Angkat Tema “ The Soul of Bali”, Moon Festival Sajikan Pegelaran yang Berakar Budaya dan Tradisi

 Angkat Tema “ The Soul of Bali”,  Moon Festival Sajikan Pegelaran yang Berakar Budaya dan Tradisi

Gambar ajang Moon Festival tahun sebelumnya/Foto: doc.balihbalihan

“Moon Festival” bulan Mei 2022 menyajikan pagelaran seni atraktif, penuh ekspresi dan sangat menarik. Seni tari, seni music maupun olah vocal ditata menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang memang indah, serta syarat pesan. Njana Tilem Museum, Mas Ubud tempat penyelenggaraan festival pada, Minggu 15 Mei 2022 itu menjadi pusat berkumpulnya seniman, penghobi seni ataupun masyarakat seni. Festival dengan tema “The Soul of Bali” digelar oleh Sanggar Maha Tjandra itu menampilkan koregrafer dan komposer ternama dengan karya-karya terbaiknya.

Setelah dibuka MC, Tari Singing Bowl “Air dan Api kehidupan” menyapa para pengunjung festival melalui tari yang dibawakan oleh wanita dengan sentuhan rasa yang kuat. Tarian Singing Bowl dibawakan oleh Sanggar Maha Tjandra yang diciptakan oleh Kadek Dewi Aryani (KDA) sungguh memukau. Para penari menari dengan kelenturan gerak tubuh yang penuh penjiwaan. Para penari tak hanya menciptakan gerak melalui tubuh yang indah, tetapi ruang gerak diciptakan melalui properti seperti api, bowl, dan air. Tari ini sangat menarik, karena hanya diiringi lagu yang dibawakan oleh KDA dan musik ditata Mark Andre.

Selanjutnya “Kidung Tirta“, sebuah penampilan Hang Drum dari Gusti Sudarta & Bajradnyana. Gusti Sudarta yang memiliki kemampuan kuat untuk “matembang” (lagu-lagu klasik) hanya diringi Hang Drum dan dua suling gambuh. Suguhan seni ini dominan menyajikan tembang-tembang yang syarat arti, namun yang pasti tidak menjemukan. Tembang itu dipadu dengan suara Hang Drum yang dimanikan penuh penjiwaan. Pada penampilan berikutnya memadukan vokal, hang drum, suling gambuh, kendang dan rebana dengan penataan melodi yang sangat mempesona.

The Soul of Bali

Gus Teja kemudian tampilkan “Irrepleaceable Love” kecintaan seseorang kepada seseorang atau pun sesuatu yang dia cintai yang tak bisa tergantikan. Permainan suling seruling ini dieksplor Kadek Dewi Aryani, seorang penari kontemporer yang selalu kreatif. Ia menari sambil memainkan gaun yang lebih besar. Berikutnya, masih Gus Teja yang menyajikan “Saraswati“ kolaborasi dengan Gung Iswara yang mnyajikan garapan seni mengisahkan tentang keagungan Dewi Saraswati.

Baca Juga:  Drupadi Menggugat Kemapanan Kekuasaan Lelaki di Jakarta

Penampilan kemudian Comedy By Arsa Wijaya “OVER atau TO much“ kisah para wanita yang bergaya Fashion, namun tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan. Sajian seni ini sarat dengan pesan dalam menjalani kehidupan. Lalu Basundari a song dibawakan oleh Putu Candra Wati, sebuah lagu yang mengisahkan tentang betapa pentingnya kita mencintai alam ini. Lagu dengan lirik-lirik yang saranm pesan untuk menjaga lingkungan, begitu kuat terasa.

Penampilan selanjutnya “Sekar Emas” oleh KDA serta didukung oleh para penari Sanggar Maha Tjandra. Sekar Emas adalah lagu Sekar rare yang dikemas dengan music modern yang diaransemen oleh musisi Jerman yaitu Mark Andre. Lagu ini diiringi oleh tarian yang gemulai oleh penari dari Maha Tjandra dan tariannya di koreography oleh KDA.

The Soul of Bali

Di penghujung, Gus Teja World Music menyajikan “Unify“ sebuah karya music yang sarat akan pesan untuk tidak membedakan ras atau ethniq. Morning Happiness oleh Gus Teja berkolaborasi dengan WakaPolda, Brigjen Pol I Ketut Suardana yang membawakan lagu yang sudah tidak asing lagi dari Gus Teja yaitu tentang kebahagiaan di pagi hari. Lalu, On Fire kembali oleh Gus Teja yang disukung penari-penari dari Maha Tjandra yang menari sebagai luapan kebahagaian yang penuh harapan untuk dunia pariwisata Bali bisa bangkit lagi. festival kemudian ditutup dengan persembahan KDA dengan Moon Festival the Soul of Bali.

Dewi Aryani mengatakan, Moon Festival bulan Mei mengusung tema “The Soul of Bali”. Sebuah festival seni pertunjukkan dimana Taksu Bali yang berakar budaya dan tradisi, menjadi dasar dari pegelaran malam itu. Para seniman Bali membawakan karya seninya di panggung terbuka Njana Tilem Museum, dengan penuh rasa, dan suka cita. “Kami berharap, melalui festival ini Bali sebagai pulau surga penuh dengan kebahagiaan inside and out, bisa dirasakan oleh penikmat seni waktu itu, terutama para wisatawan asing atau para expat yang tinggal di Bali. Kami senang, mereka sangat antusias menonton pagelaran ini,” ucap Dewi senang. [B/*]

Related post