Sanggar Seni Maha Widya Natya Dengan Sesolahan “Lingga Acala”

 Sanggar Seni Maha Widya Natya Dengan Sesolahan “Lingga Acala”

Sempat buka dan menonton di Channel Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali?

Sanggar Seni Maha Widya Natya pada ajang Bulan Bahasa Bali 2021 menyajikan sesolahan seni sastra berjudul “Lingga Acala”. Sanggar yang didukung sebanyak 35 penari, penabuh, dan crew ini ditayangkan pada Sabtu, 6 Februari 2021 pukul 19.00 WITA. Pada penampilannya saat itu, Sanggar yang dipimpin I Ketut Rudita, S.Sn mengambil cerita Pemutaran Gunung Mandara Giri sebagai bentuk penjabaran dari tema perhelatan Bulan Bahasa Bali, yakni “Wana Kerthi.

Rudita yang akrab disapa Sokir dalam pementasan seni bondres itu, menyajikan sesolahan (pagelaran) seni sastra yang lebih pada pemajuan multi media. Walau demikian, unsur tradisi seperti vokal (tembang), gerak tari dan musik menjadi fokus dalam penggarapannya. Antara gerak tari, iringan, properti yang dimainkan dan tempat sebagai pementasan tampak serasi, sehingga membuat sajian seni itu menjadi lebih menarik.

Semua unsur seni itu tidak berdiri sendiri, melainkan mengeksplor alam, sehingga ada makna-makna positif yang disajikan. Pesan moral, khususnya menjaga alam lestari menjadi inti dari sesolahan tersebut, sehingga setiap gerak, busana, property dan tempat sangat mendukung. Music, tak hanya menjadi ilustrasi, melainkan benar-benar memberikan jiwa terhadap setiap gerak dan mampu memberi warna setiap adegan. Pengambilan gambar semuanya di alam yang disesuaikan dengan kebutuhan adegan, seperti di Batu Alam daerah Batuyang, dan beberapa tempat di Guang Gianyar.

Nada-nada gender dan alunan tembang klasik sebagai music iringannya, terasa menyatu dengan alam. Para penari bergerak seakan menyatu dengan alam. Mereka menari di lumpur, air dan juga di kori agung bukannya tanpa makna. Semua itu bersumber pada sastra yang diungkap lewat seni multi media. “Konsep garapan ini adalah pemajuana multi media dengan mengangkat cerita pemutaran Mandara Giri. Unsur vokal dan gerak tari semuanya mengekplor alam, sehingga sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali, “Wana Kerthi”,” kata penabuh dan penari ini serius.

Baca Juga:  “NG” Garapan Seni Komunitas Bumi Bajra Artikulasikan Bilah-bilah Selonding

“Lingga Acala” mengisahkan, pada zaman dahulu di Tanah Jawa, tidak pernah hentinya ada gempa, yang mengguncang dunia. Semua berawal dari tidak adanya gunung atau Giri Mandara sebagai penyeimbang alam. Hal tersebut mengakibatkan Dewa Mahakarana mengutus para Dewa, Resieng Langit, Suranggana, Widyadara, Gandara agar segera menuju Jambu Dwipa mengambil bagian dari gunung Mahameru untuk diletakkan di Tanah Jawa, dengan tujuan agar tentram dan sejahteranya Tanah Jawa.

Pada saat memutar gunung Mahameru tersebut, tanpa disangka, para Dewata kehilangan kekuatan serta meminum air yang keluar dari gunung tersebut. Air tersebut bernama Kalakuta yang bisa mengakibatkan seseorang kehilangan nyawa. Sadar akan kondisi tersebut, Dewa Parameswara segera mengusap dan meminum air tersebut. Itulah yang menyebabkan beliau disebut Dewa Nila Kanta. Karena berhasil menyadarkan pikirannya, lantas Dewa Parameswara menyupat atau mengubah tirta kalakuta itu menjadi Tirta Amertha Siwamba. Tirta Amretha itulah akhirnya menghidupkan kembali para Dewata sehingga kembali seperti sediakala. [B/*]

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.