Ni Komang Sri Utari; Chef Wanita Unggul kini Banyak yang Muncul

 Ni Komang Sri Utari; Chef Wanita Unggul kini Banyak yang Muncul

Wanita sering kali disepelekan dan diangap tidak mampu melaksanakan pekerjaan diluar dari kodratnya sebagai seorang ibu. Padahal, wanita itu sangat tangguh. Di samping sebagai ibu rumah tangga yang mengurus seluruh keluarga, tidak sedikit pula yang mejadi tulang punggung keluarga. Bahkan, ada yang menjadi top leader di tempat kerjanya. Sebut saja salah satunya Ni Komang Sri Utari. Wanita asal Bangli ini sebagai Pastry and Bakery chef, disalah satu hotel berbintang dikawasan Sanur tepatnya “Prime Plaza Hotel and Suites” “Kalau serorang pria mampu, kenapa kami kaum wanita tidak?” kata Komang Sri sapaan akrabnya penuh semangat.

Sebagai seorang chef wanita, ia sangat yakin dan mampu bersaing dengan chef laki-laki. Bisa saja melebihi dari itu, sebab wanita memiliki kelebihan, yakni bekerja yang cendrung menggunakan hati nurani, sehingga menghasilkan suatu karya seni masakan yang betul-betul menginfirasi. “Sajian menu yang mendapat sentuhan wanita, akan menghasilkan sesuatu yang benar-benar bisa dinikmati, seperti ketulusan saat wanita berkarya. Artinya, chef wanita tak usah diraguka lagi. Sekarang ini, chef wanita yang unggul sudah banyak yang muncul,” tegasnya.

Kuncinya, seorang chef harus memiliki kepercayaan diri, skill, knowledge, dan etitude yang baik, sehingga mampu menampilkan suatu produk yang bernilai tinggi walau dalam waktu yang benar-benar sangat singkat. Seorang chef mesti mendukung suksesnya sebuah event dengan menciptakan berbagai kreasi menu. “Event pertama terbesar yang pernah saya handle di Prime Plaza hotel sekitar 1650 paxs, saat itu semua pikiran dan tenaga harus dipersiapkan dengan matang agar event itu bisa sukses dan berjalan lancar. Dan, akhirnya sukses berjalan lancar, itu tidak luput dari kerjasama semua team yang memerlukan kontrol dari leader yang cerdas dan smart karena that is challent,” paparnya.

Dalam hal produk, apa yamg bisa disiasati dikreasikan dalam menu untuk mendapatkan hasil yang mampu membuat daya tarik dari tamu, sehingga tamu itu mempunyai keinginan untuk mencicipi makanan kita. “Salah satunya yaitu dengan cara mengangkat kazanah budaya nusantara, yang mengkolaborasikan produk local dengan produk luar yang bisa dinikmati oleh tamu mancanegara,” ungkapnya.

Chef itu mesti cerdas, lanjut Komang Sri. Cerdas dalam artian, ketika dituntut untuk menghasilkan suatu karya seni, maka seorang Chef harus bisa mengimajinasikan menu yang akan ditampilkannya. “Misalnya, kalau tamu yang kita handle adalah tamu Eropa maka menu yang kita pilih adalah bergaya Eropa atau kita bisa meng kolaborasikannya dengan lokal food, contohnya Pie labu, pisang goreng with i/c, putri mandi dan lainnya, sehingga jenis pastry yang disajikanan akan beraneka ragam sesuai dengan keinginan tamu,” bebernya”.

Baca Juga:  Sayang Kepada Orang Tua, Putu Diky Wahyu Arjaya Garap “Tresna Sih Rupaka”. Ujian Sarjana ISI Denpasar

Di dalam menyajikan menu itu mesti disesuaikan dengan karakter tamu. Artinya, seorang chef harus jeli mensiasaati menu. Sebut saja tamu Belanda yang biasanya di handle sangat suka dengan pisang goreng, jadi itu yang lebih ditonjolkan dibanding menu yang lain, sehingga tamu itu akan back to back untuk memesannya. “Artinya itu keuntungan buat kita, disamping kita bisa memperkenalkan produk local untuk tamu mancanegara,” imbuhnya.

Ni Komang Sri Utari

Wanita yang sudah 27 tahun bergelut dalam dunia pariwisata ini menegaskan, di dunia pastry naluri wanita itu benar-benar digunakan untuk menuangkan daya imajinasi kedalam karya seni karena dalam dessert itu berhubungan sekali dengan dekoration, cara membuat atau making atau produk. Kreasi menjadi hal utama, karena karya seni membuat orang tertarik. Mendesain, menghias itu semuanya perlu naluri, sehingga kecantikan wanita itu bisa kita ekpresikan lewat produk yang kita bikin. “Orang Bali sangat dekat dengan seni, dan itu sangat mendorong sekali produk yang dihasilkan akan indah atau dengan istilah inner beauty. Kalau kita sudah memiliki inner beauty.maka apapun yang kita hasilkan pasti positif,” ujarnya.

Apalagi, hal tersebut diimbangi dengan kegiatan spiritual, maka aura positifnya bisa diimajinasikan sesuai dengan hati nurani, dan akan tereksplor dengan sendirinya. Hal ini penting, karena dunia pastry itu berkembang terus sebagai bentuk dari kreasi. “Saya sering memperhatikan wanita Bali dalam membuat jaje cacalan. Itu cara membuat karakter bentuk, sehingga itu yang saya tuangkan didunia pastry. Orang yang memiliki imajinasi tinggi pasti bisa menuangkan segala kreasinya dalam produk khususnya dalam dunia Pastry,” lanjutnya.

Menurutnya, pastry itu ilmunya sangat complit sekali, ada ilmu matematikanya, fisika, biologi, kimianya jadi pastry itu ilmu yang benar-benar komplit. Misalnya salah menimbang bahan, hasilnya akan salah karena dalam dunia pastry itu ilmunya pasti, kalau salah dipreparation berarti hasilnya akan salah. Begitu juga saat produck, baking, semua itu harus pas ilmunya.

Baca Juga:  33 Diorama di Monumen Perjuangan Rakyat Bali Melukiskan Spirit Perjuangan Rakyat Bali

Ibu dari Putu Rikha Pradnya Paramitha S.Psi, Ni Made Dea Artania Weda Sani dan Ni Komang Naesha Clara Cahyani ini kembali menegaskan, modal menjadi chef pastry harus memiliki pengetahuan yang berarti harus belajar di sekolah, memiliki wawasan dalam artian rajin bergaul dan berorganisasi. Bergaul sama praktisi seni, rajin mengikuti kompetisi, sehingga terdorong untuk menciptakan yang baru. Selanjutnya rajin belajar dari katolog, banyak searching google terkait kreasi chef dunia, sehingga begitu dituntut manajemen untuk menampilkan sesuatu yang beda maka gampang mengikutnya.

Sebagai ibu rumah tangga, seorang insruktur dan pekerja parisata, Komang Sri mesti pandai memanajeman waktu. Paling penting adalah memposisikan diri dimana saat itu ia berada. Sebut saja ketika berada di hotel, semua pekerjaan hotel ia harus selesaikan di hotel mulai komplin dan lainnya. Kalau sudah dirumah ia akan lakukan tugas sebagai ibu rumah tangga. Jangan dibawa pulang. Maka dari itu perlu memanejemen dan mengkontrol pikiran kita sendiri. “Saya pelajari ini semua seiring waktu berjalan, seiring umur yang menua. Suatu kebanggaan buat saya di umur saya sekarang ini, juga sebagai intruktur disalah satu kampus, Diamond International Cruise Line, sebagai pengajar di SMK Bali Dewata, sebagai Asesor Lsp Parindo maka dengan cara itu kita harus bisa memanejemen waktu. Dengan tetap mengutamakan kerjaan utama kita sebagai seorang chef, di luar itu adalah side job yang bisa kita handle selepas kerjaan kita di hotel dan pada saat kita off di hotel,” paparnya.”

Terinspirasi dari Kakak

Untuk menjadi seorang chef yang handal, Komang Sri melalui dengan proses yang panjang. Ia sendiri masuk sekolah Pastry Bakery di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) tahun 1994 – 1995. Pada saat itu, banyak teman-teman wanita mengikuti pelatihan. Itu artinya wanita sudah mulai tumbuh minat menjadi seorang chef. “Saya terinspirasi dari kakak yang seorang Chef Pastry di Grand Hyatt, tetapi beliau sudah meninggal. Saya melihat kreasinya, kegagahan dengan chef jaket, makanya terinspirasi mengikuti jejaknya. Menjadi chef wanita salah satu profesi untuk mengembangkan karier,” kenangnya.

Baca Juga:  Bumi Bajra Pentaskan “Plastik” di Petato Head Seminyak. Sampaikan Pesan Jaga Lingkungan

Keluarga semuanya mendukung, walau pariwisata belum seheboh sekarang, Sekolah pariwisata juga belum dikenal banyak orang, tetapi, setelah menjalaninya rasanya benar-benar beda, dari segi disiplin, ruang lingkup semuanya terasa beda sekali. Ia akhirnya semakin bangga memilih pariwisata sebagai karier masa depan. Maka itu, setelah tamat STP pada 1995, ia langsung rekomen kerja di Bali Bakery. Setelah 6 tahun lamanya, ia mulai berpikir tidak mau mentok di restoran pabrik roti. Memang pabrik roti itu perlu untuk update produck secara menerus. Ia kemudian pindah ke Hotel Patra Jasa hotel BUMN five stars di kawasan Tuban. “Saya mempunyai prinsip cukup 6 tahun di restoran dan melanjutkan di hotelier. Karena tujuan kuliah itu untuk mencari prengalaman dan ilmu dan tidak bohong serta munafik juga mencari salary,” ungkapnya.

Selama 6 tahun di Bali Bakery, Komang Sri mengawali kariernya dari cook hingga dipercaya sebagai supervisor. Setelah dari Bali Bakery melanjutkan Kariernya ke The Patra Bali sebagai Demi Chef pada 2008. Selanjutnya pada 2013 akhirnya resain dari The Patra Bali setelah 13 tahun mengenyam pengalaman disana. Lalu melanjutkan kariernya ke salah satu hotel four star Grand Mega Hotel. Ia memulai karier menjadi Pastry Chef, selama 2 tahun. Setelah itu lalu menuju Ubud Adventure Center (sekarang MosonAdventure Center) sebagai pastry chef juga.

Sampai sekarang stay at Prime Plaza hotel and Suite Sanur sebagai Pastry and Bakery Chef. “Merupakan kebanggaan buat saya bisa meng-handle hotel Mice besar di Sanur, walau banyak tantangan yang saya hadapi, tetapi itulah seni dalam berkarya, dan saya yakin mampu untuk melewati segala tantangan itu. “Believe in miracle nothing is imposible” Yakin akan keajaiban tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Itu benar-benar perjuangan sebagai seorang chef wanita,” pungkasnya. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post