November 27, 2021
Kreasi

“Peed Aya” Awali Pembukaan PKB XLIII

Awan melintas diatas kepala dengan suara suling yang lamban. Sang Surya di ufuk timur berwarna merah merangkak beri nafas seisi alam. Bening air mengalir basahi tanah, tumbuhkan setiap tanaman untuk kehidupan. Dengan busana bernuansa alam, para gadis menari gemulai seiring dengan nafas alam. Langkah kaki penari pria seakan memberi keyakinan bahwa kekuatan pohon, hutan begitu besar untuk kehidupan setiap mahluk di dunia. Maka, menjaga dan melestarikan hutan dengan segala jenis pohon mesti dilakukan untuk menciptakan kehidupan yang harmoni.

Itulah garapan Peed Aya yang mengawali pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII yang dilaksankan dan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo secara virtual (dalam jaringan) berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Sabtu 12 Juni 2021. Peed Aya bukanlah materi baru dalam hajatan ini, melainkan mutasi dari pawai kesenian pembukaan PKB yang biasanya dilaksanakan secara offline di depan Museum Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Renon. Peed itu artinya pawai dan Aya itu agung, besar. Peed Aya digelar secara on line (virtual) yang ditayangakan melalui Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bertepatan dengan pembukaan PKB.

Konseptor garapan Peed Aya, Kadek Wahyudita, S.Sn.mengatakan, Peed Aya dengan pawai kesenian itu beda pada pola penggarapan yang dikemas dengan taping dan disajiakan secara virtual. Peed Aya merupakan salah satu materi pokok PKB tahun ini yang penggarapannya disesuaikan dengan tema “Pratiti Wana Kerthi” bermakna memuliakan pohon, membangun simponi, harmoni semesta raya menuju kehidupan yang sejahtera dengan jiwa yang maha sempurna. Berpijak dari judul tersebut, maka sajian Peed Aya dibagi menjadi beberapa konsep dengan mengambil setting lokasi di beberapa tempat yang berbeda. Pendukungnya Sanggar Seni Gumiart, Sanggar Gita Semara, Sanggar Palawara, Komunitas Bali Pixelart dan Komunitas Sama Kaki.

peed aya

Peed Aya diawali dengan pengambilan gambar disejumlah lokasi melibatkan sejumlah sanggar dan komunitas seni. Pemilihan tempat syuting sesuai dengan kebutuhan konsep garapan, sekaligus untuk mempromosikan keberadaan objek tersebut kepada masyarakat.
Pengambilan gambar, dimulai dari Bukit Campuhan Ubud, Pura Besakih Karangasem, Desa Penglipuran Bangli, Kawasan Gunung Kawi Gianyar dan Air Terjun Kanto Lampo Desa Beng Gianyar sejak 9 Mei hingga 17 Mei 2021. “Peed Aya ini secara penggarapan berupa video, bukan sajian dokumentasi. Video yang dikemas dengan memadukan beberapa teknik sinematografi, sehingga menjadi sebuah sajian video art,” terangnya.

Kriteria pemilihan objek, diantaranya menyesuaikan dengan konsep garapan, seperti konsep Tri Mandala, yaitu hutan mewakili nista mandala, kampung masyarakat mewakili madya mandala, dan tempat suci mewakili utama mandala. Pemilihan tempat tersebut juga untuk menyesuaikan dengan tema PKB XLIII tahun 2021, yakni Purna Jiwa, “Prananing Wana Kerthi”, jiwa paripurna napas pohon kehidupan. Maka itu, pemilihan latar Peed Aya didominasi hutan.

Penggarap Tari, I Gede Gusman Adi Gunawan didampingi penggarap iringan Ary Palawara mengungkapkan, setiap potensi lokasi yang dipilih menampilkan corak peed yang beragam. Mulai model gebogan, ada gebogan bunga, gebogan buah, kemudian busana dari aneka kain klasik Bali dengan corak khas seperti songket Bali, kain geringsing dan sebagainya. Ada tantangan tersendiri dalam menggarap peed di luar panggung ini. Kami benar benar bertaruh dengan waktu dan cuaca. Maka terkadang jam 5 pagi suada ada dilokasi,” ungkapnya.

Ped Aya yang didukung 100 penari ini dalam penyajiannya menampilkan berbagai seni, budaya dan kebiasaan masyarakat Bali serta disesuaikan denga lokasi, sehingga sajian seni menjadi lebih dan sesuai tema PKB. Materi berupa gebogan bunga dan tedung agung mengambil lokasi syuting di Bukit Campuhan, Gianyar. Konsep peed pada bagian ini menggambarkan keindahan dan keagungan wana (hutan) yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Gamelan sebagai iringannya menggunakan gamelan Balaganjur Bebonangan

Peed Aya dengan meteri gebogan buah dan bagia pula kerti mengambil lokasi di Desa Penglipuran, Bangli. Di desa tradisional ini, konsep peed menampilkan sebuah gambaran, bahwa pohon memberikan berkah sumber pangan bagi kehidupan manusia Bali. Sementara Peed Aya di Jaba Pura Besakih menyajikan konsep Rerejangan dan Baris Tedung yang dikreasikan dengan menggunakan bahan janur. Pada bagian ini, menggambarkan hasil hutan yang biasa dijadikan sebagai bahan persembahan untuk semesta raya.

Di salah satu situs unik yang juga diekpose sebagai lokasi syuting Peed Aya, yaitu di Pura Gunung Kawi yang terletak di Desa Tampaksiring. Pada situs ini, materi Peed Aya berupa topeng dan rantasan yang menggambarkan, pohon memberikan pengetahuan untuk umat manusia tentang adab dan kesujian jiwa. Pada garapan Peed Aya ini juga menghadirkan mitos lahirnya kalpataru yang dikemas dengan koreo lingkungan, sehingga mengambil setting di Air Terjun Kantolampo, Desa Beng Gianyar dan Sungai Pura Gunung Kawi, Kabupaten Gianyar.

Tim Kurator, I Gde Nala Antara dela-sela gladi pembukaan PKB mengatakan, Jika sebelum pandemi, perhelatan PKB diawali dengan pawai pembukaan secara offline di depan Museum Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Renon, namun untuk hajatan tahun 2021 ini diawali dengan Peed Aya yang disajikan secara vitual atau Dalam Jaringan (Daring). “Peed Aya muncul dalam Perda untuk mengganti istilah pawai. Kalau tidak masa pandemi, maka pawai PKB itu diselenggarakan seperti biasanya. Nah, dengan situasi inilah Tim Kurator dan Tim Kreatif megkondisikan pawai itu secara virtual, direkam dengan tetap mengedepankan konsep pawai,” paparnya.

peed aya

Konsep Peed Aya mengangkat ciri khas keunggulana seni budaya di masing-masing kabupaten dan kota di Bali. Awalnya, konsep peed berdurasi 30 menit, namun karena akan dibuka oleh Presiden RI, maka dipersingkat dengan tetap mengedapankan tema besarnya, yaitu Wana Kertih. “Peed Aya secara virtual ini menggambarkan konsep Wana Kerthi dengan judulnya “Pretiti”. Konsep pretiti di Bali itu, dari awal sampai akhir bagamana kita memuliakn hutan itu. Dengan itulah konsepnya, mengedepankan potensi seni budaya di masing masing kabupaten dan kota yang digarap hampir 3 bulan lamanya,” paparnya.

Materi dan bentuknya, itu beda dengan pawai sebelumnya. Pawai ini langsung direkam di alam nyata di kabupaten sesuai dengan konsep awal. Lokasinya memilih temapt-tempat potrensial, seperti di Gianyar, Bangli, Karangasem dan lainnya dengan konsep “ngider bhuana”. Pemilihan lokasi di alam nyata itu, sekaligus itu menggambarkan bagaimana hutan di Bali masih tetap dimuliakan. “Peed Aya ini tetap menggambarkan pawai, tetapi lokasinya di alam terbuka dengan konsep Wana Kerthi dengan pesannya memuliakan pohon atau hutan,” jelasnya.

Nala Antara mengatakan, peed itu tidak mesti dilakukan di jalan raya. Bisa juga mengambil di alam, sebagai konsep orang Bali memakanai pohon sebagai sumber kehidupan. Sebut saja contohnya memanfaat poho jaka (enao). Itu merupakan tanaman hutan yang jarang dikembangakan unutk hal bisnis, tetapi sekaeang itu bisa membuat kesejahteraan yang bisa diambi tuaknya, araknya, disanping untuk sarana upacara. “Karena itu, hampir semua yang ditampilkan ada baham alam, misal dari bambu diulat menjadi sokasi ini sekaligus sebagai edukasi masyarakat untuk pemanfaatkan pohon,” tegasnya. [B/*]

Related Posts