January 23, 2022
Kreasi

Genjek Pragmentari “Bhuana Kerthi” Menghibur dan Mendidik

Sepuluh pemain genjek “megending” (menyanyi) dengan lagu-labu berbahasa Bali lumrah menari-nari memasuki stage di Gedung Kesirarnawa, Taman Budaya Art Center Bali. Wajahnya sumringah, dengan balutan busana sederhana, seperti kamen berem (kain hitam), saput poleng (kotak hitam putih), rompi merah dan udeng dengan hiasan bunga jepun di telinga membuat penampilan kesenian tradisional ini lebih menarik. Ketika, tabuh ngasel (sedikit lebih keras dan), sebagian pemain duduk dan sebagaian lagi dibelakang berdiri. Gending-gendingn yang dilantunkan itu penuh makna, terkadang sarat kritik terhadap tingkah manusia di jaman ini.

Itulah penampilan Genjek Pragmentari “Bhuana Kerthi” dari Sekaa Genjek Kadong Iseng Banjar Dinas Bungkulan, Desa Seraya Barat, Kecamatan Karangasem dalam Rekasedana (Pergelaran) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII yang ditayangkan Chanel YouTube Dinas Kebudaan Provinsi Bali, 24 Juni 2021. Kesenian khas dari daerah Bali Timur ini sangat memikat. Walau ditampilkan secara virtual, namun para pendukung kesenian yang mengutamakan suara mulut itu tetap memukau. Para pemain mampu menyajikan seni yang tak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.

Genjek Pragmentari

Menariknya, genjek yang disajikan tak hanya berdiri sendiri, tetapi dipadu dengan seni tari dan dalang, sehingga berbentuk Genjek Pragmentari. Para pendukung menari memaparkan kisah yang ditegaskan oleh seorang dalang, sehingga pesan dan maksud yang ingin disampaikan kepada penonton dapat diterima dengan jelas. Di tengah-tengah pertunjukannya itu, memasukan unsur tari dengan iringan music genjek. Kisah yang diangkat juga penuh filsafat, sehingga totonan ini dapat memberikan tuntunan kepada masyarakat.

Adapaun kisahnya, diawali dari Dewa Brahma yang dikenal sebagai Dewa Api dan sebagai Dewa Pencipta menciptakan 5 orang Dewi, yaitu Dewi Satarupa, Dewi Gayatri, Dewi Saraswati, Dewi Savitri dan Dewi Brahmani. Para Dewi ini sangatlah cantik, sehingga membuat Dewa Brahma jatuh hati kepada Dewi tersebut. Ketika Dewa Brahma menengok ke kanan, muncul kepala beliau dikanan, ketika beliau menoleh ke kiri, muncul kepala beliau dikiri, ketika beliau menoleh ke belakang, muncul kepala beliau dibelakang, dan ketika beliau melihat keatas, muncul kepala beliau di atas. Melihat hal tersebut, para Dewi panik karena sinar dari kepala Dewa Brahma yang diatas sangatlah panas, bahkan mengalahkan sinar matahari. Akhirnya para Dewi melaporkan pada Dewa Siwa.

Dewa Siwa lalu bergegas menemui Dewa Brahma dan memotong kepalanya di atas. Setelah berhasil dipotong, Dewa Siwa membawa kepala tersebut dibuang ke laut. Laut tiba-tioba bergejolak akibat dari dahsyatnya kepala Dewa Brahma. Lalu membawa kepala tersebut ke daratan, ketika ditanam di tanah, tanahpun bergejolak sehingga menimbulkan gempa yang dahsyat. Dewa Siwa mengambil kepala itu dan membawanya ke Gunung Samandani.

Setelah menanam kepala tersebut, tiba-tiba tumbuhlah pohon kelapa yang menjadi sumber daya alam, dan bisa dijadikan sebagai penangkal racun. Dalam upacara di Bali, kelapa disimbolkan sebagai Bhuana Kerti. Struktur dari buah kelapa, terdapat 7 lapisan yang disebut Sapta Petala. Kelapa gading di utara simbol Dewa Wisnu, kelapa bulan di timur simbol Dewa Iswara, kelapa udang di selatan simbol Dewa Brahma, kelapa gadang di barat simbol Dewa Mahadewa, dan kelapa sudamala di tengah simbol Dewa Siwa. Jadi di dalam implementasi wana kerthi dimana kita bisa memuliakan hutan beserta isinya. [B/*]

Related Posts