April 20, 2021
Ulasan

Sanggar Maha Bajra Sandhi Garap Sesolahan Seni Sastra “Bubuksah Gagangaking”

Sanggar Maha Bajra Sandhi (MBS) menyajikan sesolahan (pergelaran) seni sastra berjudul “Bubuksah Gagangaking” dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2021. Pergelaran berdurasi 45 menit ini ditayangkan melalui YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Kamis, 25 Pebruari 2021. Garapan seni yang didukung 25 orang anak-anak MBS itu konsep besarnya oleh Ida Wayan Oka Granoka didampingi oleh Byang Supraba serta disutradarai oleh Cok Sawitri dan Dayu Ani. Sebagai pengarap yang menterjemahkan konsep yaitu Dayu Ani, Dayu Ade, Dayu Mang, Dayu Gek dan Gus Torang.

Abstraksi-abstraksi pergelaran Maha Bajra Sandhi yang penuh dengan makna simbolis, menuntun kita semua untuk mampu melaksanakan tugas-tugas yang mulia didasari dengan nilai kepribadian “lastyaga” (iklas) dan bersiap tantangan didepan sudah menunggu. Hal itu perlu sebuah keyakinan untuk menguatkan diri pada imun pemikiran yang integral.
Melalui garapan seni ini, Sanggar Maha Bajra Sandhi ingin menyampaikan pesan, bahwa hutan adalah tempat menggelar tapa brata.

Bubuksah Gagangaking

Cerita yang diangkat bersumber dari sastra sinkretis siwa-budha yang mengisahkan, dua orang bersaudara bernama Gagangaking (sang kakak) dan Bubuksah (adiknya), berniat melakukan tapa brata. Mereka belajar dari seorang guru, namun dalam pelaksanaan lakú bertapanya menempuh dua jalan yang berbeda. Gagangaking bertapa di puncak gunung. Ia membatasi makan dan minum serta kenikmatan duniawi sebagai laku prihatin untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi. Akibatnya tubuhnya menjadi kurus-kering; itulah yang menyebabkan ia dijuluki Gagangaking (artinya “tangkai kering”).

Sebaliknya, sang adik Bubuksah, yang artinya “usus serakah” menempuh laku dengan menjadikan hutan sebagai tempat pertapaan. Ia menikmati segala hal yang duniawi, termasuk makan dan kesenangan, sebagai bentuk “tantangan” kepada tubuhnya sendiri sebagai bentuk pencapaian spiritual. Gagangaking, sebagai kakak mencoba mengingatkan Bubuksah agar meninggalkan cara laku tersebut, yang dianggapnya membuat sang pelaku mudah tergelincir dalam kenikmatan duniawi. Bubuksah menolak peringatan tersebut. Akhirnya, kedua bersaudara tersebut terlibat dalam perdebatan.

Bubuksah Gagangaking

Menyaksikan perdebatan tersebut, Batara Guru menjadi prihatin. Maka, diutuslah Dewa Kalawijaya untuk menguji keteguhan hati kedua pertapa tersebut. Dalam wujud harimau yang kelaparan, Kalawijaya mendatangi Gagangaking. Ia bermaksud untuk memangsa Gagangaking untuk menghilangkan laparnya. Gagangaking menolak maksud sang harimau dengan menyatakan bahwa ia terlalu kurus untuk dijadikan mangsa.

Selanjutnya, sang harimau menemui Bubuksah dan menyatakan ingin memangsanya. Ternyata, Bubuksah menyediakan dirinya untuk dimangsa sang harimau karena menganggap itulah saatnya bagi dia untuk menuju tujuan lakunya, menghadap dewa. Sang harimau lalu menyatakan bahwa Bubuksah dinyatakan lulus ujian dan mempersilakannya naik ke punggungnya untuk kemudian diantarkan menuju tempat para orang suci.

Bubuksah Gagangaking

Namun, sebelum berangkat, Bubuksah meminta sang harimau agar sang kakak, Gagangaking, juga ikut serta dengannya, dengan alasan ia pun juga telah melakukan laku tapa dengan tulus. Sang harimau menyetujui tapi dengan syarat Gagangaking tidak naik di punggungnya. Akhirnya Gagangaking ikut serta dengan berpegangan pada ekor sang harimau menuju ke tempat para orang suci.

Selaku penggarap, Gus Torang mengatakan, kali ini Maha Bajra Sandhi menampilkan sebuah pergelaran dengan genre baru “gelar episteme” (seni-sains-fondasional). Sajian ini memiliki keunikan karena menyiratkan kesemestaan ruang konsepsi Ida Wayan Oka Granoka. “Sangat menarik dan dibuat terjun menerka untuk menemukan maknanya. Seluruh substansi pemikiran dan pagelarannya sangat bertalian dengan program besarnya Maha Bajra Sandhi, dalam perayaan siklus besar abad 21, 7 Abad Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Sesuai dengan tersebut, maka mengangkat cerita sumber sastra sinkretis siwa-budha “Bubuksah Gagangaking”. Walau demikian, Ida Wayan Oka Granoka tidak hanya terhenti pada teks-teks tersebut, melainkan mengelaborasi teks-teks yang bersumber dari puja weda, dan sutasoma. “Disitu Ada landasan dasar filosofi yang sangat sublim pada pergelarannya,” ungkap seniman muda sering didapuk sebagai duta seni keluar daerah dan luar negeri ini serius.

Alumnus Kajian Budaya Pascasarjana Unud ini melanjutkan, dari elaborasi karya-karya sastra tersebut, maka bentuk penyajiannya menampilkan Sang Macan Angareng utusan dari surga turun untuk menguji sang dua petapa bersaudara, yakni Bubuksah dan Gagangaking. Kedua pertama itu diabstraksikan dengan gerak tari legong. “Kami menambah lantunan kidung-kidung, gerak tari yang dinamis dan “tetabuhan” gamelan merupakan konsep kesatuan utuh dalam beryoga pada pegelarannya “Megamel ida mayoge, masolah ida mayoga”,” paparnya.

Meski dirundung situasi pandemi tidak menghentikan kiat-kiat dalam menyikapi fenomena dunia. “Untuk menyikapi hal itu, secara kontekstual Maha Bajra Sandhi memberikan solusi-solusi dalam bentuk “caru” sesaji kontemplasi pada jalan pengetahuan kesatuan integral. Karena itu, menghadirkan sosok Durga dengan keangkerannya, namun juga lemah lembut gemulai, sang pelebur dalam diri, pemusnah gering ketika diterpa pandemi,” ujarnya. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *