December 2, 2020
Kreasi

Tradisi Tutur Dalam Panggung Bertutur

Tradisi tutur sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan menjadi bagian dari tradisi yang tumbuh berkembang di masyarakat. Sebuah cerita yang syarat dengan nilai-nilia adat dan mitos disampaikan secara lisan. Uniknya, orang tidak pernah membosankan mendengarnya, walau itu dilakukan setiap hari. Tradisi tutur itu, masih sangat kental dan masih lestari diberbagai daerah di nusantra hingga saat ini.

Lalu, bagaiman jika tradisi tutur itu disajikan dalam panggung?

Pastinya, sangat menarik. Itu telah dilakukan oleh Kadek Purnami, seorang penulis yang membawakan karya cerpennya dengan pendekatan sastra panggung bertajuk “Panggung Bertutur’. Pentas panggung bertutur itu telah ditayangkan di kanal youtube Budayasaya Kemendikbud, pada tanggal 10 Oktober 2020 lalu. “Panggung bertutur ini adalah sebuah pementasan sastra panggung merupakan bagian dari sebuah siklus buku “Sebab Cinta”,” ungkat Kadek Purnami yang juga penulis buku itu.


Tradisi Tutur Dalam Panggung Bertutur


Dalam panggung bertutur ini, itu Kadek Purnami membawakan enam buah cerpen, dan tiga diantaranya cerpen yang berlatar belakang kisah adat Bali yang kental, seperti Cerpen Gelung, Kemuning dan Amarah. Ia juga membawakan tiga nukilan cerpen yang lebih membawa tema romansa, seperi Pulau Impian, Bayang Bayang dan Sebab Cinta. “Buku Sebab Cinta itu telah diterbitkan untuk menyapa pembaca, bahkan sudah alih wahana menjadi bentuk buku suara yang dapat di dengar. Kini, saya hadirkan dalam sebuah pementasan yang saya intepretasikan sebagai sebuah sastra panggung,” paparnya.


Tradisi Tutur Dalam Panggung Bertutur


Menariknya, pendekatan Sastra Panggung yang digunakan berbasis pada kolaborasi antara penutur dengan musisi, koreografer dan visual artist. Sebut saja diantaranya, tampil musisi Jazz Yuri Mahatma, Astrid Sulaiman, Balawan, Rizal Abdulhadi, Rio Herwindo, Fendi Rizk, Komang Sraya, Wayan Gde Yudane dan Genggong Kutus. Sementara koreografer muda Agung Iswara dari Swaradanta merespon panggung bertutur melalui gerak dan tari. Panggung bertutur ini mengambil setting tempat di Arma Museum Ubud yang direspon dengan visual mapping oleh Wahyudi Ape Motion.

Pendiri Antida Music Production, Anom Darsana Produser mengatakan, ini adalah sebuah kolaborasi pementasan yang indah, semua memiliki kekuatan tersendiri baik dari sisi penutur, musik, koreografi tari dan video mapping. Setiap elemen yang ditampilkan, baik secara visual maupun audio akan memberikan pengalaman dan sensai aural yang berbeda. “Walaupun bertutur terkesan tradisi, namun disini kita memberi sentuhan teknologi visual dan audio sebagai sebuah inovasi, sehingga menjadi perpaduan yang unik,” ucapnya.


Tradisi Tutur Dalam Panggung Bertutur


Pementasan Panggung Bertutur yang disajikan Antida Music Production dan didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai salah satu kegiatan dalam pemajuan kebudayaan dan kreativitas. “Nusantara ini begitu kaya dengan tradisi tutur atau lisan yang ada di setiap daerah, seiring perkembangan jaman terkadang tradisi itu mulai punah, namun disini saya mengapreasiasi kepada generasi muda yang kembali menekuni tradisi bertutur yang beradaptasi dengan teknologi dan inovasi kekinian yang lebih kontemporer,” ujar Himar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *