November 26, 2021
Pernik

“Alun Harmoni Bali Kini” Konser PGKRI di Festival Seni Bali Jani

Konser “Alun Harmoni Bali Kini” memberikan suasana beda pada kegiatan Adilango (Pergelaran) serangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III tahun 2021. Penampilan Gitar Kolosal Rakyat Indonesia (PGKRI) ini sungguh memukau. Setiap peserta yang tampil, tak hanya menyajikan alunan musik yang indah, tetapi juga tarian para pemaian akibat dari penjiwaan permainan alat musik itu. Pengunjung yang hadir di Gedung Ksirarnawa, Art center Taman Budaya dibuat terpesona. Tidak sedikit yang hanyut dalam pergelaran itu. Mereka tanpa sadar mengikuti irama dan permaian tempo para artis itu.

Pada Adilango kali ini, PGKRI tampil menawan di Gedung Ksirarnawa, Art Center Taman Budaya Provinsi Bali, Senin 1 November 2021. Pergelaran yang dimulai pukul 10.00 WITA juga disiarkan melalui Youtube Disbud Provinsi Bali. Para pemain musik yang tampil, mulai dari yang anak-anak, remaja hingga dewasa, baik yang perempuan dan laki-laki. “Kami sangat senang bisa tampil dalam ajang FSBJ tahun 2021 ini. Ajang ini untuk memperkenalkan musik pada masyarakat umum, khususnya generasi sehingga muncul inspirasi,” kata Lianto Tjahjoputro, salah satu maestro Gitar klasik Indonesia yang tinggal di Bali.

Alun Harmoni Bali Kini

Konser dibuka dengan duet ayah dan putrinya dengan membawakan karya abadi La Vida Breve (Hidup yang Singkat) karya Manuel de Falla. Dilanjutkan dengan solo gitar lagu abadi, Malaguenas, karya komposer Kuba, kakek Leo Brouwer, Maestro Guitar yang masih hidup saat ini, Ernesto Lecuona. Kemudian, beberapa karya abadi lainnya yang ditampilkan adalah karya dari komposer dunia; Waltz God Father, Torre Bermeja, Piccolo Concerto, El Cumbanchero. Lalu babak pertama ditutup dengan aransemen sulit untuk duet gitar dan biola oleh Lianto Tjahjoputro dan Robert Brown yang berjudul Caprice 24 karya si ‘setan’ biola, Niccolo Paganini (Italy, 1782-1840).

Di babak kedua, acara dibuka dengan lagu spiritual khidmat, Ave Maria, karya Johann Sebastian Bach (Jerman, 1685-1759) dan Charles Gounod (Prancis, 1818 – 1893). Selanjutnya, Lianto Tjahjoputro dan PGKRI membawakan lagu puja Dewi Ilmu Pengetahuan yang berjudul Dansa Saraswati karya komposer Jepang, kemudian Pagelaran ditutup dengan karya komposer Indonesia yang abadi, Ismail Marzuki, dalam lagu Nasional bangsa Indonesia, Gugur Bunga, yang dibawakan dengan nuansa sedih tidak seperti biasanya.

Alun Harmoni Bali Kini

Kali ini, Intan Mayadewi sebagai soprano dan Lianto Tjahjoputro sebagai dirigen mengekspresikan Gugur Bunga dalam nuansa sedih protes, misterius dan marah kepada penjajahan rakyat Indonesia. Sebelum penutupan ini, disajikan original soundtrack film seri Legenda, penggambaran nuansa syair keabadian dengan metafora alam yang berjudul Abadi Selamanya karya Iwang Modulus dan lagu Bali Tradisional yang melegenda yang berjudul Janger. Ada lagu khusus untuk konser ini diciptakan oleh Lianto Tjahjoputro yang bertema Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Alunan Doa Sucikan Baliku.

Konser “Alun Harmoni Bali Kini” didukung olerh para pemain Lianto Tjahjoputro, Wayan Astrajaya, Intan Mayadewi Tjahjaputra, Mathilda Graseira, I Gede Bujangga Hartawan, Robert Brown, Budiono, I Putu Rama Astra Arimbawa, Christopher Jansen Lai, Aditya Pratama, Keisha Almira Saffa, Ni Kadek Ratih Pramadinda, Ni Nyoman Rianti Adi Saraswati Putri, Yesika, Rashad Malik Chaerullah, I Made Prema Astra Arimbawa, Elisabet, Ida Ayu Manoprabha Kalpika Swari, I Ketut Prana Astra Arimbawa, George Clinton, Natasha Putri Aisyah, Andro Kenzie Budiono, Ni Luh Ayumi Andayani dan Ngurah Krisna. [B/*]

Related Posts