September 19, 2021
Kreasi

Rekasadana PKB XLIII Sekaa Gambang Cupu Kembang Dewata Tegalalang Sajikan “Kayonan”

Penampilannya sangat sederhana. Memakai kain batik, saput poleng, udeng batik tanpa mengenakan baju. Gending-gending yang dimainkan pun, tidak terlalu berapi-api, menggebu-gebu seperti tingkah anak-anak muda di jaman global. Namun, sekali mendengar gending pasti terbuai dibuatnya. Sebab, nada yang dikeluarkan dari bilah kayu itu memiliki karakter yang sangat klasik dan bertuah. Maka wajar, gending-gending yang lahir dari barungan gamelan klasik ini hanya dipentaskan serangkaian dalam upacara yadnya di Bali.

Itulah Gambang “Kayonan” yang disajikan Sekaa Gambang Cupu Kembang Dewata Banjar Pujung Kaja, Desa Pakraman Talepud, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar dalam Rekadasana (Pergelaran) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada Kamis, 1 Juli 2021. Karena di masa pandemic, penyajian kesenian genjek ini ditayangkan melalui Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Kayonan

Di atas stage, sekaa genjek yang didukung penabuh pria ini tampil dengan posisi yang sangat sederhana. Duduk dengan posisi gamelan yang sudah disesuaikan dengan uger-uger. Dalam permainnya, dibarengi dengan dua buah kendang lanang wadon, satui ceng-ceng ricik, uter, terutuk dan dipandu seorang pemangku yang duduk ditengah-tengah posisi gamelan. Para penabuh ini tidak memainkan gamelan seperti memainkan gong kebyar yang menari-nari dan penuh gaya. Melainkan dengan kalem, nyaris tanpa gaya.

Tabuh atau gending-gending disajikan dengan mengkolaborasi 5 (lima) instrumen pokok gambang yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Yaitu Pengantar, Pemelit, Penyelah, Pemero dan Pengumbang dengan tambahan beberapa instrument dari luar instrumen gambang inti seperti gupekan tunggal, gong pulu, tawa tawa kayu, kemong gantung, kajar dan suling bambu. Garapan tabuh yang dimainkan, ada lima buah yakni Tabuh Pemungkah, Tabuh Manukaba, Tabuh Selunglung, Tabuh Panji Marga dan Tabuh Nyading yang dibarengi dengan Tari Kayonan sebagai penutup.

Kayonan

Kayonan merupakan simbol kehidupan, karena di dalam perwujudannya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya, mulai dari manusia sampai dengan hewan, hutan serta lainnya. Semua itu digambarkan seperti perwujudan gunung yang memiliki makna, bahwa manusia hidup kedunia ini terutama yang beragama Hindu menuju di atas yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Itulah yang menginspirasi garapan ini. Tabuh ini ditata I Ketut Rempun, I Made Surya Arka sebagai penata tari dan didukung penuh oleh Ketua Sanggar I Ketut Kenak.

Dalam ajang PKB, jenis gamelan klasik seperti gambang ini memang selalu mendapat ruang, sebagai bentuk melestarikan kesenian yang langka ioni. Gamelan Gambang adalah salah satu gamelan Bali yang tergolong langka. Dari pengelompokan gamelan Bali, gamelan Gambang termasuk kelompok gamelan tua. Gamelan Gambang merupakan salah satu jenis gamelan Bali yang terbuat dari bambu. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!