January 22, 2021
Tradisi

Peradah dan STAHN Mpu Kuturan “Ngejot” ke Krama Hindu Desa Subaya

DPP Peradah Indonesia Bali bersama DPK Peradah Indonesia se-Bali melaksanakan Gerakan Peradah Ngejot menyambut Hari Galungan dan Kuningan. Gerakan itu menyasar masyarakat kurang mampu di Desa Subaya, Kintamani Bangli. Program Peradah Ngejot seri ke-4 itu turut mengajak sejumlah akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang dibingkai dalam Pengabdian kepada Masyarakat Mandiri.

Ketua DPP Peradah Indonesia Bali yang juga Koordinator Pengabdian Masyarakat Mandiri STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Komang Agus Widiantara mengatakan, program Peradah Ngejot merupakan bagian dari program yang rutin digelar setiap enam bulan sekali menjelang perayaan Galungan dan Kuningan. Melalui ngejot, momentum dan spirit Hari Suci Galungan dimaknai lebih kongkret ke pawongan. Semangat dan spirit ngejot sebagai salah satu kearifan lokal Bali saat ini perlahan mulai memudar seiring dinamika kehidupan sosial yang pragmatis dan individualis.

Padahal, lanjunya, ngejot merupakan tradisi masyarakat Bali dengan semeton krama Bali maupun krama tamiu sebagai ungkapan syukur, kebersamaan, kepedulian, saling berbagi, dan mengasihi, terlebih di tengah pandemi Covid-19. “Berbagi di tengah pandemi bukan perkara mudah. Harus ekstra hati-hati, mengikuti seluruh protokol kesehatan yang ada. Belum lagi medan menuju Subaya terjal dan menantang,” katanya.

Pihaknya mengaku senang dapat berbagi dengan penduduk yang membutuhkan. Kegiatan ini, diharapkan dapat menumbuhkan pemaknaan Galungan yang tak semata perayaan, persembahyangan, dan ‘pesta pora’. “Merayakan kemenangan idealnya kontekstual dengan kenyataan. Berbagi dengan sesama salah satu cara untuk mengisi kemenangan,” imbuhnya.


Peradah dan STAHN Mpu Kuturan “Ngejot” ke Krama Hindu Desa Subaya


Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, I Ketut Eriadi Ariana bersama Koordinator Kegiatan, Putu Oka Suyasa menjelaskan, dalam program kolaborasi itu pihaknya menyasar 40 kepala keluarga (KK) kurang mampu dan lansia. Pemilihan Desa Subaya sebagai sasaran tidak terlepas dari kawasan desa yang relatif “terisolir” dari pusat kecamatan, namun memiliki potensi yang besar untuk berkembang di kemudian hari.

“Kebetulan Peradah Bali kali ini turun ke kawasan Bangli sebagai wilayah kerja kami serta mengajak para akademisi, sehingga kami arahkan ke desa ini. Harapannya, nanti dapat distimulus untuk pengembangan ke arah pemberdayaan masyarakat yang lebih jauh. Termasuk, upaya-upaya penelitian akademis baik dari bidang ekonomi maupun studi terhadap budaya Bali Pegunungan yang hidup di sini,” jelasnya.

Perbekel Subaya, I Nyoman Diantara mengucapkan terimakasih atas pemilihan desanya sebagai sasaran Peradah Ngejot. Desa Subaya memiliki sekitar 367 KK. Dari jumlah tersebut, masyarakat yang masuk dalam usia produktif mendominasi. “Hanya saja, kebanyakan di antara mereka kurang diberdayakan, kebanyakan keluar desa pada usia yang relatif muda untuk menyambung hidup. Padahal, mereka bisa membangun desa dari dalam. Saat ini kami sedang menggarap pemberdayaan itu, seperti pengolahan produk paska panen singkong,” ucapnya.

Persoalan pemberdayaan tersebut tak terlepas dari keberadaan fasilitas pendidikan di kawasan tersebut. Diantara menjelaskan bahwa satu-satunya fasilitas pendidikan yang ada di desanya hanyalah SD. Untuk melanjutkan kejenjang sekolah menengah pertama, SMPN 7 Kintamani menjadi SMP terdekat yang dapat dijangkau. Sekolah ini terletak sekitar 8,7 km dari desa dan harus ditempuh dengan menjajal medan curam Pegunungan Kintamani sebelah timur laut.

Kendala-kendala akses itulah yang dipandang menjadi penghambat anak-anak untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya, mereka lebih memilih tidak melanjutkan sekolah. “Sejatinya kami sudah memiliki tiga kelas yang dapat dimanfaatkan untuk SMP Satu Atap, namun, kendala selanjutnya adalah ketidakadaan guru untuk mengajar. Pada akhirnya, jika ingin melanjutkan, jalan satu-satunya ya harus sekolah di luar desa. Itu menjadi sulit bagi sebagian penduduk, terlebih melihat akses jalan yang cenderung berbahaya,” katanya berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian unsur terkait. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *