November 26, 2021
Ulasan

I Ketut Gede Rudita Penabuh, Penari dan Pelawak

Bagi yang suka menonton bondres, lawak Bali pasti pernah menyaksikan Sokir dalam pentas Sekaa Bondres Celekontong Mas. Penampilanya kocak, mulut kecil, pipi tembem seperti kucit (anak babi) dan memiliki suara kecil melengking yang selalu mengundang tawa. Belakangan, ia memiliki banyak pesanan, sehingga lebih cerdas mengatur waktu pentas. Pada perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 tahun 2021 ia juga tampil, namun bukan menghibur melainkan menerima penghargaan “Adi Sewaka Nugraha” dari Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam dunia seni, pemilik nama asli I Ketut Gede Rudita ini merupakan seniman karawitan yang telah melahirkan segudang karya, baik dalam gamelan gong kebyar, bleganjur, angklung dan gamelan Bali lainnya. Namun, dalam dunia panggung ia justru lebih sering tampil sebagai penari dengan nama Sokir. Namanya bahkan menjadi lebih kesohor karena kelihaiannya di dalam menjaga kualitas pentas sebagai penari bondres. “Saya awalnya tampil sebagai penari bondres bersama teman-teman untuk ngayah-ngayah saja. Perkembangan kemudian, saya ingin tampil beda dan memiliki wajah yang khas. Saya kemudian merias diri, seperti kucit agar jauh dari kebiasaan manusia,” katanya.

I Ketut Gede Rudita

Pria yang lahir di Banjar Dharmayasa, Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, pada 18 Februari 1973 ini memang hidup dalam lingkungan seni. Ayahnya I Wayan Merta sebagai seniman karawitan dan perajin kendang terkenal serta sangat kreatif. Aktivitas berkesenian di lingkungan banjar juga mendukung, sehingga sejak kecil ia biasa memainkan gamelan dan menjadi seorang penabuh. Aktivitas itu kemudian memberinya semangat untuk belajar, baik ketika di SD N 10 Mengwi (1980-1986) maupun SMP N 1 Mengwi (1986-1989). Ia tampil sebagai siswa yang menonjol dalam urusan seni, sehingga melanjutkan ke SMKI Negeri Bali pada 1989.

Di sekolah seni ini, anak keempat dari lima bersaudara pasangan I Wayan Merta dan Ni Kompyang Siarti menjelma menjadi siswa yang sangat disiplin dan kreatif dalam menimba ilmu seni. Ia sering memimpin teman-temannya dalam memainkan gamelan. Jika sekolah ada pagelaran, namanya pasti ada. Memainkan gamelan seakan menjadi kesehariannya. Semangat berkesenian yang tak pernah terhenti kemudian mendorongnya untuk melanjutkan di STSI Denpasar (ISI sekarang) mulai 1993.

Di kampus inilah, ia mematangkan ilmu seni yang dimilikinya. Di kampus seni ini, nama Rudita selalu menjadi perbincangan dalam urusan olah nada mencipta karya karawitan. Walau masih semester kecil, ia biasa membuat iringan tari kakak kelasnya yang akan mengikuti ujian sarjana. Karena kepiawaiannya dalam menggarap tabuh, ia dipercaya menggarap tabuh Baleganjur Krodo Murti (1990), dan tabuh Baleganjur Manggala Duta (1995) sebagai Juara I se-Bali bersama Sekaa Gong Manik Merthasari Gulingan. Sebagai seniman akademis, Rudita juga sempat mendukung tim kesenian STSI Denpasar dalam ekspo di Sevilla Spanyol, serta negara lain seperti Tokyo, Jepang, dan Singapura.

Setelah menyandang gelar Sarjana Seni pada 1998, suami Ni Putu Ayu Swasti Wahyuni kemudian semakin kreatif dalam berkesenian. Ia dipercaya sebagai guru gamelan di Conservatorium Amsterdam bekerja sama dengan grup gamelan Bali Sandi Sari, Amstrerdam (bekerjasama dengan Yayasan Irama Blanda) 1998. Ia juga tetap mendukung tim kesenian Kabupaten Badung, sehingga dipercaya untuk menggarap karawitan, baik dalam hajatan Pesta kesenian Bali (PKB) maupun dalam kegiatan lainnya. Karya seni yang digarapnya, seperti Iringan Fragmentari Sutasoma untuk PKB (2005), tabuh Sandya Gita (2003), tabuh Tari Telek Badung (2004), iringan Palegongan Manik Galih (2006) dan tabuh iringan Barong Telek (2008). Dalam kesempatan itu, pria ramah ini juga mendapat kesempatan terlibat sebagai tim kesenian bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung ke Cina, juga mendukung tim kesenian bersama Provinsi Bali ke Cina.

Sebagai penabuh dan penggarap, tentu ada waktu jenuh. Pria kalem yang tinggal di Jalan Batuyang Gang Elang No. 12 Batubulan Gianyar itu pun demikian. Itu sebabnya, dia mengisi waktu dengan melawak yang idenya murni 3 Profil Penerima Penghargaan Pengabdi Seni Tahun 2021 untuk menghibur dan membahagiakan diri-sendiri. Ia mengawali melawak sebagai penari bondres untuk kegiatan ngayah saja. “Dalam perkembangan kemudian, saya ingin tampil beda, sehingga merias diri seperti kucit, agar jauh dari kebiasaan manusia. Saya kemudian menari sebagai pelawak di samping manabuh,” tutur Rudita.

Dalam sebuah ajang pentas, ia bertemu dengan Tompel dan Sengap, lalu sepakat untuk bergabung membentuk grup STSP (Sengap Tompel Sokir Pokokne) sekitar tahun 2009. Ide itu muncul karena masing-masing memiliki dasar seni yang sama, sehingga mampu mempertahankan keutuhan grup. Dalam perkembangan kemudian, nama itu berubah menjadi “Clekontong Mas” tepat pada 12 Oktober 2011. Konsentrasinya kemudian menjadi bertambah, ia juga harus mengolah ide-ide keseharaian untuk menjadi bahan lawakan, di samping berkarya dalam karawitan.

Bersama Clekontong Mas, ia dan teman-temannya paling sering pentas ngayah. Bahkan, mereka sudah ngayah di hampir seluruh daerah di Bali, mengajak masyarakat tertawa. Pernah juga mereka pentas ke Eropa, seperti Jerman, Belgia, dan Amsterdam (2012), Belanda dan Inggris (2013). Sementara di luar daerah, Clekontong Mas paling sering tampil di Jakarta dalam acara Kementerian Agama RI, seperti mengisi acara Darma Santhi, Utsawa Dharma Gita dan Jambore. Clekontong Mas juga biasa pentas di kota-kota daerah transmigran dari Bali. “Bahan lawakan itu harus mampu membawakan dengan lengut (pas). Saya memadukan dengan kata-kata yang umum, serta tetap mengedepankan etika. Intinya, harus mempu memberikan tuntunan dalam sebuah tontonan, dan terpenting kondisi harus tampil bugar,” ujarnya.

Di tengah kesibukan manggung, Rudita tetap didapuk menjadi pembina gong kebyar kecamatan dan Kabupaten Badung. Sering pula tampil menjadi komposer menggarap tabuh-tabuh atau pun iringan tari. Ia sempat menjadi guru gamelan pada grup Gambelan Semara Jaya Utretch Belanda (2001), serta sebagai tim kesenian Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar 2010 serta pentas Ramayana dalam rangka peringatan HUT RI di India. Berdasarkan pengalaman itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Program Pacasarjana Unhi Denpasar 2011—2014 dengan mengambil jurusan Ilmu Agama dan Kebudayaan.

Rudita memang seorang seniman yang selalu kreatif. Selama mengikuti kuliah, ia tak hanya belajar, tetapi juga aktif dalam berkesenian, menghidupkan komunitas seni kampus. Tentu, dukungan kampus menjadi modal dalam mengangkat kebesaran Unhi melalui kesenian. Benar saja, ia Profil Penerima Penghargaan Pengabdi Seni Tahun 2021 4 kemudian terlibat dalam tim kesenian Unhi Denpasar saat pentas Ramayana dalam rangka peringatan HUT RI di India (2010), sebagai pertukaran budaya dengan komunitas Hindu di Jerman bersama Bimas Hindu Indonesia (2011), serta sebagai tim kesenian Unhi Denpasar dalam pentas cak kolosal di teater Bozzar, Belgia bekerja sama dengan Bimas Hindu Indonesia dengan KBRI Brussall Belgia (2014).

Menjadi sebuah kebanggan bagi Rudita, karena setelah lulus dia langsung diangkat sebagai pengajar Unhi Denpasar. Profesi sebagai dosen membuatnya semakin percaya diri untuk mempromosikan kamus melalui kesenian. Ia juga sebagai tim pentas cak Ramayana peringatan hari Devawali di India kerja sama Unhi Denpasar dengan Dinas Pariwisata India (2019). “Meski sibuk membagi ilmu kepada mahasiswa, saya masih aktif sebagai tim pembina Gong Kebyar di Pemkab Badung, sebagai pembina dan juri lomba bleganjur Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta tetap sebagai anggota grup bondres Clekontong Mas,” paparnya.

Garapan tabuh karya Rudita, antara lain tabuh iringan tari Rejang Kukus Arum (2011), tabuh iringan tari Rejang Padupan (2018), tabuh iringan tari kreasi Manik Jiwa PKB (2019), penata tabuh Sandya Gita Sapta Pada Unhi Denpasar (2019), tabuh iringan pragmen tari Bhisama PKB (2007), tabuh iringan fragmentari Ramaparasu PKB (2008), tabuh bleganjur Tabuh Rah (2010), menggarap musik iringan Wayang Cenk Blonk Jro Dalang Dr. I Wayan Nardayana, iringan wayang Jro Dalang Ida Bagus Sudiksa (alm.) dan wayang kulit Jro Dalang Ida Bagus Alit Agraparta Buduk. Sementara prestasi yang pernah diraih, antara lain sebagai Juara I Lomba Makendang Barong PKB (1995), Juara I Makendang Jauk Manis PKB (2002), dan Juara III Lomba Barong se-Bali Musium Gunarsa Klungkung (2003). [B/*]

Related Posts