January 23, 2022
Kreasi

Tampil di PKB XLIII Drama Gong Candra Dwipa Angkat Judul “Pusaka Murbeng Bumi”

Penggemar Drama Gong pasti terhibur dengan penampilan Sanggar Seni Sekar Hati yang menyajikan Sekaa Drama Gong “Candra Dwipa” dalam Rekasadana (Pergelaran) pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa 15 Juni 2021 malam. Sekaa seni yang beralamat di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar itu menyajikan pertunjukan seni yang sangat atraktif, kocak dan sarat pesan. Penyajian mungkin sama seperti drama gong tempo dulu, namun dikemas sangat apik. Tema yang diangkat sesasui dengan tema PKB yakni “Purna Jiwa ; Prananing Wana Kerthi”.

Sekaa drama gong yang didukung oleh seniman tiga generasi ini, mengakat judul “Pusaka Murbeng Bumi”. Para pemain tampak piawai membeber kisah, baik yang berperan sebagai punakawan, patih ataupun raja hingga permaisuri. Punakawan yang kocak, terkadang menyelipkan dengan banyolan, sehingga mengundang gelak tawa penonton. Kali ini, penonmton memang dibatasi sebagai penerapan protocol kesehetan. Masyarakat yang rindu dengan seni peran itu bisa menyaksikan lewat Chanel You Tube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Sejak pementasan ini dimulai, penonton sudah menyambut dengan gembira. Maklum mereka, mungkin rindu dengan penyajian seni yang mengutamakan akting dan vokal ini sehingga menyiapkan segala syaratnya, seperti hasil swa negatif, chek suhu, bersihkan tangan dengan hand sanitizer dan memakai masker. Pengunjung juga dibatasai hanya 100 orang saja. Walau demikian, Rawit dan Koplar, dua punakawan raja muda itu mampu mngocok perut pengunjung. Peonton yang terdiri dari orang tua, remaja itu terpingkal-pingkal dibuatnya. Belum lagi lawakan yang dilontarkan Topok dan Golak, dua punakawan raja buduh itu.

Pusaka Murbeng Bumi

Pertunjukan drama ini juga sangat atrkatif dan mampu memancing emosi penonton untuk terlibat dalam alur cerita. Sebut saja, ketika Patih Agung yang licik membuat daya upaya untuk mencelakai Raja Muda, penonton bersorak sinis. Patih Agung yang sebelumnya ingin masuk, namun balik lagi memasuki stage karena umpannya berhasil. Ia kemudian menunjuk penonton lalu, melontarkan kata-kata marah karena penonton tidak memihaknya. Suasana atraktif juga ada pada adegan Raja Buduh yang lucu dan lihai memancing emosi penonton. Belum lagi keempat punakawan, yakni Rawit, Koplar, Topok dan Golek yang lihai dalam mengolah lelucon.

Rawit dan Koplar yang piawai matembang, sering kali melontarkan tembang-tembang yang mengajak orang untuk menjaga dan melestarikan seni budaya khususnya drama gong. Mereka juga mengajak semua orang untuk menjaga segala jenis tumbuhan yang berguna untuk kehidupan manusia. Demikian pula Topok dan Golek yang leluconnya sering menyelipkan ajakan untuk untuk lebih banyak menanam phon, sehingga udara berlimpah yang berguna untuk kehidupan semua mahluk di dunia.

Pesan moral itu semakin kuat, ketika Dukuh menegaskan kepada anak-anaknya untuk tidak menyesali hidup di hutan. Ia lantas menjelaskan bagaimana suksmaning (beruntung) hidup di tengah hutan. Wana kertih itu artinya menjaga hutan dengan segala isinya. Hutun yang memberika kehidupan terhadap hidup manusia. Segala tumbuhan menjaga air, lalu diberika kepada alam termasuk manuis. Maka itu, manusia mesti menghormati hutan, dan mari kita menjaganya secara bersama-sama. Putrinya mengerti dan siap menjaga hutan dengan segala isinya.

Drama Gong yang didukung sebanyak 14 orang pemain dan 19 penabuh itu memang tak hanya sebagai pengobat rindu penghobi drama gong, tetapi juga menyelipkan pesan moral utamanya mengajak semua orang untuk melestarkan alam, terutama tumbuh-tumbuhan. Naskah ditulis oleh Ni Wayan Suratni, S.Sn, M.Sn yang juga sebagai koordinator serta pemeran Galuh Liku yang memiliki sifat buruk. Semantara, untuk pembabakan serta yang mengkemas ide untuk pesan moral itu adalah Jero Mangku Suyadnya. Jero mangku yang juga berperan sebagi Dukuh itu merupakan pemain drama yang sudah sepuh. Maka dalam drama gong ini ia yang bertindak sebagai sutradara.

Pusaka Murbeng Bumi

Adapun kisahnya. seorang raja di Kerajaan Buana Raja yang haus akan kedudukan. Semua raja-raja tetangga ditaklukan dengan berbagai tipu muslihat sampai dengan ilmu hitam. Melihat hal itu, para Dewata menurunkan seorang bidadari yang berupa raksasa bertempat di Alas Kutuh Ireng. Bidadari ini mendapat anugerah sebuah keris yang muncul dari Pohon Kutuh yang sangat besar yang bernama Pusaka Murbeng Bumi. Ia lantas menculik yang memiliki hubungan dinasti dengan raja-raja.

Pusaka itu kemudian diberikan kepada Raja Muda yang menjalankan darma ksatria untuk tetap menjaga keasrian hutan. Raksasa kemudian melepaskan diri dari duniawi mwnuju dengan bantuan raja Muda itu. Raja Buana Raja dengan keris itu menyelesaikan berbagai rintangan. Raja Buana Raja dapat dikalahkan. Disamping kemenangannya, ia juga sangat bahagia karena bertemu dengan jodohnya Gusti Ayu Ulandari yang tidak lain adalah Diah Pradnyawati, sepupunya dari kerajaan Ratna Dwipa yang hilang sejak kecil. [B/*]

Related Posts