August 11, 2020
Pernik

I Made Ari Udiana Penabuh dan Pembuat Suling

Orang ini, bagai barong ngelawang yang mendatangi desa satu ke desa lainnya hanya untuk urusan seni. Jika ada pesanan, ia pasti berangkat lengkap dengan segala alat dan perlengkapan lainnya. Sekali berangkat, ia bisa mendatangi satu hingga dua banjar hanya untuk urusan membuat alat musik tradisional berbahan bambu. “Saya memang selalu mendatangi sekaa gong yang ada di desa-desa untuk membuatkan suling. Agar suara suling itu sesuai dengan nada gamelan, maka harus datang ke tempat sekaa gong itu, untuk menyesuaikan dengan nada gamelannya,” katanya.

I Made Ari Udiana demikian namanya, pria kelahiran Tabanan, 30 Juni 1982 ini berprofesi sebagai tukang (pembuat) suling, disamping sebagai penabuh. Ia kerap kali dipangil oleh pengurus sekaa gong, baik itu Gong Kebyar, Angklung, Semarandhana dan jenis barungan gamelan lainnya untuk membuatkan suling. “Saya merasa puas, jika suling yang dibuat itu sesuai dengan nada gamelan sekaa tersebut. Disamping untuk menjalankan hobi, pekerjaan ini juga sebagai cara untuk mencari teman, bahkan saudara,” ungkapnya senang.

Pria yang akrab disapa Made Tizon ini mengaku, jenis suling yang dibuat itu beraneka ragam, sesuai dengan kebutuhan penabuh. Ada suling besar, sedang dan kecil. Baik itu untuk iringan Dramatari Gambuh, Arja, Gong Kebyar, Gong Suling dan untuk barungan gamelan lainnya. “Orang yang memesan itu, biasanya sudah tahu, sehingga ketika memasannya mereka sudah bisa menggambarkan, mudah dalam membuatnya,” imbuh pemilik usaha Khana Mahotama Seruling ini.

Suami Ni Putu Eka Purwanti (Eka Morie) ini mengaku, ia telah mengunjungi berbagai pelosok desa hanya untuk membuat suling. Mulai dari desa di daerah Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Klungkung, dan Buleleng. “Dalam satu tempat, saya bisa menyelesaikan 4 sampai 5 suling. Lalu, pindah ke sekaa lain, juga membuat 4 sampai 5 suling. Setelah itu, biasanya sudah malam, sehingga kembali pulang,” ceritanya.



Dalam setiap tempat yang dikunjungi, Made Tizon memiliki kenangan menarik. Sebut saja ketika membuat suling di wilayah Klungkung dengan jumlah dua set, sehingga diselesaikan hingga sore. “Saat itu, saya diberi suguhan tuak yang rasanya jaen sajan (enak sekali). Nah, ketika akan bangun dan pulang, jeg kambang mase batise, aget misi ujan dijalan agak puyengan sampe mereren di Jalan Bay Pass dangin Stadion Dipta to metegtegan (kaki tak terasa menginjak tanah, untung ada hujan sehingga kepala yang sedang pusing bisa berhenti di Jalan Bay Pass sebelah timur Stadion Dipta),” kenangnya.

Made Tizon memiliki bengkel yang beralamat di Jalan Teratai Gang SD 2 Banjar Dukuh, Desa Dauh Peken, Tabana merupakan tempat memproduksi suling. Bengkel tempat untuk berproduksi itu, tampak seperti rumah penduduk biasa, karena memang itu tempat tinggal bersama keluaraganya. Di belakang rumahnya itulah bengkel, tempat ia membuat suling itu. Bangunannya sederhana, yang memang dibuatnya sendiri tanpa bantuan tukang. “Inilah studio tempat saya membuat suling,” ucapnya.

Areal rumahnya penuh dengan bambu, di sebeleh kanan teras tampak bambu-bambu sudah terpong dengan berbagai ukuran yang dijemur. Begitu pula di sebelah kiri ada bambu, bahan suling yang sudah terbungkus kain da tas yang siap dibuat menjadi alat music tiup. “Saya biasanya membuat suling di tempat pemesan. Karena menyelaraskan nada suling dengan gamelan yang dimiliki oleh sekaa itu,” ucapnya.

Ayah dua putra ini mengatakan, bambu sebagai suling tidak sembarangan. Melainkan bambu buluh atau bambu semat yang ringan serta memiliki tekstur yang tipis dan mudah dilobangi. “Jika ingin mendapatkan suling yang bagus, bambu harus benar-benar tua atau sudah berumur lebih kurang lima tahun,” terangnya.



Bambu yang sudah terpilih itu dikeringkan. Made Tizon sendiri memiliki beberapa cara untuk mengeringkan bambu, yaitu bisa dengan di jemur di panas matahari dan dipanaskan diatas tungku perapian tempat masak orang kampung, serta bisa di angin-angin di beranda rumah.

Setelah bambu buluh sudah kering, kemudian potong bagian atas ruas. Lalu membuat tempat siwer dan song pemanis (lubang). Kemudian memotong bambu sesuai dengan nada yang diinginkan. Untuk menentukan nada dengan cara membuat lobang tambulilingan.

Sedangkan untuk menentukan lobang tamulilingan itu dengan cara mencari as (ditengah-tengah) bambu untuk lobang nomer 2. Selanjutnya membuat satu lobang diatasnya lagi dan empat lobang dibawahnya. “Jika menyesuaikan dengan alat music gamelan yang sudah ada, pertama harus menentukan nada gamelan itu, selanjutnya memotong bagian bawah suling sedikit demi sedikit, sehingga sesuai dengan nada dasar dari gamelan itu,” bebernya.

Menurut Made Tizon, dirinya tertarik untuk bisa membuat suling sejak umur 10 tahun. Ketika itu ia tertarik dengan suling, karena sering mendengarkan alm. Jero Mangku Ratna yang piawai meniup suling. Setelah pulang sekolah, ia mengikuti Mangku Ratna ke tegale (ladang) sambil melihat cara membuat suling dengan alat seadanya. Saking tertariknya, ia sempat menukar pales pancing dengan temen yang punya suling. Lalu, minta pada ayahnya untuk dipinjankan temutik (piau kecil) peninggalan kakeknya untuk dijadiakan sarana membuat suling suling.

Pada awalnya hanya menggunakan bahan bambu seadanya dari wilayah Kerambitan, kampung halamnnya. Kini, sudah mendatangkan bahan suling dari berbagai daerah. Selain membuat suling, ia juga sebagai penabuh yang biasa memainkan suling. Ia tak hanya memperkuat sekaa gong yang ada di desanya, melainkan sering dipercaya sebagai penabuh bon (penabuh yang memperkuat sekaa gong daerah lain). Pada saat Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2019, Made Tizon terpilih sebagai juara II lomba membuat suling sebagai duta Kabupaten Tabanan. Saa itu, ia mampu membuat 3 suling dengan waktu 2 jam. [B/*].

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *