August 11, 2020
Ulasan

Tari Bali Dihargai dan Dicintai Warga London, Inggris
(Cerita Seorang Guru Tari)

Jangan cuek terhadap seni dan budaya kita sendiri. Orang asing sangat menghargai kesenian Bali, bahkan berlomba-lomba untuk bisa melakukannya. Di Kota London, Inggris misalnya. Orang-orang disana, sangat mengapresiasi kebudayaan negara lain, termasuk kesenian Indonesia. Apalagi, London sebagai salah satu kota yang sangat multicultural, sehingga selalu menghargai seni tradisi, termasuk tari Bali. Bagi mereka, tari Bali sangat unik, enak ditonton, namun sulit sekali untuk melakukannya. Aku sangat merasakan hal itu. Setelah pentas, aku menyempatkan diri untuk mendekati penonton, bersalaman dan mengucapkan terimakasih karena mereka sudah meluangkan waktu untuk datang dan menyaksikannya.



Bersalaman kepada penonton itu sudah menjadi kebiasaan, upaya menciptakan suasana menjadi lebih akrab. Maka jangan heran, ketika mendekat pada penonton, mereka tak bosan-bosannya bertanya. Pertanyaannya apa saja yang dianggap unik. Beberapa diantaranya, Itu jari-jarinya kok bisa lentik begitu? Gimana caranya menggerakan mata biar bisa begitu? Aku, terkadang mendemontrasikan sedikit gerak-gerak dasar yang sudah dipentaskan. Lagi-lagi mereka kagum. Mereka juga suka dan kagum dengan kostum pentas. Terutama ornamen ukiran kulit yang rumit dan sangat cantik. Maka, diujung sanjungannya itu, mereka kembali menanyakan, apakah ada kelas tari yang bisa saya coba? Nah, itu dia bukti ketertarikan mereka.

Aku buka pentas sendirian, tetapi bergabung bersama Grup Tari Lila Bhawa yang sering memiliki jadwal pentas, seperti pentas pada acara memperkenalkan budaya Indonesia, kawinan, perayaan atau festival. Aku bersama grup ini, pentas di London, seperti di Southbank Centre, London Symphony Orchestra yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Pernah juga pentas di beberapa Universitas di Inggris, seperti di Oxford, Cambridge, London, dan Bath. Selain itu, juga pentas di Jerman, Italy, Belanda dan Amerika. Aku dan teman-teman dalam grup itu menampilkan tari Bali dan tari-tarian daerah lain di nusantara. Ketika menampilkan tari-tarian lepas dan kecak, masyarakat Inggris sangat menyukainya. Mereka mencintai tari-tarian Indonesia, terutama orang-orang Inggris yang sudah pernah ke Indonesia, dan orang-orang Indonesia yang tinggal di Inggris. Mereka sengaja menyaksikan pementasan seni sebagai obat rindu terhadap budaya Indonesia. Maka itu, penonton yang hadir lumayan banyak, kalau mereka tahu grup ini ada pentas.

Sebagai penari Bali dan asli orang Indonesia, aku merasa bangga ketika kesenian warisan leluhur itu dihargai oleh masyarakat Inggris. Melihat kecintaan mereka itu, rasa bangga itu semakin menjadi hingga mengundang mereka untuk mencoba merasakan indahnya sebagai penari Bali. Jika mereka ada bakat dan senang, langsung bergabung dengan Grup Tari Lila Bhawa. Banyak diantara mereka yang mencoba untuk belajar menari, tetapi sama saja dengan yang biasa terjadi di sanggar-sanggar di Bali. Tidak semua diantara mereka yang berhasil dan melanjutkan untuk bergabung di grup tari ini. Tetapi jangan diragkan kalau semangatnya, mereka sangat antosias belajar tari Bali. Hanya saja, yang sering menjadi kendala yaitu terbentur dengan waktu bekerja atau sekolah. Dua hal itu yang menjadi halangan mereka untuk terus belajar. Selain itu, ada pula karena tempat tinggal mereka yang terlalu jauh.

Aku memberikan materi seni berupa gerak-gerak tari dasar bagi mereka yang pemula. Kemudian menambah materi tari lepas, seperti Tari Pendet, Panyembrama, dan Rejang (untuk tari) dan Tari Wirayudha (untuk putra) dan Tari Puspaweresti (putra-putri). Penari yang gerak dasarnya sudah lebih baik, bisa belajar tari selanjutnya, seperti Tari Tedung Sari, Tari Kembang Girang, Tari Margapati, Cendrawasih dan lainnya. Jika mereka tergolong penari yang sudah maju, maka materi yang diberikan, seperti Tari Legong Keraton, Legong Kuntul, Legong Abimanyu, Terunajaya, Oleg Tamulilingan, Baris Tunggal, Demang Miring, dan Kebyar duduk. Mereka berlatih sangat fokus dan antosias, mungkin karena geraknya yang sangat unik serta menantang.

Mengajar tari Bali kepada orang Bali, tentu gerak, musik dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Orang Bali sudah biasa dan sering melihat dan mendengar pada saat upacara/piodalan atau kegiatan lainnya, sehingga mereka menjadi terbiasa. Nah, ketika mengikuti pembelajaran gerak tari dengan cepat mereka tangkap dan bisa melakukanya. Berbeda kalau mengajar tari Bali kepada orang asing, aku harus lebih banyak menjelaskan tentang gerak-gerak tari yang diajarkan, mulai dari fokus, posisi berat badan, bagian tubuh mana yang harus diberi tenaga lebih, tentang apa tarian itu, perasaan harus bagaimana dan sebaginya. Intinya, mengajarkan gerak tari kepada orang asing, harus lebih detail. Bahkan, tak hanya itu, mereka juga kritis bertanya terkait dengan sejarah, maksud dan makna dari setiap gerak tari. Hal itu, yang mendorong aku juga harus banyak belajar dengan membaca-baca buku utamanya literature tentang seni dan budaya Bali. Menariknya, hampir semua orang asing yang belajar tari Bali di London ingin sekali datang ke Bali untuk mendapat pengalaman belajar dan pentas ala orang Bali. Mereka juga tertarik melihat dan belajar tentang kehidupan serta budaya orang Bali.



Aku sudah mengelola sanggar di London sejak tahun 2002. Namanya, Sanggar Lila Bhawa yang sekarang memiliki anggota sekitar 30 anggota, namun yang aktif kira- kira 20-25 orang. Aku juga mengajar workshop tari di sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP, memberi workshop dibeberapa universitas, antara lain; School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London, Regents University, East 15 Acting University, Surrey University, Royal Holloway University. Aku memberikan materi tari tradisional dan tari nusantara. Kebetulan, saat di Sekolah Menengah Karawitan (SMKI) atau Kokar dulu dan STSI (Institut Seni Indonesia sekarang) juga belajar tari-tarian nusantara. Aku memanfaatkan kesempatan di London untuk mengembangkan tari-tarian tersebut, diantaranya tari Bali, tari dari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta, tari dari Sumatra, tari dari Kalimantan, tari dari Sulawesi, Tari Jaipongan dari Sunda dan Tari Betawi.

Jujur, aku tak pernah membayangkan akan menjadi guru bagi warga asing. Sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Inggris. Aku memang suka dan cinta terhadap seni warisan leluhur. Pada waktu kecil memang bercita-cita menjadi guru tari, dan tidak pernah terbayang untuk pentas di luar negeri. Saat itu, hanya rajin melihat orang latihan tari di rumah Ni Kadek Ganti, seorang penari di banjar, tempat kelahiran. Sanggar ini, biasa melatih anak-anak untuk persiapan ngayah saat piodalan. Aku senang sekali menonton anak-anak yang sedang berlatih. Hampir setiap kali mereka latihan, aku selalu ada dan menonton. Gerak-geraknya mempesona, membuat tangan dan kaki gatal ikut bergerak. Sledet matanya juga menggoda. Mungkin Ibu Kadek itu merasa kasihan, sehingga mengundang untuk ikut belajar. Semenjak itu, aku menjadi murid Ibu Kadek hingga melanjutkan di SMKI, sekolah seni milik masyarakat Bali.

Beberapa bulan latihan, aku sudah mampu menguasai tari, sehingga sering dilibatkan dalam kegiatan ngayah. Aku juga selalu dilibatkan dalam setiap acara pementasan di pura atau ulang tahun muda-mudi di banjar. Awal-awalnya pentas jantung terus berdebar, bahkan sangat kencang. Apalagi, penontonnya banyak sekali. Maklum, waktu itu, stasiun TV belum banyak seperti sekarang, sehingga penontonnya banyak hingga berdesa-desakan. Bahkan, pementasan itu mengundang banyak dagang untuk berjualan. Mendapat kesempatan pentas, senangnya tidak bisa dilukiskan. Make up yang ada, aku diamkan hingga besok harinya saking bangganya menjadi penari. Pengalaman awal menjadi penari tak pernah terlupakan. Saking senangnya, aku memilih extra kurikuler tari di sekolah. Kebetulan yang mengajar juga ibu Ni Kadek Ganti. Aku juga bergabung dengan dengan teman-teman penari dari lain banjar di Kecamatan Tegallalang.

Seringnya pentas, aku mendengar ada SMKI, sekolah untuk memperdalam seni tari disamping seni lainnya. Aku mendaftar dan bersyukur diterima. Wah, senangnya bertemu banyak teman dari seluruh daerah di Bali. Menariknya, logat bahasanya juga berbeda-beda karena Bali sangat kaya dengan budaya. Kadang-kadang, saling bercanda dengan logat bahasa masing-masing. Suka-duka selama 4 tahun bersama teman-teman dari berbagai daerah sangat berkesan. Selain tari Bali, di sekolah itu juga berlatih tari-tarian nusantara. Jujur, saat belajar tarian nusantara pikiran menjadi lebih terbuka. Betapa kayanya kebudayaan di Indonesia. Aku masih ingat susah sekali untuk belajar tari Jawa. Dasar-dasar geraknya sangat beda dengan tari Bali. Entah kenapa, aku malah senang dan menekuninya dengan serius. Saat itu, juga dilatih memasang make up sendiri, lengkap sudah.

Di SMKI memberikan peluang pentas untuk turis, bahkan mendapatkan upah. Aku diundang pentas di beberapa hotel di Sanur menarikan Tari Kijang atau Manuk Rawa. Kadang-kadang menari Joged di Desa Batubulan. Saat itu, diberi honor Rp2.500 per sekali pentas. Walau tidak banyak, tetapi merasa bangga karena itu merupakan hasil keringat sendiri. Aku juga nyambi mengajar di SD 2 Tegallalang, di desa kelahiran. Aku pulang ke desa setiak 2 kali dalam seminggu, khusus mengajar tari. Nah, dari situlah awal mulanya belajar menjadi seorang guru tari, sehingga cita-cita sejak kecil sudah terwujud walau hanya mengtisi jam ekstra saja.

Setelah tamat SMKI tahun 1991, aku melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Waktu itu program di STSI hampir sama dengan di SMKI. Kelebihannya, hanya diajarkan untuk berkarya, belajar mengajar ke desa-desa (praktek kerja lapangan), juga dikirim ke desa-desa untuk menggali seni klasik melalui belajar tari-tarian yang hampir punah. Aku mendapat tugas belajar Tari Gambuh di Mas, Ubud. Aku mempelajari peran Condong Gambuh. Di sana, mendapat kesempatan belajar nembang (vocal) karena peran itu juga bisa vokal. Ternyata, ada bakat, sehingga melanjutkan belajar tembang Arja dari Ibu Ni Nyoman Candri, maestro arja di Singapadu. Sampai akhirnya diikutkan dalam Lomba Dramatari Arja di Kabupaten Gianyar.



Akhir tahun 1999, aku ke Inggris bermaksud untuk memperdalam Bahasa Inggris. Aku tinggal di Kota London. Disana, menemukan satu Grup Lila Cita di City University. Disamping belajar Bahasa Inggris, juga biasa menari. Latihan dengan mereka, akhirnya menjadi rutinitas. Aku diajak pentas dibeberapa tempat di Inggris. Berlatih dan pentas dengan Lila Cita membuka peluang bagi aku untuk melanjutkan tinggal di Inggris. Saat itu, tidak banyak penari Indonesia yang tinggal di London. Aku mulai mengajar Tari Bali di SOAS University. Lumayan banyak peminatnya. Aku juga ikut bergabung dengan gamelan Jawa di Southbank Centre (Arts Centre yang paling ketermuka di Inggris). Di tahun 2002, Akua membuat grup Tari Lila Bhawa yang sampai sekarang masih aktif.

Ni Made Pujawati

Ni Made Pujawati,S.Sn lahir di Br. Pejengaji, Tegallalang tahun 1971. Sempat mengenyam pendidikan seni di SMKI/Kokar, kemudian mendapatkan gelar sarjana di STSI. Pindah ke Inggris di akhir tahun 1999, dari 2002 menjadi Artistic Director, choreographer dan guru tari di grup Tari Lila Bhawa, guru tari freeland dari tingkat SD sampai Universitas serta pernah pentas di Inggris, Italy, German, Belanda, Greek, Irlandia, Amerika dan Australia.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *