January 23, 2022
Kreasi

“Open Border” Art Camp 2021 Setahun Berpulangnya Made Wianta

Art Camp 2021 sebuah gelaran seni budaya yang disuguhkan Wianta Foundation di kediaman maestro perupa Made Wianta (alm) di Banjar Apuan, Desa Apuan, Baturiti Tabanan, Senin 4 Oktrober 2021 sungguh menarik. Konsepnya, menyerupai pementasan seni tradisi Bali tempo dulu, yakni berbentuk “kalangan”. Berbagai seni yang disajikan seakan tanpa batas. Semua peserta duduk di halaman hijau, baik penyaji ataupun yang menonton. Antara penyaji seni dan penonton, seakan memiliki kedudukan yang sama, mereka terkadang duduk melingkar dan yang pasti menyesuaikan dengan agenda seni yang disajikan.

Art Camp 2021 dengan mengangkat tema “Open Border” sebagai ajang seni yang komunikatif. Berbagai seni yang disajikan menghibur, mendidik dan menginspirasi dalam berkesenian selanjutnya. Penyaji seni, narasumber ataupun yang berbagi pengalaman begitu lihai, sehingga orang yang melihat dan mendengarkan terkesima dibuatnya. Bendesa Adat Desa Pekraman Apuan, I Ketut Murtana, S.Sn. yang sekaligus seniman yang membuka Art Camp itu memberi sarasehan singkat mengenai kesenian dan kebudayaan yang berkembang di Desa Apuan. Lulusan ISI Denpasar ini sangat mendukung para seniman yang ada di Apuan dengan segala aktivitasnya.

Art Camp 2021

Sejumlah seniman yang hadir kemudian berbagi pengetahuan seni dan pengalaman berkesenian. I Made Bakti Wiyasa yang memaparkan pengalaman seni menggambar yang mengkolaborasikan dengan kegiatan peduli lingkungan, dan Iwan Wijono yang Ketua Performance Art Yogyakarta berbagi pengalamannya berkeliling dunia dengan kegiatan berkesenian. I Wayan Tastra, dalang wayang kulit dari Banjar Apuan berbagi pengalaman menjadi seniman dalang secara otodidak. Wayang yang dimainkan itu tak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan, budi pekerti dan merupakan total teater.

Berbega dengan aktivis lingkungan, I Ketut Sudarwata yang berbicara tentang gerakan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri. Jedink Alexander lalu berbicara mengenai proses kreatifnya di era digital, dan Made Adnyana Ole bicara tentang proses kreatif dalam penulisan kegiatan seni. Sementara performance art yang menampilkan seniman-seniman local yang memiliki talenta mengeksplor ruang dengan kreativitas seni. Baik itu dalam bentuk seni tari dan seni karawitan tradisional yang memiliki makna mendalam. Para peserta juga menyaksikan pemuteran video karya kreativitas seniman, art action dan pagelaran lainnya.

Satu hal yang menarik dari penampilan itu, seorang DJ asal California bernama Kamau Abayomi. Walau penghobi music ini tampil di malam hari, namun dengan permainan DJ lewat lentik jemarinya mampu menambah suasana menjadi lebih hangat. Alunan music yang dimainkan secara stakato, lembut da mengalir membuat para hadirin terbius. Apalagi ditambah dengan gerak badannya yang seirama dengan music, sungguh mempesona.

Art Camp 2021

Manager Project I Gede Made Surya Darma (Lepud Art Management) bersama I Kadek Dedy Sumantra Yasa, Ketua Performance Klub Bali mengatakan, kegiatan ini dilakukan secara gotong royong dengan Desa Adat Apuan, seniman, akademisi, budayawan, aktivis lingkungan, penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), petani, dan sekaa teruna setempat. “Kegiatan seni itu, untuk lebih menggairahkan kegiatan seni budaya di masa pandemic Covid-19. Kegiatan itu, juga untuk mengenang menjelang setahun berpulangnya Made Wianta, pelukis kenamaan asal desa setempat,” paparnya.

Pandemic Covid-19 telah melanda dunia sejak awal 2020, dan itu berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Namun demikian, pandemi hendaknya tidak sampai melemahkan gairah berkesenian. Art Camp 2021 sebagai ajang untuk mengobati rasa rindu bagi semua pihak yang merindukan pulihnya kehidupan seperti sedia kala. Sebab, hampir dua tahun masyarakat sudah beradaptasi menjalani kehidupan new normal dengan prokes yang ketat. “Untuk bisa melewati masa krisis ini, peranan semua pihak sangat diperlukan. Nah, kami merespons isu tersebut dengan menuangkan kegelisahan estetik dengan melakukan kegiatan kesenian dengan tema “Open Border” ini,” pungkas Surya Darma senang. [B/*]

Related Posts