Menulis Aksara Bali di Ruang Public dengan “Pasang Jajar Palas”

 Menulis Aksara Bali di Ruang Public dengan “Pasang Jajar Palas”

Aturan menulis aksara Bali di ruang public dengan menulis pasang jajar palas. Artinya, dari segi komunikasi visual pasang jajar palas itu sangat tepat dibandingkan dengan pasar jajar sambung, seperti menulis dalam lontar. “Kalau pasang jajar sambung itu akan menulis terus menyambung seperti dalam lontar. Kalau itu dipakai dalam ruang public, orang tentu tidak ada yang akan menoleh, apalagi membacanya. Makanya dalam Pesamuan Agung 2019 diputuskan untuk di ruang public dibolehkan memakai pasang jajar palas,” ucap Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum Akademisi Prodi Sastra Bali Unud ketika menjadi narasumber dalam Kriyaloka (Workshop) Nyurat Aksara Bali di Komputer dalam Bulan Bahasa Bali ke-4 di Gedung Mahosadi Mandara Giri Bhuana, Taman Budaya Denpasar, Kamis 3 Pebruari 2022

Hal itu sempat menjadi kekhawatiartan para ahli yang dianggap melanggar undang-undang Bahasa. Padahal dalam menulis itu hanya bahasanya dengan memakai aksara Bali. Aksara Bali yang dipasang diatas untuk memuliakan dan menghormati peradaban tentang Bali, bukan sebagai ego sentral kedaerahan. “Pada awalnya, aksara Bali hanya dipakai menulis aksara Bali saja, tetapi sekarang bisa dipakai menulis Bahasa Indonesia, Inggris, dan alamat domain internet tinggal ada kesepakatan saja. Bahasa itu adalah kesepakatan. Karena aksara Bali belum mengenal F, Z dan Q. Dalam domain internet itu ada beberapa hurup konsonan tiga adeg-adeg, sehingga menyalahi aturan. Maka kalau sudah ada kesepakatan, maka akan menjadi bagus dan pas diketik,” imbuhnya.

Kalau menulis di ruang public, Gde Nala Antara menekankan dalam menulis aksara Bali bagaimana suaranya, itu yang ditulis. Bukan meyalin hurup itu. Gde Nala Antara kemudian mencontohkan, kalau Hotel One Legian maka yang ditulis bukan one –nya, tetapi suaranya maka yang disalin itu “wan” itu. Termasuk pula menulis Alfamart. Sebab, dalam aksana Bali itu tidak boleh konsonan dua beradeg-adeg. “Dalam rangka Bulan Bahasa Bali ada workshop menulis aksara Bali di komputer, kedepan tugas penyuluh atau lembaga bahasa dan majelis kebudayaan yang tetap mengedukasimereka (OPD red), sehingga terus diingat dan berlanjut,” jelasnya.

Baca Juga:  Lontar di Griya Agung Pasek Pergung Jembrana, Hanya 20 yang Teridentifikasi

Menulis Aksara Bali

Demikian pula, kalau menulis Jalan Nusa Indah memakai aksara Bali maka ucapannya yang ditulis. Bukan Margi Nusa Luwung (Jalan Nusa Indah). Ini sebuah langkah besar ke depan, dimana Bahasa Bali mampu menuliskan bahasa apa saja, Bahasa yang datang itu menyesusaikan. “Awalnya aksara Bali hanya dipakai menulis aksara Bali, sekarang datang Bahasa Indonesia, Inggris, alamat domain internet bisa tinggal disepakai daja. Karena Bahasa itu adalah kesepakatan.

Sikeluarkannya Peraturan Gubernur (Pergub) No 80 tahun 2018, itu artinya semua dan apapun yang ada di Bali, baik papan nama, kop surat dan termasuik ruang public semua harus menggunakan dwi aksara. Apapun itu bahasanya, namun aksara Bali tetap ada dan ditaruh diatas huruf latin. “Karena itu, workshop menulis aksara Bali di computer diberikan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali karena dari mereka lah yang akan setiap hari membuat kop surat, membuat spanduk, poster dan lainnya, sehingga secara optomatis mereka bisa menggunakan penulisan aksara Bali di komputer dengan ejaan yang benar,” paparnya.

Melalui workshop ini, OPD diharapkan bener-benar fahan menulis aksara Bali, paling tidak bisa mengurangi kesalahan. Manfaat dari workshop ini, mereka akan bisa menulis aksara Bali di kompoter melalui program itu, dan mereka bisa mengetik paling tidak akan mendekati kebenaran. Aplikasi sudah ada, mereka tinggal memakainya saja, tetapi mereka juga harus kenal dengan dengan pasang aksara. “Saya hanya memberikan dasar-dasarnya saja, seperti menulis kata-kata dari bahasa Bali asli, bahasa kawi atau jawa kuno, bahasa Indonesia dan bahasa asing. Itulah yang mereka harus pahami, disamping menulis singkatan dan ejaan,” paparnya.

Kriyaloka (Workshop) Nyurat Aksara Bali di Komputer dalam kegiatan Bulan Bahasa Bali ke-4 itu diikuti sebanyak 32 OPD) di Lingkungan Pemprov Bali dengan menghjadirkan dua narasumber, yakni Dipl-ing Made Suatjana (Pengripta Aksara Bali Simbar) dan Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum Akademisi Prodi Sastra Bali Unud. [B/*]

Related post