October 29, 2020
Gagasan

“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Sempat menyaksikan “Tari Kenapa Legong” di kanal youtube budayasaya http://youtube.com/user/kebudayaanindonesia? Tari itu merupakan karya koreografer muda yang akrab disapa Dayu Ani yang tampil manis dalam Panggung Seni Online Streaming kerjasama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Antida Musik Productions. Tari Kenapa Legong ini dibawakan oleh tujuh orang penari laki-laki mengangkat kisah petualangan kakak beradik Gagak Turas dan Japatwan saat menyusul Ratnaningrat ke Siwaloka.


“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Tari Kenapa Legong


Karya seni tari ini menyajikan gerak tari yang begitu kuat, kostum sederhana, ekspresi jiwa dari semua penari tampak jelas. Buktinya, senyum yang disajikan oleh setiap penari tidak ada yang dibuat-buat, semuanya muncul dari jiwa paling dalam. Paling menarik, semua penari tanpa mengunakan baju, sehingga liuk lekuk tubuh penari tampak sangat indah. Iringannya, tidak terlalu dominan, namun dapat memberikan jiwa serta menegaskan makna dalam setiap gerak yang disajikan. Alat yang digunakan, seperti kendang, gentorag, klenang, trutuk serta tembang-tembang yang mampu membangun suasana pentas lebih dinamis.

Tari Kenapa Legong itu sebagai wujud kegagumannya pada proses penciptaan legong, serta sebagai cara dirinya belajar bersama anak-anak pada kelangengan yang ditawarkan oleh tari-tarian klasik, seperti Legong ini. Langgeng itu proses itu sendiri, bagaimana tari itu berproses menembus jaman tanpa harus kehilangan rohnya. “Kenapa Legong ini juga sebagai wujud kerinduan saya pada karakteristik Tari Bali primitif, ketika pakem tari Bali belum begitu teknis seperti sekarang. Itu sebabnya tari ini melibatkan anak-anak yang tidak mendapat pendidikan teknik dasar tari Bali yang intens,” ujar Dayu Ani.

Dayu Ani mengatakan, khusus pada Tari Kenapa Legong dirinya tidak meminta anak-anak melakukan ukuran sebagaimana yang diklakukan oleh penari yang telah mendapat pendidikan teknik tari. Sebut saja pada Amri dan Gus Sena. Dua penari ini tidak sempat belajar teknik tari secara intens. Berbeda dengan Adit yang sudah menjadi koreografer, bahkan sedang mengenyam pendidiklan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. “Secara intuitif mereka sudah paham, seperti apa agem itu. Saya hanya pertahankan posisi ini. Tugas saya adalah bagaimana membuat mereka yakin pada apa yang mereka gerakkan. Bagaimana otot-otot itu berjiwa dan bernapas. Untuk itu kami menggunakan latihan teknik pernapasan asanas yang sudah dikombinasikan untuk kebutuhan tari,” teranya.

Lalu kenapa penari laki-laki? Koreografer yang telah menciptakan puluhan karya seni itu mengatakan, dirinya ingin berbagai melalui proses ini, bahwa menari itu bukan tentang gender. Menari adalah tentang jiwa yang menggunakan media tubuh entah itu laki atau perempuan untuk menyampaikan karakter yang dibawakan. “Dan kami sedang mengangkat maskulinitas dari legong” imbuhnya.


“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Tari Kenapa Legong


Dayu Ani yang juga Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar mengatakan, Bali memiliki berbagai seni tari tradisi salah satu yang sangat popular adalah Tari Legong, disamping berbagai jenis tarian lainnya, seperti Tari Pendet, Tari Baris hingga Tari Barong. Kali ini, Tari Legong dieksplorasi lebih mendalam, bukan hanya sebuah pementasan tari legong yang pada umumnya dikenal. “Kenapa Legong adalah wujud kekaguman saya pada penciptaan Legong, baik pada kerumitan teknik yang diciptakannya atau pada kelanggengan yang ditawarkannya,” bebernya.

Menurutnya, perjalanan Tari Legong itu sendiri cukup panjang yang bermula dari kesakralan Legong Topeng, menjadi tarian istana (Legong Kraton), menembus jaman melampaui era kebyar, hingga bertemu jaman modern dengan lahirnya beragam Legong Kreasi. bahkan Kontemporer. “Kenapa Legong adalah cara saya belajar, bertanya kembali pada proses penciptaan yang telah saya lalui. Sekaligus jalan untuk merealisasikan impian tentang jelajah tubuh. Sejauh mana penjelajahan tubuh dapat dilakukan, bagaimana tubuh menghormati jiwa dan raganya, mengarungi kebaharuan atau menyikapi belenggu? Apakah tradisi ataukah modern? Apakah laki-laki ataukah perempuan?” ungkapnya serius.

Sebelum Tari Kenapa Legong, pergelaran ini diawali dengan menampilkan Tari Condong dan diakhiri dengan Tari Kidung Pangraksa Jiwa. Tari ini lahir dari sebuah kidung yang diyakini dapat menguatkan jiwa, menjauhkannya dari hal-hal buruk, menjaganya untuk selaras dalam lindungan kasih sayang semesta. Kidung ini adalah simbol toleransi yang ditanamkan pada sang jiwa. “Sungguh tepat tentunya kidung ini dilantunkan pada situasi pandemic seperti sekarang ini agar senantisa seluruh jiwa diberikan selamat,” ucapnya.


“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Tari Legong Kraton bagian Condong


Pendiri Antida Music Production, Anom Darsana mengatakan, panggung tari kembali bergeliat setelah jeda yang cukup panjang. Penari rindu untuk menginjak panggung dan melakukan latihan olah tubuh menciptakan dan mengeksplorasi gerakan gerakan yang dinamis. “Panggung ini merupakan wadah bagi para seniman untuk bereksplorasi. Bahkan menjadi ruang ekspresi yang membebaskan untuk menampilkan karya-karya mereka yang tiada member sekat pada tradisi atau modern,” sebutnya.


“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Tari Kidung Pangraksa Jiwa


“Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Tari Kidung Pangraksa Jiwa


Kekayaan seni tari tradisi di Indonesia begitu beragam dari Sabang sampai Merauke dan tiada habis untuk dijelajahi. Warisan seni tradisi ini dapat memberikan inspirasi untuk menciptakan karya kreasi baru. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendukung kegairahan para seniman tari untuk kembali kepanggung. “Disamping itu, pentingnya untuk melestarikan tari tradisi dan mengajak generasi muda untuk mencintai seni tari tradisi di balik gempuran modernisasi,” tutup Anom Darsana. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *