November 26, 2021
Kreasi

Tari Kontemporer “Tadah Asih” Yayasan Bumi Bajra Sandhi; Jaga Ekosistim, Menatap Diri dan Mulat Sarira

Burung Tadah Asih, Kedasih dan sering pula disebut Kedis Kik Engkik Engkiiiir memiliki banyak mithologi. Mitos yang paling terkenal adalah tentang kematian. Ketika akan melahirkan anaknya, burung ini akan bersuara seakan memberitahu yang lain bahwa ia siap menjemput kematian. Konon, ketika melahirkan anaknya perut sang ibu terbelah, sehingga nyawa pun melayang. Dengan terus bersuara kik engkik engkiiir seakan menatap kematian dengan gagah. Mitos lain, sebagai jelmaan jin, dan di daerah Kesiman Denpasar, masyarakat percaya suara burung Tadah Asih itu sebagai petanda kedasa, baik untuk menggelar sebuah upacara.

Mitologi burung Tada Asih itulah yang menjadi inspirasi Ida Ayu Wayan Arya Satyani dalam menggarap tari “Tadah Asih” dengan bendera Yayasan Bumi Bajra Sandhi. Belasan seniman remaja sebagai pendukung tari kontemporer itu tampil secara total pada Adilango (pergelaran) Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III, Rabu 27 Oktober 2021. Penari-penari yang lihai mengolah setiap tubuhnya mampu memberikan suasana berbeda pada panggung proscenium di Gedung Ksirarnawa Art Center, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali itu. Bahkan, sejak tari itu dimulai seakan tidak ada ruang yang tak tergarap, baik ruang tubuh penari ataupun tempat mereka pentas.

Struktur tari ini sangat simple dan terkesan sederhana, namun sangat kuat dan berisi. Pembacaan puisi yang mengisahkan kehidupan burung kedasih dipadu dengan gerak tari yang dipenuhi ekspresi. Wajar, pembaca puisi yang juga seorang penari itu membagi pola lantai, sehingga mesti menampillkan satu pemain, namun panggung yang luas itu terasa penuh. Narasi berikutnya tentang kehidupan burung di tengah hutan yang bebas dan damai. Kedua puisi ini membangun kesadaran manusia menjaga ekosistem dan kasih. Kepekaan kasih diasah, kesadaran toleransi terhadap yang terbang untuk mencari makan untuk anak-anaknya, karenanya menjaga ekosirem itu penting.

Tadah Asih

Dua penari laki perempuan yang berbusana putih dan hitam menegaskan keseimbangan itu indah. Hal itu digambarkan dalam dua wajah yang ditarikan dengan dua posisi yang berbeda, namun memiliki gerak dan jiwa yang sama. Jiwa atau siapaun itu, intinya ada dualisme yang tak pernah selesai. Lalu, masing-masing kiemudian berperan sebagai burung dan manusia sebagai hubungan yang harmonis. Karya tari ini juga menggunakan property kaca sebagai symbol bercermin, menatap diri dan mulat sarira. Musik iringan yang sayup sayu dimainkan Gus De Widnyana menambah kuatnya suasana.

Dalam remang, delapan penari laki-laki kemudian menari sambal mengumandangkan tembang-tembang alam yang damai. Di tangannya masing-masing terselip sebuah suling (seruling) panjang sebagai property yang juga dimainkan untuk mengiringi dirinya sendiri. Lengkingan suara suling itu seakan menggambarkan segala isi alam hutan yang harmonis. Delapan penari laki-laki itu bergerak, seperti menari pepanjian (nuansa dramatari gambuh) sebagai symbol manusia yang sebagai mahluk utama dalam lingkaran ekosistem itu.

Memang, Dayu Ani sebagai koreografer muda selalu saja menyelipkan nuansa gambuh dalam setiap garapannya. Maklum, dosen ISI Denpasar ini lagi senang-senangnya menggali seni pegambuhan dan juga seni kaleik lainnya. Termasuk juga tembang-tembang klasik yang selalu mengusik. Tembang itu dipadu dengan gamelan minimalis, sehingga menjadi iringan music yang minimalis, namun memiliki dukungan yang sangat kuat. Setiap nada yang dimainkan itu, disamping menciptakan suasana dan menguatkan karakter, nada-nada itu juga sebuah symbol.

Tadah Asih

Meski menari bernuansa panji, namun delapan panari yang mengenakan celana panjang putih dan baju panjang putih itu bergerak tanpa batas. Motif-motif geraknya lebih banyak menonjolkan akrobatik, kelenturan tubuh memberi garis keindahan serta ekpresi menjadi kekuatannya. Mereka bergerak sambil memiankan suling yang terkadang seperti pohon yang ditiup angin, terkadang bergerak bersama-sama, saling menindih, kemudian lepas memeluk daha pohon yang lain. Pose-pose yang dibuat, terkadang juga menggambarkan burung yang sedang terbang, hinggap diatas dahan, dan terkadang bermain bersama burung lainnya.

Dalam suasana hening, lalu muncul seorang penari yang memainkan lampu senter. Sinarnya bukan tertuju pada jalan, tetapi pada langkah kakinya sebagai cara untuk mencari sinar jalan menuju keharmonisan. Dua penari wanita yang memerankan Burung Kedasih lalu menari-nari riang diatas dahan pohon. Mereka bergerak diatas tubuh penari satu ke penari lainnya. Tampak sekali, dua penari itu memiliki kesimbangan sehingga mereka menari seperti di lantai saja. bergerak tegas, dengan busana yang sederhana, namun memikat dengan ekpresi.

Panji-panji itu kemudian bergerak santai sambal melantunkan tembang-tembang. Posisinya tak beraturan, tetapi membentuk garis dan level yang sangat indah. Selesai tembang, semua penari kemudian mengeluarkan center yang sinarnya ke perut, bagai penari calonarang (ngunying), dan terkadang mengarahkan sinarnya ke wajah penari itu sendiri, sebagai symbol mulat sarira, menatap wajah, dan mengoreksi diri. Para penikmat diajak untuk merenung, dan menjaga ekositem agar tidak mati, sehingga siklus alam berjalan dengan baik.

Garapan ini sangat terkait dengan “Wana Kerthi”, ekologi dan ekositem yang di dalamnya tak hanya ada hutan, tetapi juga ada kehidupan, salah satunya burung. Kalau burung ini ditakuti karena ketika bersuara sebagai pertanda kematian, maka kalau burung itu tak bersuarapun juga sebagai petanda kematian ekositem. “Artinya, kita harus mengalami ekositem itu, sehingga kehidupan seimbang. Perlu diingat, mitos-mitos itu kemungkinan untuk menjaga kehidupan burung itu sendiri. Karena kalau akan beranak, burung itu hanya satu. Secara biologi burung itu tak mampu membangun sarang, sehingga selalu menitip pada burung lain,” ucap Dayu Ani.

Kalau dari kontek ke manusia, di masa pandemi ini orang menghadapi kematian hanya sebatas angka-angka. Apakah masih memiliki empati, mempunyai kasih saying? Lama-lama, seakan tak ada rasa. Kematian itu hanya statistic, karena rasa itu hilang. Maka itu, melalui garapan tari ini, seakan m untuk menumbuhkan rasa empati itu kembali. Tadah asih itu berasal dari kata tadah yang artinya penampung kasih.

Warih Wisatsana selaku Kurator mengatakan, Dayu Ani sudah mempunyai stailistik dan pencapaian estitik tersendiri, sehingga semua tubuh para penari sudah terolah secara utuh tampil dalam keseluruhannya. Secara keseluruhannya penampilan mengilhami renungan, membuat sudut pandang menarik dari sekor burung. Maka tarian secara keseluruhan itu bersifat metaforis, dia bukan tarian yang menjadikan tubuh sebagai tubuh harviah yang hadir di panggung, tetapi tubuh metaforis yang simbolis. Kekhasannya tembang-tembang, dan dengan musik minilalis yang sangat kuat membuat tari kontemporer ini menjadi sangat menarik. [B/*]

Related Posts