March 2, 2021
Ulasan

“Ghora Manggala” Tari Persembahan Terinspirasi Dari Tradisi Ritual Ngerebeg

Sempat menyaksikan “Tari Ghora Manggala” yang sudah tayang di kanal YouTube Bumi Genteng, sejak tanggal 2 November 2020? Karya seni ini menyajikan gerak tari yang indah dan syarat pesan. Nilai-nilai positif dibalut gerak serta busana sederhana. Pola lantai tidak terlalu ribet, namun sangat mendukung garapan seni itu. Lima penari tak hanya lihai mengekspresikan gerak, tetapi juga dituntut piawai dalam memainkan tempo gamelan reong. Menari sambil memainkan alat musik memang tidak mudah, diperlukan konsentrasi tinggi serta dasar-dasar seni tari dan musik yang kuat. Nah, disitulah keunikan karya tari berdurasi empat belas menit itu.

Tari Ghora Manggala

Tari Ghora Manggala diciptakan oleh seorang koreografer muda bernama I Wayan Adi Gunarta. Tari ini terinspirasi dari tradisi ritual ngerebeg yang ada di Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Ngerebeg sebagai sebuah ritual (tolak bala) bertujuan untuk memohon perlindungan, keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta dipercayai oleh masyarakat setempat untuk memproteksi dari segala bentuk wabah penyakit dan mara bahaya. Adi Gunarta berpandangan, makna dari ritual ini sangat kontekstual dengan kondisi dunia dewasa ini yang tengah dilanda pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah menyebar dengan begitu cepat di seluruh belahan dunia.

Wabah Covid-19 menjadi pemikiran yang memantik ide kreatif Dosen Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu untuk mewujudkan sebuah karya tari dengan mengangkat nilai religi dan nilai sosial dalam berkehidupan pada ritual ngerebeg. Penciptaan karya Tari Ghora Manggala ini, dimaksudkan sebagai suatu bentuk persembahan dalam wujud karya seni pertunjukan. Ghora berarti hebat; kuat; dahsyat. Manggala berarti doa selamat; upacara penyelamatan; upacara untuk mendapatkan keselamatan (Mardiwarsito, 1981: 203,342). Kata Manggala juga berarti pemimpin dan pelindung.

Berdasarkan arti tersebut, maka Ghora Manggala dimaknai sebagai dahsyatnya kekuatan
doa untuk memohon perlindungan, keselamatan dan keseimbangan semesta, serta harapan agar
terbebas dari segala wabah. Doa dan harapan diwujudkan oleh penata ke dalam bentuk gerak
tari dan alunan, irama musik. Karya tari kontemporer berbentuk kelompok ini didukung oleh 5
(lima) penari putra yaitu Dendi Dwi Karyana, Ari Susana, Yodie Hariscandra, Surya Pramana,
dan Bagus Sastrawan. Musik tarinya dimainkan oleh seorang komposer I Kadek Janurangga.

Menggarap sebuah tari, bisa datang dari berbagai inspirasi. Karya Tari Ghora Manggala sendiri merupakan hasil interpretasi dan pemaknaan atas nilai-nilai yang terkandung dalam ritual ngerebeg yang ditransformasikan dalam bentuk karya seni. Tarian ini merupakan bentuk ungkapan doa dan harapan penata untuk memohon keseimbangan alam semesta (Bhuana Agung dan Bhuana Alit). Gerak tarinya bersumber dari gerak-gerak tari bebarisan serta mengangkat unsur-unsur gerak sesanghyangan untuk membangun nuansa magis dalam karya.

Tari Ghora Manggala

Konsep gerakan karya tetap mengacu pada prinsip-prinsip keindahan tari Bali, yaitu agem, tangkis, tandang, dan tangkep. Prinsip-prinsip estetik tersebut diimplementasikan untuk membangun spirit (‘roh’) pada karya sehingga tetap menampilkan ‘energi Balinya’. Musik tarinya memadukan antara musik internal dan musik ekternal. Musik internal bersumber dari lantunan kidung, pengolahan nafas dan suara (vokal) dari penari maupun pemusik yang ditata membentuk irama yang ritmis dan dinamis. Selanjutnya untuk musik eksternalnya, menggunakan 3 (tiga) instrumen yakni Kkwaenggwari, Janggu, dan 5 (lima) buah pencon Reong Semar Pegulingan, yang membangun suasana riuh-bergemuruh dalam karya.

Tari Ghora Manggala mengambil gambar atau video di panggung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia Denpasar. Tari ini dipertunjukan secara virtual (premiere) melalui kanal YouTube Bumi Genteng atau Link YouTube: https://youtu.be/MX_CXBfZhho. Penciptaan Tari Ghora Manggala merupakan hasil dari hibah Penelitian dan Penciptaan Seni (P2S), dana DIPA Institut Seni Indonesia Denpasar tahun 2020. Penelitiasn dilakukan oleh koreografer sendiri, I Wayan Adi Gunarta sebagai Ketua dan Ida Ayu Wayan Arya Satyani sebagai anggota. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *