January 23, 2022
Ulasan

Menebar, Menggali, dan Berkreasi dengan Bli Ciaaattt

Minat masyarakat asing terhadap kesenian Bali sangat tinggi. Mereka tak hanya menyaksikan sambil bertepuk tangan, tetapi juga menghampiri, lalu bertanya karena tertarik untuk mengetahui dan mempelajarinya. Karena itulah, seniman muda kreatif bernama Made Agus Wardana mau berlama-lama tinggal di Belgia mengajar kesenian Bali, khususnya gamelan tradisional kepada masyarakat asing. “Orang asing itu tak hanya berlatih memainkan gamelan, tetapi kreatif bertanya. Maka itu, saya harus bisa menceritakan, menjelaskan kesenian Bali kepada mereka,” katanya.

Masyarakat asing yang belajar kesenian Bali, khususnya seni tabuh tak hanya menirukan, tetapi juga penasaran terhadap sejarah, fungsi dan makna dari setiap jenis gamelan yang dipelajari. Setiap gending atau nada yang dimainkan, mereka langsung reaktif. “Jujur, saya merasa tertantang ketika murid yang dilatih itu bertanya dan selalu bertanya. Maka itu, setiap materi yang akan diberikan selalu diawali dengan menggalinya data secara detail, agar bisa menjelaskan kepada mereka. Mungkin, karena mendapatkan penjelasan yang detail, ditambah keakraban dalam berkomunikasi, sehingga membuat apresiasi mereka sangat tinggi untuk mempelajari karawitan Bali,” paparnya.



Disamping menjelaskan secara langsung kepada murid yang bertanya, ayah tiga putra itu juga menulisnya di media sossial, seperti instagram, youtube dan facebook dengan nama Ciaaattt. Murid-muridnya atau siapa saja akan bisa membaca di media sosial tersebut, sehingga menjadi lebih gampang menularkan ilmu. Teknik mengajarnya, melakukan pendekatan dan keakraban dengan metode yang sangat familiar. Mengajarkan secara langsung tanpa notasi, sebagai upaya memberikan keleluasaan berekspresi serta menciptakan suasana nyaman. “Saya mengajar secara detail, mulai dari cara memegang panggul, sikap, teknik sehingga muncul respek mereka terhadap instrument itu,” ceritanya.

Kalau orang asing mulai menyukai gamelan, maka disitulah point kita menjadi guru tabuh. Disitu ada niat mereka untuk mengetahui gamelan Bali, sehingga gampang mengajarinya. Mereka juga terkadang merasa bosan, bahkan kurang senang, sehingga harus membumbuinya dengan humor. Hal itu untuk menciptakan suasana menjadi lebih cair. Mula-mula menarik hatinya, kemudian menebar pesona agar mereka senang, sehingga ingin mempelajari juga mencintainya. “Saya sering melakukan pertunjukan serta pameran budaya, sehingga dapat memberikan kepercayaan untuk bisa mempelajari budaya mereka, bahasa dan kedesiplinan yang terpenting. Semua itu, berguna untuk menunjang kekuatan pertunjukan kami di Belgia,” beber suami Ni Wayan Yudiani ini kalem.

Seniman kreatif yang biasa disapa Ciaaattt sudah berada di Belgia lebih dari 22 tahun. Ia tak hanya melakukan pertunjukan, tetapi juga mendirikan dan mengajar di Sanggar Saling Asah di Belgia hinga sekarang. Sanggar ini untuk membangkitkan masyarakat atau komunitas Bali di Belanda. Dari kegiatan itu, maka muncul komunitas, pencinta seni baru dengan warna baru. Karena itu, ia juga dipercaya mengajar Grup Banjar Suka Duka (Belanda), Grup Swara Shanti Amstelveen (Belanda), Grup Gamelan Smarapegulingan (Universitas Amsterdam), Grup Puspa Warna Paris (Prancis), Grup Bali Puspa (Koln Jerman), Grup Gamelan Rumah Budaya Indonesia (Berlin), dan Grup Gamelan Panempaan Guntur (Barcelona Spanyol).



Sekarang, pria yang tinggal di Banjar Pegok, Desa Sesetan, Kota Denpasar itu sudah ada di Pulau Dewata. Ia dipercaya untuk menyelematkan kesenian genggong yang sudah menjadi warisan para leluhurnya. Genggong yang telah tidur puluhan tahun itu, dihidupkan kembali. Bahkan sudah dipentaskan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Ia dan anggota sekaa lainnya, menampilkan gending-gending kuno, dan mengkombinasikan genggong dengan gamelan geguntangan. Selain itu, juga menyajikan gending-gending gamelan mulut (Gamut), menampilkan ocehan vocal meniru suara gamelan.

Sejak tinggal di kampung halaman, pria enerjik dan ramah itu sudah merekontruksi genggong yang mulai digarap sejak setahun lalu. Ia juga menebar aura seni dikalangan generasi baru, sehingga lahir grup genggong anak-anak bernama “Naknikpegok”. Grup genggong ini, beranggotakan 20 orang, terdiri dari anak-anak tingkat SD dan SMP. “Inilah hasil rekontruksi genggong yang terus berkelanjutan. Kesenian genggong Pegog memiliki kekhasan tersendiri yang harus dilestarikan,” tekadnya

Sejak kecil sudah berkreasi

Pria kelahiran Banjar Pegok, Denpasar, 25 November 1971 ini sudah mengenal gamelan tradisional Bali sejak kecil. Maklum, ia lahir dan tumbuh di Banjar Pegok, Kota Denpasar merupakan lingkungan seni dari jaman ke jaman. Karena itu, ia memiliki pengalaman masa kecil yang sangat menyenangkan. Ada waktu belajar, ada waktu bermain dan tetap ada waktu berkesenian. Bersama teman-teman masa kecil di desanya, ia biasa bermain di Bale Banjar. Entah melakukan permainan tradisional, atau bermain gamelan. Bahkan, alat music gamelan menjadi teman masa kecil yang setia. Ketika ia duduk di kelas VI sekitar 1982 ia memiliki gamelan rindik sendiri.

Sebelum itu, ia juga menjadi penabuh anak-anak yang biasa memainkan kajar. Ia biasa tampil bersama sekaa gong dewasa, sehingga mendapat peluang yang lebih besar mempelajari alat musik lainnya. Ia kemudian memainkan kendang mengiringi janger. Hatinya merasa senang dan bangga, karena satu-satunya sebagai penabuh anak-anak yang dilibatkan dalam pertunjukan kesenia itu. Walau demikian, ia tidak pernah meninggalkan penabuh anak-anak yang digagasnya bersama anak-anak kreatif lainnya. “Saya biasa mengambil kunci balai banjar, agar bisa berlatih memainkan gamelan,” ceritanya.

Orang tuanya yang seniman tabuh dan tari arja selalu memberi motifasi. Walau bukan berupa materi, kedua orang tuanya selalu memberi perhatian berupa dukungan mental. Dengan dukungan itu, ia menjadi anak yang disiplin dan bertangung jawab, sehingga antara pelajaran dan bermain gamelan bisa berjalan beriringan dan sudah menunjukan keseimbangan. Ia tahu kapan saatnya bermain dan belajar. Karena ia sudah mampu menjaga keseimbangan yang sesungguhnya. “Saya belum ada keinginan atau cita-cita saat itu. Semuanya mengalir secara natural. Saya hanya focus pada kesenangan, lalu mencoba dan tidak mau menyerah,” ujarnya serius.



Semangat dan keseriusannya dalam berkesenian, ia sering ditunjuk oleh guru sekolahnya menggordinir teman-temannya dalam memainkan gamelan. Ia didapuk sebagai pemain kendang. Awalnya, ia merasa malu dan takut, tetapi setelah mencobanya menjadi biasa. Saat memainkan kendang, sambutan dari penonton sangat meriah. Hal itu, kemudian muncul percaya diri, sehingga biasa tampil sendiri dengan bebas. “Saya dan teman-teman kecil dulu juga sering bermain ke sungai mencari belalang, melayangan,” kenangnya.

Di tengah keseriusannya menekuni kesenian Bali, pelajarannya dibangku SD biasa-biasa saja. Namun, berbeda ketika duduk di bangku SMP, ia mendapat juara kelas. Demikian pula ketika SMA, ia mendapat beasiswa karena sebagai penabuh yang mampu mengantarkan sekolahnya sebagai juaa I. Prestasi lain yang sudah dikumpulkan, yaitu pernah meraih Juara I Makendang tunggal se-Bali PKB tahun 1994, sebagai penggarap lomba bleganjur dan sering menggarap tabuh untuk PKB serta sering melakukan misi kesenian ke luar negeri, seperti India (1993), Jerman dan Belgia (1994), Korea Selatan (1995), dan pada 1996 menuju Belgia dan seluruh Eropa. [B/*]

Related Posts