January 23, 2022
Kreasi

Pengabdian Masyarakat ISI Denpasar Bina Tari Puspa Arum Bengkala dan Rias

Siapa bilang anak-anak kolok (bisu) tak mampu mengekspresikan gerak tari. Lihat saja, kemampuan mereka dalam pentas pelaksanaan Program Pengabdian Kepada Masyarakat yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang tampil di Bale Banjar Desa Bengkala, Buleleng, Selasa (14/9). Enam anak di desa ini mampu menyajikan Tari Puspa Arum Bengkala. Mereka tampil bersemangat dan penuh eksresi. Menariknya, gadis-gadis ini tak hanya piawai membawakan tari, tetapi juga lihai dalam merias diri.

Jika melihat penampilannya, mereka tampak seperti anak-anak normal. Mereka tampil dengan teknik dan tata rias yang hampir sempurna. Hal itu tentu melalui proses yang panjang, sehingga para gadis di desa itu mampu tampil dengan maksimal. “Pembinaan Tari Puspa Arum ini dilakukan melalui beberapa tahapan, seperti membuat jadwal pelatihan tari maupun tata rias, memberikan pelatihan teknik tari, menyusun struktur pertunjukan, menjadwalkan pelatihan tata rias dan melakukan uji coba hasil pelatihan, evaluasi, dan refleksi,” kata Ketua Program Pengabdian Kepada Masyarakat Dr. Ida Ayu Trisnawati,SST.,M.Si.

Pengabdian Masyarakat ISI Denpasar

Dalam pengabdian itu, Ayu Trisnawati yang didampingi anggotanya, yakni Sulistyani,S.Kar., M.Si.dan Gede Basuyoga Prabhawita, S.Sn.,M.Sn mengatakan, Tari Puspa Arum Bengkala yang dibawakan merupakan identitas masyarakat kolok Bengkala yang diciptakannya pada 2018 dalam Forum Layanan IPTEK bagi Masyarakat (FLIPMAS), merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina yang salah satunya penciptaan Tari Puspa Arum Bengkala. “Tari ini berfungsi sebagai tari menyambutan kepada orang yang datang ke Desa Bengkala yang menggambarkan bunga harum berasal dari Desa Bengkala,” paparnya.

Hasil dari kegiatan ini, yakni terwujudnya enam penari Puspa Arum Bengkala, yang terdiri dari dua orang penari difabel dan empat orang remaja penari putri dari Desa Bengkala. Pelatihan merias diri ini diberikan, sehingga mereka bisa mempersiapkan diri secara mandiri jika pentas. Pelatihan tata rian diberikan oleh Sulistyani dan Pendokumentasian ditangani oleh Basuyoga. “Kami juga mendokumentasikan dalam bentuk video yang diuploud di youtube kemudian dipublikasikan. Dengan begitu, Desa Bengkala tak hanya terkenal dengan Janger Kolok Bengkala, tetapi juga memiliki Tari Baris Bebila, Tari Jalak Anguci yang semua penarinya kolok, serta memiliki Tari Puspa Arum Bengkala yang terbaru,” paparnya.

Pengabdian Masyarakat ISI Denpasar

Tari Baris Bebila, Tari Jalak Anguci dan Tari Puspa Arum Bengkala merupakan hasil ciptaannya. Sementara pelatihan tata rias dasar tari diberikan, berawal dari mengenalkan alat dan bahan tata rias. Itu dilaksanakan di sela-sela istirahat menari terutama setelah selesai latihan. Berbagai jenis alat dan tata rias dipraktekkan dalam keseharian maupun ketika menari. Mulai dari membersihkan muka, memakai dasar bedak sampai siap untuk merias. Penari dilatih merias wajah untuk membentuk karakter wajah supaya lebih menarik ketika menari. Lalu rias alis membentuk alis sesuai karakter tarian yang dipentaskan, rias bibir membentuk bibir dan pemilihan warna agar mendukung pementasan, rias rambut melatih metata rambut supaya rapi dan sesuai dengan karakter tarian yang dipentaskan.

Untuk mewujudkan semua itu, Dosen Tari ISI Denpasar ini memaparkan, kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan ini adalah bahasa isyarat, kemampuan menari sangat kurang, dan pembatasan kegiatan akibat pandemi. “Kami mencari penerjemah untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Kami juga menerapkan model pelatihan terbalik. Jika pada umumnya penari mengikuti penabuh, nah khusus penari difabel ini penabuh mengikuti gerak penari. Kami juga menggunakan model pelatihan Dalam Jaringan (Daring) dengan video,” bebernya.

Pengabdian Masyarakat ISI Denpasar

Dalam kegiatan tersebut, teknik tari dilakukan secara imitasi, penari kolok menirukan langsung apa yang dilakukan oleh pelatih. Teknik yang dipakai agar pelatihan efektif harus lebih khusus karena itu memakai sasaran penarinya adalah masyarakat kolok. “Kami berharap egiatan ini berdampak bagi pemerdayaan kelompok masyarakat difabel/kolok di desa Bengkala, khususnya dalam bidang menari. Untuk jangka panjang, kami berharap kegiatan ini mampu menjadi salah satu potensi yang terus dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” harapnya. [B/*]

Related Posts