam parade pengamat hanya memperhatikan kelebihan dan kekurangan para penampil untuk dirumuskan agar bisa diperbaiki lagi. (B/*)

Related Posts