January 23, 2022
Kreasi

Parade Gong Kebyar Anak-anak PKB XLIII Duta Kota Denpasar dan Duta Kabupaten Buleleng Tampil Memukau

Panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya, Art Center Bali, seakan digemparkan oleh penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Kota Denpasar dan Duta Kabupaten Buleleng, pada Utsawa (Parade) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII, Minggu 20 Juni 2021. Walau disaksikan melalui Chanel You Tobe Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan disiarkan TVRI Bali, bisa dibayangkan penampilan kedua duta seni ini menggebrak dengan penyajian seni pertunjukan yang sangat aktratif dan kreatif. Tidak hanya menyajikan teknik permaianan gamelan yang kuat, namun kekompakan para seniman cilik dalam bergaya dan menyatukan rasa itu menjadi kesuksesan dalam pentasnya.

Parade Gong Kebyar Anak-anak PKB XLIII

Duta Kota Denpasar yang diwakili Sekaa Gong Kebyar “Eka Panca Sidhi Swara” Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat tampil dengan penuh semangat. Sejak awal hingga akhir pementasannya, ekpresi para penabuh cilik itu tidak pernah berubah selalu ceria, gembiran dan pukulan dalam setiap bilah gamelannya tetap berjiwa. Hal yang sama juga disajikan oleh Duta Kabupaten Bulleng yang dipercaya pada Sekaa Gong Kebyar Julungwangi Desa Bon Dalem, Kecamatan Tejakula. Para pendukungnya bagai pepatah “kecil-kecil cabai rawit”, masih anak-anak tetapi kemampuan dalam memainkan gamelan tak bisa dibayangkan.

Sekaa Gong Kebyar Eka Panca Sidhi Swara memulai penampilannya dengan Penampilan kedua adalah Tabuh Pisan Lelambatan Kreasi “Kalpataru”. Tabuh yang ditata I Wayan Joni Suparma ini menggambarkan hutan, sebuah kawasan ditumbuhi lebat pepohonan mempunyai peran penting bagi makhluk hidup. Manusia dan hewan yang sangat bergantung pada tanaman untuk kelangsungan hidupnya. Nada, melodi dan ritme ditata dengan apik sesuai, seperti liukan pohon di tengah hitan. Manfaat dengan berbagai macam kegunaanya digambarkan lewat nada-nada indah dan penuh makna.

Selanjutnya menampilkan Tari Sekar Jempiring. Tanaman jempiring merupakan “Maskot” Kota Denpasar yang berwawasan budaya dengan warna putih berbau khas tersendiri, terhembus gemulai oleh angin sepoi – sepoi menari disetiap sudut kota. Cantiknya bunga jempiring itu, menginspirasi Bintang Puspayoga untuk menciptakan sebuah tari penyambutan untuk tamu disetiap acara resmi Pemerintah Kota Denpasar. Bunga jempiring ini terselip oleh makna keagungan, keharuman dan kesucian bunga yang disajikan dalam garapan tari. Pola-pola geraknya masih tradisi yang dikembangkan menjadi bentuk baru dan dikombinasi dengan gambelan Gong Kebyar. Tari ini ditata Ida Wayan Arya Satyani dan I Ketut Suandita sebagai penata iringanya.

Gong Kebyar Anak-anak Duta Kota Denpasar

Selanjutnya menampilkan Tari Kreasi “Irenggoak”. Tari ini tergolong unik karena menyampaikan pesan bagi setiap penikmatnya. Irenggoak atau burung gagak berwarna hitam merupakan gambaran penyamaran Anglingdarma berubah bentuk menjadi seekor burung gagak/goak. Penyamaran ini, untuk mengetahui teman perempuannya yang bernama Wedata, Wedati dan Widaningsih yang selalu menghilang setiap malam hari. Ulah penyamaran Anglingdarma menjadi “Irenggoak” diketahui, yang menyebabkan ketiga teman perempuannya marah. Perkelahian pun tidak dapat dielakkan hingga ketiga teman perempuannya tersebut, mengutuk Anglingdarma menjadi seekor burung belibis. Tari ini diciptakan oleh I Made Sukarda dan I Putu Gede Wahyu Kumara Putra dan Ni Komang Wulandari sebagai penata iringannya.

Diawal penampilan, Duta kabupaten Buleleng menyajikan Tari Penyambutan “Sueta Bangkaja” yang merupakan sebuah garapan tari kreasi baru sebagai simbol icon bunga kiblat Buleleng yaitu Padma atau Tunjung. Tari ini diciptakan pada tahun 2016 oleh I Gusti Ngurah Eka Prasetya dan Wayan Gede Arnawa sebagai penata iringannya. Tari ini terinspirasi dari serumpun bunga Teratai Putih kemerah-merahan yang tumbuh di pedalaman hutan Tamblingan. Walaupun hidup tak terawat, penuh lumpur diantara semak belukar, namun memancarkan keindahan, kesucian, serta makna kejujuran yang murni

Gong Kebyar Anak-anak Duta Kota Denpasar

Pada penampilan kedua, duta yang didukung anak-anak setingkat SMP ini menyajikan Tabuh Pisan Lelambatan Kreasi “Majegau”. Tabuh pisan lelambatan kreasi ini, memiliki struktur musik, tabuh yang tidak jauh berbeda dengan pakem tabuh pisan pada umumnya. Pada bagian bantang gending, ada jenis gending tua Bulelengan keras sebagai bentuk penggambaran pohon Majegau yang dibalut dengan ornamentasi dan aksentuasi dengan nafas yang dinamis dan menjadi ciri khas Buleleng. Tabuh ini terinspirasi dari pohon Majegau salah satu kekayaan Hayati khas Bali. Pohon ini kerap kali digunakan dalam prosesi upcara keagamaan akibat aromanya yang harum. Majegau juga dijadikan bahan dasar bangunan suci dan ukiran Bali. Tabuh Pisan Lelambatan Kreasi “Majegau” ditata oleh Putu Tegeh Kertiyasa.

Dipenghujung pnampilan, Duta Kabupaten Buleleng menampilkan Tari Kreasi Kekebyaran “Nyawan Rarud”. Tari ini menceritakan tentang kehidupan koloni lebah madu yang pergi atau rarud dari sarangnya yang telah dirusak. Nyawan ini linglung dan bingung terbang mengikuti sang ratu menacari tempat baru untuk membangun sarang. Tari ini mengandung filosofi, untuk jangan merusak hutan, karena terdapat siklus kehidupan yang seharusnya dijagaa. Merusak hutan secara otomatis merusak tata kehidupan ekosistem di dalamnya. Tari ini ditata oleh I Gusti Ayu Dwi Parwiti dan Ngurah Agung Riski Restuaji sebagai penata karawitannya. [B/*]

Related Posts