November 26, 2021
Tradisi

Membaca “Lontar Tutur Pajyut” Lontar Satua Koleksi Disbud Bali

Generasi membaca lontar? Jaman sekarang, anak-anak membaca lontar itu sudah biasa. Mereka bahkan, membaca lontar yang tergolong “wayah” (lontar yang biasa dibaca para senior). Gak percaya, lihat saja anak-anak setingkat SMP terlibat dalam Wimbakara (lomba) Ngwacen Aksara Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Kamis 18 Februari 2021. Para peserta membaca lontar berjudul “Pajyut”, lontar yang tergolong klasifikasi lontar satua koleksi Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali.

Lontar Tutur Pajyut

Lontar ini diperkenalkan pertama kali ke publik. Ada sebanyak 7 peserta merupakan duta dari kabupaten dan kota di Bali. Sementara Kabupaten Tabanan dan Bangli tidak hadir. Kegiatan lomba ini tetap dengan protocol kesehatan (prokes) yang ketat. Para pembaca lontar di atas panggung dengan waktu 10 -15 menit terlaksana dengan baik dan lancar. Dewan juri pun tertegun, karena baru mengetahui lontar yang belum pernah dipublikasikan ke publik itu, para peserta mampu membacanya dengan baik.

Lontar Tutur Pajyut

Ke tujuh peserta lomba ini mendapat apresiasi luar biasa dari dewan juri, karena mampu secara teknik, ekpresi dan penampilan disajikan dengan baik. Setelah diseleksi secara ketat, I Gusti Putu Weda Adi W duta Kabupaten Badung meraih juara I, disusul A.A Gede Wiraputra Duta Gianyar Juara II dan I Komang Alit Astawa dari Kabupaten Klungkung meraih Juara III. Sebagai dewan juri yaitru Drs. I Wayan Suteja, M.Hum., (Dosen Universitas Udayana), Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M.Hum., (Dosen Universitas Udayana), dan Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A., (Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar).

Suteja mengatakan, intonasi, penampilan, ekspresi walau diakui teks lontar ini sangat sulit untuk dibaca, namun dirinya memberi apresiasi luar biasa kepada para remaja ini mampu membaca teks lontar ini. Dirinya bersama juri lainnya sangat salut dengan kemampuan rata-rata para pelajar yang ikut lomba kali ini, yang sejatinya mereka mempunyai pengalaman membaca lontar. “Teks lontar ini, sedikit berbeda dengan gaya aksara Bali pada umumnya. Sebagian besar tulisan di lontar ini mengabaikan pasang aksara, pembaca harus jeli disini diperlukan kecerdasan merangkai menjadi kata-kata yang dimaksud, syukurnya ini masih bahasa Bali, tetapi kalau bahasa Jawa Kuno lebih ribet lagi,” tutur Suteja.

Meski demikian, jangan kapok karena kesulitan membaca lontar yang belum pernah sama sekali dibaca, apalagi teks lontar yang dipilih oleh panitia belum banyak dipublikasi. Namun inilah proses latihan, semakin banyak yang membaca lontar banyak pula tutur yang bisa diungkap. “Contohnya lontar satua Pajyut ini, ternyata panitia sangat tepat memberikan pilihan lontar ini untuk dijadikan bahan membaca aksara Bali, isi lontar tentang tutur berjudul Pajyut ini mengisahkan cerita logika di tengah perseteruan antara orang tua dan anak,” imbuhnnya.

Prof. Surada menjelaskan, tutur ini sangat relevan dengan situasi kekinian. Dua tokoh antara si ayah dan si anak berkonflik. Dimana ayah mempertahankan sikap feodal atau tradisi agar si anak tetap tinggal di desa sedangkan anaknya sangat bertolak belakang. Anaknya menentang dengan memberikan pandangan dengan nalar dan logika bahwa ada kehidupan modern yang harus ditempuhnya. “Contohnya, kenapa terlalu kaku dengan tradisi yang belum tentu kebenaranya, dan si anak memilih meninggalkan desanya. Sang ayah tetap mempertahankan agar si anak tetap di desa namun anaknya lebih pada keyakinanya bahwa merantau jalan keluar,” paparnya.

Pada intinya tutur Pajyut ini mengisahkan tentang pengetahuan logika. Mencari kebenaran misalnya kalau sakit kenapa harus ke Balian yang tidak jelas, sebaiknya seorang balian yang memiliki pengetahuan Usadha, pengobatan yang baik dan sebagainya.

I Gusti Putu Weda Adi W, siswa SMP Negeri Mengwi, Kabupaten Badung ini sangat senang dan tidak menyangka mampu memenangkan lomba dengan meraih juara I. “Saya sangat senang bisa terpilih sebagai juara I. Saya tidak menyangka mampu menjadi juara I tingkat Provinsi. Saya membaca lontar ini sangat susah, dan belum pernah membaca ini baru pertamakali,” akunya bangga.

Sedangkan IGN Wiriawan selaku panitia lomba menambahkan, lontar berjudul Pajyut memang sengaja dipilih karena memuat tutur atau cerita yang unik dan relevan di masa kini. Ada konteks nilai -nilai dalam lehidupan sosial antara kehidupan tradisi dan modern. Dengan dipekernalkan teks -teks cukup tua ini, diharapkan pengetahuan ruang baca lontar semakin banyak dikenal. “Lontar ini koleksi Disbud Provinsi Bali, dari sejarahnya tergolong tua, memang gaya tulisanya cukup sulit dibaca namun konteks ceritanya sangat bagus untuk diungkap, sangat kekinian,” tutupnya. [B/*]

Related Posts