November 26, 2021
Pernik

“Diorama Cronic” Pameran Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Pameran seni rupa di Rumah Paros ini memang unik. Masih dalam masa pandemi Covid-19, dan berlangsung di penghujung tahun 2020. Karya seni yang disajikan juga sangat beda, sebab sebelas (11) perupa Bali pendukung pameran itu menampilkan karya-karya seni merupakan olah kreatif dari merespon pandemic Covid-19. Dengan mengangkat tema “Diorama Cromatic”, masing-masing seniman merspon pandemic dari berbagai sisi. Pameran yang berlangsung di rumah Jalan. Margapati, Banjar Palak, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Sebelas perupa yang menyajikan kary6a seninya itu, yakni I Kadek Rudiantara (Aboet ), Made Astika Yasa, Putu Adi Suweca (CYX Daeng), I Kadek Dedy Sumantra Yasa, Ito Joyo Atmojo, I Gede Made Surya Darma, I Made ‘’Lun’’ Subrata, I Ketut Putra Yasa, I Gusti Made Wisatawan, Raden Bagus Surya Ningrat. Mereka menampilkan karya berupa lukisan, patung dan seni instalasi. Pameran dibuka pengamat seni Agus Maha Usadha, Rabu, 30 Desember 2020 dan berlangsung hingga 20 Januari 2021 mendatang.

Tema Diorama Cronic itu diambil sebagai respons atas situasi Pandemi Covid 19 yang sudah kronis melanda dunia. Diorama diartikan sebagai benda miniatur, tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan. Sedangkan kronis yang biasanya banyak dipakai dalam istilah kedokteran, menunjukkan kondisi atau sifat penyakit yang telah lama terjadi. Pada kondisi ini, penyakit bersifat persisten dan biasanya telah berdampak pada beberapa sistem tubuh.

Sebelas seniman yang berpameran tersebut merespons kondisi dunia yang kronis, dengan karya dua dimensi dan tiga dimensi. Dalam karya seni yang tiga dimensi bukan lukisan, ada karya dari I Gede Made Surya Darma. Perupa asal Tabanan ini merespon crinisnya dunia di masa Pandemi ini dengan menampilkan karya berupa poto performative. Judulnya blind In Paradise, dengan memotret sosok dirinya yang matanya di tutup dengan kain putih, yang sedang makan salad buah dan toest berupa pulau. Hal itu, sebagai simbul akan Bali yang bergelimbang pariwisata, namun dibutakan dengan kenyamanan pariwisata tersebut. Akhirnya dimasa Pandemi in Bali mendapat pukulan keras ekonomi, karena Bali pengasilan utamanya Pariwisata,

Pameran Sebelas Perupa

I Kadek Dedy Sumantra Yasa menyajikan karya bermakna bahwa dalam masa susah ini, ada satu jalan yaitu berserah kepada-Nya. Hanya menggunakan kekuatan apa adanya simbul dari satu senar tersebut. I Ketut Putrayasa, dengan karya Instalasi berjudul “Apa Pertimbanganya” yang menampilkan Krupuk sebagai representasi masyarakat kelas bawah. Pada saat-saat situsi kronik (kronis), mereka perlu adanya sebuah kepastian bukannya selalu digantung, seperti miniatur (diorama) kehidupan yang dipertontonkan. Bahkan, seakan-akan kesulitan mereka hal yang seksi, gurih dan renyah. Kehadiran dasi mewakili eksistensi kaum elit dan hak dalam meregulasi kebijakan, namun seringkali kebijakan hari ini terasa renyah ditelinga, namun esok hari,

Pameran Sebelas Perupa

Pameran Sebelas Perupa

I Kadek Rudianta (Aboet) menampilkan karya Modipikasi Motor yang dia rubah, seperti monster makhluk imajiner. Baginya, dengan berkembangya industri yang begitu pesat, terkadang dimasa Pandemi ini, dia rasakan industry itu seperti meneror kehidupan manusia layaknya monster. Motor modifikasi itu simbul dari kegelisahannya itu. Ito Joyoatmojo, seniman Indonesia yang lama tinggal di Swiss ini meresponsnya dengan membuat lukisan bertema makanan dengan microdetail. Dengan melukiskan objek makanan secara macro, sebagai simbol untuk merespons bahwasannya di berbagai daerah, dalam menjalankan hidup di masa pandemic, makanan itu sangat penting. Banyak keluarga harus berjuang keras untuk mendapatkan makanan. Karena itu, berbagi dimasa pandemi sangatlah penting.

Made Lun Subrata menampilkan lukisan abstrak yang memperlihatkan seperti pulau yang sesak dengan kehidupan, namun di sisi lain ada cahaya. Ini mengandung pesan bahwa dimasa yang susah ini, tentu masih ada jalan terang untuk kita bertahan hidup. Seniman Buyung Mentari, meresponsnya dengan lukisan batik yang berbentuk abstrak, menyimbulkan tidak menentunya masa depan yang dia rasakan. Made Surata meresponsnya dengan melukiskan kejayaan buah Vanila. Dulu buah vanilla Bali adalah emas hijau yang paling bagus diekspor ke berbagai negara. Baginya, sebagai seorang seniman dan sekaligus petani, ia ingin menyampaikan kegelisahannya bahwa vanili Bali sudah mulai langka. Ini perlu dibudidayakan untuk menopang kehidupan petani.

Begitu juga seniman lainnya, seperti Made Astika Yasa, Putu Adi Suweca (CYX Daeng ) I Gusti Made Wisatawan, Raden Bagus Surya, meresponsnya dengan karya lukisan dengan mix media untuk mengungkapan kegelisahanya tentang masalah Covid-19 yang kronis tersebut. Dengan kegiatan kreatif ini, kita bisa release suasana hati yang sumpek, sebagai curahan jiwa yang serba terbatas.

Founder Rumah Paros, Made “Kaek” Dharma Susila merespons positif semangat para perupa untuk memamerkan karyanya. Rumah Paros merupakan sebuah ruang seni yang dibangun berdasarkan konsep Asta Kosala Kosali, sistem arsitektur rumah Bali yang dibangun sejak 20 tahun yang lalu. Bale daja Rumah Paros yang biasanya digunakan untuk menerima tamu, difungsikan sebagai ruang berkesenian. Sebab, seni dan budaya sebagai dasar hospitality sangat penting dilestarikan.

Menurutnya, pameran kali ini sangatlah penting sebagai penutup tahun 2020. “Saya menyambut baik semangat teman seniman yang begitu tinggi di tengah kondisi pandemi. Mereka ikut mempersiapkan pameran ini secara kilat yang digagas I Kadek Dedy Sumantra Yasa. Kami memfasilitasi ruangnya sebagai tempat untuk menampilkan karya kreatifnya. Tentu dengan segala keterbatasan dimasa pandemi ini. Kami harapkan semua pengunjung menerapkan protokol kesehatan dengan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak), menimbang kasus Covid-19 masih melanda dunia,” ujar Made Kaek yang juga seniman dan pelaku pariwisata ini.

Dalam kesempatan itu Made Kaek juga mendorong seniman untuk selalu bersemangat. Jangan menyerah memperkaya kegiatan seni dan budaya di Indonesia melalui jalur kesenian. ‘’Sebab, itu merupakan panggilan batin kalian, salah satu dengan membuat karya seni. Kita membuat legacy dalam hidup ini,’’ ujarnya Made Kaek yang sudah melalang buana mengikuti kegiatan kesenian dan juga terlibat dalam pameran Made Wianta dan kawan kawan di Venice Bienale. [B/*]

Related Posts