June 30, 2022
Kreasi

Parade Gong Kebyar Wanita PKB XLIII Duta Kabupaten Jembrana, Gianyar dan Badung Sama-sama Menarik

Ibu-ibu ini tak hanya lihai dalam mengurus keluarga, tetapi juga piawai dalam olah rasa dalam memainkan gamelan tradisional Bali. Lihat saja, penampilan mereka pada Utwasa (Parade) Gong Kebyar Wanita dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII yang ditayangkan melalui Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Penampilan para senimati juga ditayangkan di stasiun TVRI Bali, pada Jumat 2 Juli 2021 sebagai bentuk penerapan Protokol Kesehatan (Prokes), sebuah perhelatan seni di masa pandemi. Seniman wanita ini tampak sumringah. Sambil memainkan gamelam, mereka menari-nari sembari menebar senyum kebahagiaan.

Pada saat itu, tampil tiga sekaa gong wanita yang sangat enerjik, yaitu Sekaa Gong Istri Nareswari Agung duta Kabupaten Jembrana, Sekaa Gong Seni Mahaswara sebagai duta Kabupten Gianyar dan Sanggar Raja Pala Duta Kabupaten Badung. Ketiga seka gong wanita ini masing-masing menampilkan karya seni yang menggambarkan karakter dari daerahnya sendiri-sendiri, sehingga masing-masing duta memiliki keunggulan yang berbeda. Gaya dan ekpresinya juga sangat menawan. Hanya saja, dalam teknik memainkan gamelan itu tidak sama, karena masing-masing duta memiliki jam terbang (pengalaman) yang berbeda.

Gong Kebyar Wanita

Parade gong kebyar wanita ini diawai dari penampilan Sekaa Gong Istri Nareswari Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Mereka mengawali menyajikan Tabuh Kreasi “Kunang-kunang”. Sederhana, namun dapat memberikan rasa senang dan bahagia didalam mengarungi kehidupan. Sebab, dalam tabuh ini seakan mengingatkan, bahwa jika tidak mampu menjadi rembulan, maka cukup menjadi laksana kunang-kunang yang sederhana dan bertabur kesahajaan. Tabuh ini menarik karena menampilkan tabuh dengan melodi kerlap kerlip ibarat sinar kunang-kunang yang ditunjukan diakhir tabuh. Tabuh kreasi yang ditata oleh Bayu Anga terinspirasi dari puisi “Dalam Dekapan Cinta-Nya33”.

Duka Kabupaten Gianyar menampilkan Tari “Kanyaka Sura”. Tari ini mengisahkan para bidadari kahyangan (Apsari) turun ke dunia membantu Dewa Indra memerangi Mayadenawa. Di balik paras anggun wanita ini terdapat sifat maskulin yang mampu memerangi keangkara-murkaan di muka bumi ini. Tarian ini diciptakan oleh Tjokorda Istri Putra Padmini dan I Wayan Darya sebagai penata iringannya. Tari tari ini diciptakan serangkaian festival gong kebyar pada PKB tahun 2000. Saat tampil di ajang PKB tahun ini, tari itu dibina oleh Ni Kadek Sudarmanti serta iringannya dibina oleh Pande Ketut Wika, Wayan B Wirabawa, dan Dewa Ketut Nyambu Bawa.

Tari

Duta Kabupaten Jembrana lalu menampilkan materi kedua yakni Tari “Belibis” yang menggambarkan keindahan dan kecantikan sekelompok burung belibis yang sedang menikmati alam sekitar. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem dan I Nyoman Windha sebagai penata iringan pada tahun 1984. Tari Belibis merupakan tari kelompok, karena melibatkan lebih dari tiga orang penari. Ketika ditampilkan oleh Sekaa Gong Istri Nareswari, tari ini Ni Komang Ary Swandewi dan Ni Kadek Astini.

Masih dalam kesempatan Duta Kabupaten Jembrana yang kemudian menampilkan Tari Kreasi “Ni Linggih Sri”. Tari ini merupakan garapan dari I Putu Agus Satyawan serta I Made Dwi Adi Hartawan dan Kade Arya Parjana sebagai penata iringannya menyajikan karya seni yang lebih menekankna pada pesan moral melalui simbol-simbol. Nini merupakan simbolik dari Dewi Sri, yang menjadi bagia penting dari para petani di Bali. Sang penata terimajinasi dari ngelingihang Dewa Nini di jineng sebagai rasa syukur setelah hasil panen, sehingga dibentuk orang-orang yang dirias dari bahan padi.

Setelah tuntas menyajikan tiga materi, Duta Kabupaten Jembrana kemudian keluar stage, lalu digantikan oleh Sanggar Raja Pala, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara sebagai Duta Kabupaten Badung. Sanggar seni yang didukung seniman remaja putri ini langsung menampilkan Tabuh Kreasi “Utara Giri“ yang sangat manis. Tabuh ini merupakan karya berssama I Ketut Gede Asnawa dan I Wayan Rundu pada tahun 1987 dalam ajang Festival Gong Kebyar PKB. Saat itu, Utara Giri dibawakan oleh Sekaa Gong Br. Sayan, Mengwi Kabupaten Badung.

Karya pengembangan yang bernuansa tradisi ini beranjak dari konseptualisasi dari pada pakem Gong Kebyar yang cendrung elaborates, ritmis dan dinamis. Sedangkan secara intuitif karya ini menggambarkan panorama gunung yang nampak asri dan berwibawa brjajar di sisi utara pulau Bali. Sensifitas musikalnya terstruktur dalam segmentasi yang terdiri dari : gineman gangsa, sesulingan, gegenderan, bebapangan dan pengecet gegangsaran.

Duta Kabupaten Gianyar kemudian menyambut dengan Tabuh Kreasi “Gasal”. Tabuh yang ditata oleh I Nyoman Windha itu pernah dipentaskan pada PKB tahun 1999. Karya seni karawitan ini menggambarkan suasana riuh membungbung bersautan, cok, gasal, telude dan sebagainya yang merupakan istilah-istilah dalam tabuh rah. Karena itu, dalam tabuh kreasi
ini memiliki perhitungan genap dan ganjil yang masih kental dengan wiraga, wirama dan wirasa yang di tata secara afik dan melodis. Nada dimainkan secara intuisi nada, sehingga tampak jelas karsa karya yang dilukiskan dengan harmonis dan dinamis.

Gong Kebyar Wanita

Duta Kabupaten Badung lalu menampilkan Tari Kreasi “Swabhawa Semara“ yang pernah disajikan pada Festival Gong Kebyar Dewasa duta Kabupaten Badung Serangkaian dengan PKB tahun 2006. Tari yang didukung oleh 4 penari laki dan 4 penari wanita ini menceritakan perjalanan Sutasoma dari Gunung Indrakila ke Astina Pura setelah mencapai “Jiwan Mukti“.Tari diciptakan oleh Ida Bagus Yudistira dan I Ketut Lanus sebagai penata iringan serta Desak Made Suarti Laksmi selaku penata gerong.

Duta Kabupaten Gianyar lalu menyudahi penyajiannya dengan menampilkan Tari “Wariga Sudha Bumi” karya Agung Giri Putra dan Agung Raka Jaya Kesuma sebagai penata karawitanya. Tari ini terinspirasi dari tradisi upacara pemuliaan terhadap tumbuh-tumbuhan, yakni Tumpek Wariga. Upacara ini dapat diibaratkan sebagai bentuk pengruwatan bumi, karena memuliakan tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber dari kekayaan alam. Karena itu, Tari “Wariga Sudha Bumi” ini fokus pada pohon kelapa sebagai simbol tumbuh-tumbuhan yang dimuliakan saat tumpek wariga oleh masyarakat Bali.

Selanjutnya Duta Kabupaten Badung menutup parade dengan Tari Kreasi “Wana Pering”. Tari ini menginterpretasikan hutan bambu yang harus dilestarikan demi ajegnya adat tradisi dan budaya Bali. Tari yang ditatat oleh Agung Rahma Putra dan Wayan Muliadi sebagai penata iringannya betul-betul menyajikan garapan yang baru, baik dari ragam gerak ataupun busana. Walau demikian, pola garapan tetap mengacu pada uger-uger tari tradisi yang ada. [B/*]

Related Posts