12 Kartunis dengan 40 Karya Kartun Meriahkan Pemeran Bali Bangkit V

 12 Kartunis dengan 40 Karya Kartun Meriahkan Pemeran Bali Bangkit V

Pameran Bali Bangkit V yang berlangsung di Gedung Bawah Kseriarnawa, Art Center Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali itu terasa beda dari sebelumnya. Kali ini, pameran yang digagas Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster itu dimeriahkan dengan pameran kartun. Sebanyak 12 kartunis menampilkan sebanyak 40 karya kartun yang dipajang di salah satu ruang pameran yang terletak di Barat Laut areal di Art Center. Selain menghibur, masing-masing karya menyajikan peasn dan kritik yang menggelitik.

Tema yang diangkat sangat beragam, namun masing-masing karya memiliki kekhasan, sehingga menjadi sebuah sajian seni yang dapat memberi warna lain dari Pameran Bali Bangkit V 2021 itu. Para kartunis yang memamerkan karyanya merupakan kartunis lintas generasi, seperti Jango Paramartha, Gus Martin, Wied N, Pingky Sinanta, Agus Yudha, Putu Ebo Supardhi, Nyoiman Mayartayas, Anang Jatmiko, Klesuma T, Yere Agusto dan Tusuaria. Jumlah karya yang dipamerkan masing-masing kartinis tidak sama, karya itu juga ada yang dibuat baru dan ada yang sudah ada sebelumnya.

Ruang pameran itu sangat bersih dan rapi. Karya-karya kartun itu dipasang melingkar di sepanjang tembok kaca gedung munggil itu. Sementara di lantaui bawah, merupakan bursa buku yang juga ditata dengan rapi. Meski pameran kartun ini, baru kembali digelar, namun masyarakat khususnya seniman dan penggiat seni menyambut gembira. Ajang itu, menjadi hiburan sekaligus mengedukasi pengunjung Taman Budaya. Dan menyimak dari sajikan pameran itu, tampak sekali para kartunis ini memiliki ide yang sama, yakni membangkitkan generasi kartunis Bali utamanya.

Karya- karya yang ditampilkan mengungkap kondisi masyarakat saat pandemi. Berbagai sektor terdampak, sisi-sisi kehidupan serba terbatas yang banyak dijadikan topik oleh para kartunis itu. Beberapa diantaranya, ilustrasi belajar secara daring, upacara juga berlangsung virtual dan banyak momen menarik yang dituangkan dalam kartun secara humor. Kartun-kartun ini tak hanya menawarkan goresan dan warna yang sangat indah, tetapi pesan dan kritik yang disampaikan cukup menggelitik.

Baca Juga:  "Wreksa Kastuba" Sendratari ISI Denpasar interpretasi Tema PKB XLIII

Pemeran Bali Bangkit V

Ruang pameran bagi para kartunis di Bali, memang menjadi sebuah impian yang cukup lama didambakan. Apalagi pandemi melanda semua lini, nyaris segala kegiatan dibatasi. Persoalan lain, dihadapi dunia kartun atau jurnalis visual, yakni redupnya regenerasi kartun belakangan ini. “Pameran ini terselenggara berkat tawaran Ibu Gubernur Ni Putu Putri Suastini Koster untuk menampilkan karya-karya kartun di pameran Bali Bangkit ke V,” kata memang Jango Paramartha, Minggu 28 November 2021.

Perkembangan kartun saat ini memang jomplang. Di satu sisi regenerasi meredup, jomplang dalam artian pengertian atau definisi kartun yang keliru. Kartun itu cerdas bagi kita membahasakan atau jurnalis visual, bukan sekadar ilustrasi saja. “Dengan diberikan ruang ini, maka Taman Budaya tidak hidup saat Pesta Kesenian Bali (PKB) saja, tetapi juga pada hari-hari biasa. Apalagi ditambah dengan aturan baru sekarang menjadi pusat pembinaan oleh pemerintah, hal ini patut diapresiasi,” ucapnya.

Dengan diberirikan ruang bagi para kartunis ini, maka Art Centre ini menjadi museum atau tempat galery kartun, sehingga dapat menambah citra kartunis dimata nasional bahkan internasional. Upaya selanjutnya bagaimana mempromosikan dimana para kartunis saat ini berada dibawah organisasi Balica (Bali Cartoonis Asosiasi) semaki bergeliat lagi. “Dengan tempat yang baik, ada tempat teman-teman kumpul diskusi, memudahkan kita dalam menyusun agenda secara rutin setiap minggu, semisal menyelenggarakan workshop atau pameran tunggal,” jelasnya.

Putu Ebo sependapat dengan Jango, selama ini, ruang atau tempat para seniman kartun tidak pernah ada. Kartunis dengan nama lengkap I Gts Putu Hadi Supardhi, mengakui momen sekarang ini dijadikan motivasi, disaat teman-teman memerlukan tempat yang netral, siapapun mereka. ”Regenerasi kita mentok, di tengah pudarnya pegiat kartunis, terkadang menerima tamu saja sulit seperti mahasiswa ingin belajar kartun tapi tidak ada tempat kumpul,” terangnya

Baca Juga:  Tari dan Musik Etnik Batak Toba yang Menginspirasi

Kartun berkaitan kuat dengan jurnalismes, dan masih efektif ditampilkan sebagai salah satu alat ilustrasi. “Kita ingin menghidupkan wacana, bikin penerbitan, apalagi dunia digital saat ini situasi berbeda dalam mempublis. Di luar dijadikan ensiklopedi pakai kartun, belajar sejarah pakai kartun, belajar fisika jadi kartun menjadi media yang menarik untuk dikembangkan,” ungkapnya.

Masa jaya kartun, era 80-an hingga 2000, banyak para pemikir sekelas guru besar menggali kartun sebagai penelitian. Pada “2005- 2009, Bali menjadi pusat kartunis Indonesia (Pakarti) dipimpin Jango Paramartha, jadi sudah lama kartunis kita mengalami penurunan,” ucapnya. [B/*]