Ida Bagus Ketut Suarjata; Memainkan Wayang Itu Belajar Etika, Estetika dan Logika

 Ida Bagus Ketut Suarjata; Memainkan Wayang Itu Belajar Etika, Estetika dan Logika

Cita-citanya dulu adalah polisi. Namun, dalam perjalanan hidupnya yang sejak kecil sudah biasa merantau, semua itu mengubah impiannya. Factor ekonomi dan lingkungan juga memberikan pengaruh, sehingga ia akhirnya tumbuh menjadi seniman. Tepatnya, menjadi seorang dalang yang bertugas memainkan wayang kulit (boneka dua dimensi terbuat dari kulit sapi). “Saya berprofesi sebagai seorang dalang wayang kulit yang bertugas untuk menghibur ataupun menjalankan ritual melalui pementasan wayang lemah,” ucapnya.

Ida Bagus Ketut Suarjata demikian namanya. Pria kelahiran Gianyar, 12 Agustus 1979 ini merupakan seorang dalang wayang kulit dengan jadwal pentas yang padat. Ia tak hanya pentas di daerahnya sendiri yaitu di Banjar Jasru, Desa Belega, Kecamatan Belahbatuh, Kabupaten Gianyar, tetapi juga ke luar kabupaten, bahkan luar daerah. Dalam pentasnya, ia sering didapuk menjadi dalang fragmentary, baik mengambil cerita Babad, Mahaberata maupun Ramayana. Termasuk mendalang untuk fragmentary festival gong kebyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Ia pernah mendukung duta Kabupaten Klungkung pada PKB 2007, PKB 2009 dan PKB 2011.

Ida Bagus Ketut Suarjata

Selain menghibur, seni wayang ini juga sebagai media untuk pendidikan budi pekerti. Sebab, dalam seni pakeliran ini banyak mendapat pengetahuan kehidupan sosial masyarakat, pendidikan agama, pengetahuan agama disamping pendidikan seni. Wayang kulit juga memiliki nilai social, ajaran tentang Ketuhanan dan kebenaran kehidupan mansuia. Orang yang bisa memainkan wayang, secara otomatis belajar tentang etika, estetika dan logika yang sangat bagus. Dalam mempermainkan wayang itu ada sebuah etika, seperti menarikan tokoh raja akan berbeda dengan menarikan punakawan. Menarikan raja yang angkuh dan raja yang darma, juga berbeda. Demikian pula dengan ucapannya, kata-kata yang disampaikan juga berbeda, karena masing-masing memiliki karakter dan warna suara.

Baca Juga:  Visualkan Keunikan Bancangan, Ida Bagus Yodhie Harischandra Garap “Onggar”

Orang yang bisa memainkan wayang, biasanya juga bisa menari. Nah, seniman yang jebolan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), sekarang Uniersitas Hindu Negeri (UHN) Bagus Sugriwa Denpasar ini, juga sebagai pelaku seni pertunjukan. Ia biasa menari topeng wali, topeng sidakarya atau topeng pajegan (seorang penari yang memainkan banyak topeng). Dengan menekuni seni dalang dan tari itu, ia tak hanya ngayah, tetapi sempat dipercaya sebagai duta Kabupaten Gianyar untuk mengikuti Festival Topeng Panca PKB 2016, serta mengikuti festival geguntangan.

Profesi sebagai seniman dalang, bukan berdasarkan keturuan dari seorang dalang. Akan tetapi, saudara dan orang tuanya merupakan seniman tari arja yang memiliki modal suara yang selalu matembang dengan ciri khas Bali yang kuat. Nah, dari seniman arja yang suka matembang itu mungkin menurun, sehingga ia juga suka tembang, sehingga muncul keinginan untuk menjadi seorang dalang. “Saya menjadi dalang atas dasar keinginan sendiri yang tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Di Bali, menjadi seorang dalang itu suatu kehormatan. Setiap masyarakat yang menggelar upacara yadnya (Panca Yadnya), dalang akan selalu dilibatkan dalam proses ritual,” paparnya ramah.

Suami dari Ida Ayu Nyoman Arika dan Desak Ketut Soka ini, selain mementaskan wayang gedog, wayang lemah, wayang wali atau upacara, juga sering memainkan wayang peteng, pertunjukan wayang untuk hiburan. Kalua mendalang, ia dibantu oleh dua dua orang ketengkong (orang yang mempersiapkan wayang) dan didungkung empat penabuh gender. Berbeda halnya kalua memainkan wayang upacara yang hanya didukung dua orang penabuh gender, tanpa diikuti oleh ketengkong.

Walau pertunjukan seni wayang itu untuk hiburan yang dibalut dengan lelucon, namun Ayah dari Ida Ayu Putu Ary Widani, Ida Ayu Sukma Yogi Pertiwi, dan Ida Ayu Putu Cahaya Arnalini ini tetap menyelipkan nilai-nilai moral, dan pendidikan untuk mengedukasi masyarakat agar menghargai dan mengormati dirinya sendiri, orang lain serta alam lingkungan ini. Kisah yang diangkat bersumber dari sastra yang kaya akan filsafat, nilai-nilai pendidikan sebagai sesuluh dalam menjalani kehidupan. Melalui pertunjukan wayang juga untuk mengedukasi generasi muda untuk mencintai sastra untuk mempelajarinya, sehingga warisan budaya leluhur tetap lestari.

Baca Juga:  I Nyoman Hartanegara Lanjutkan Profesi Sang Kakek

Gus Tut demikian dalamg muda ini disapa, untuk menjadi seorang dalang harus memiliki keahlian menarikan walang (tetikesan), wiracerita (memaparkan ceritera) dan keahlian olah vocal (warna suara). “Dalam pertunjukan wayang itu, banyak sekali mengkarakterkan penokohan wayang, sehingga suara seorang dalang harus mampu memberikan jiwa disetiap penokohan wayang kulit yang dimainkan. Nah, disitulah tingkat kesulitan menjadi seorang dalang,” akunya polos.

Ida Bagus Ketut Suarjata

Secara social, lanjutnya, syarat utaman menjadi seorang dalang itu harus memiliki fisik sehat jasmani. Kalau secara ritual seorang dalang sudah menjadi “pemangku”, sehingga diberi gelar Jero Mangku Dalang. Seorang dalang, menjadi dalang itu harus melalui proses penyucian diri disebut dengan pawintenan eka jati. “Upacara itu penting, sebab seorang dalang itu akan selalu mempertunjukan dan menyampaikan aksara-aksara suci, aksara yang bersifat sacral dan pingit yang mampu memberikan fibrasi energi positif,” paparnya.

Disamping mendalang, ia juga sebagai penari topeng pajegan, topeng wali yang juga berfungsi untuk upacara. Lewat seni itu, ia sering tampil dalam festival ataupun parade. Beberapa waktu lalu, ia dipercaya merekonstruksi Tari Baris Bubug di Desa Budaga, Bangli. “Saya menrekonstruksi tari baris sacral yaitu Tari Baris Bubug di Desa Budaga, Kabupaten Bangli. Tari Baris itu merupakan tari sacral yang hanya ada di Pura Dalem Gede Selaungan. Pura ini diemong oleh warga Banjar pande. Tari Baris Bugbug ini lahir berdasarkan pewisik, wahyu dari sesuwunan di pura tersebut. Membangunkan tari baris pingit sudah tentu memiliki dasar sastra atas dasar kebenaran,” paparnya.

Walau sering pentas, Gus Tut yang memang sungguh-sungguh ingin menyelamatna seni pewayangan itu, sehingga memiliki sekitar 15 orang generasi yang mau belajar dan melestarikan kesenian wayang kulit itu. Anak-anak binaanya itu, merupakan generasi yang cerdas dan rata-rata memiliki kemampuan seni. Buktinya, banyak diantara mereka yang sudah biasa ngayah ngewayang atau menampilkan wayang pertunjukan. [B/*]

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.