Empat Komunitas Meriahkan Malam Pentas Seni Festival ke Uma 3

 Empat Komunitas Meriahkan Malam Pentas Seni Festival ke Uma 3

Malam pentas seni Festival ke Uma 3, Sabtu (9/7) tak hanya indah dan menghibur, tetapi juga mengedukasi. Penonton yang ada di areal persawahan Subak Kekeran, sebagai tempat pentas itu seperti terkunci. Mereka seakan tak mau beranjak dari tempat duduknya, takut kehilangan sajian seni yang memang berbeda dari biasanya. Suasana terbuk alam persawahan, siluwet Gunung Batukau, langit yang dihiasi bintang-bintang dan terkadang dilewati awan seakan menjadi bagian dari sajian semi itu. Belum lagi suara alam sawah, memang beda sekali.

Bersamaan dengan pulangnya Sang Surya, bocah-bocah dari Komunitas Mahima menyongsong malam dengan menampilkan teater “Men Tiwas Men Sugih”. Penonton seakan diajak pada kehidupan masa lalu, belajar dari sifat-sifat men tiwas yang tak memiliki harta namun kaya akan budhi baik. Walau kisah ini diperankan oleh artis cilik, namun mereka sangat lihai bermain karaker. Artis cilik itu memiliki ingatan yang baik, baik dalam berperan, berdialog ataupun dalam membagi ruang pentas

Pentas Seni Festival ke Uma 3
Komunitas Mahima

Sawah yang belum begitu kering dan masih tersisa sumi (jerami), bukannya menjadi kendala bagi mereka tampil, justru menjadi lebih alami seperti di alam asrinya. Pementasan komunitas yang bersekretariat di Kabupaten Buleleng ini seakan tidak ada batas, karena penonton yang menyaksikan bisa memilih sesuai dengan keinginannya. Bahkan pemain terkadang berada diantara penonton, seakan menjafi bagian dari pertunjukan ini. Ada yang duduk-duduk di pundukan (pematang) sawah, jongkok ada pula yang berdiri santai.

Penonton kemudian bergeser lebih mendekat ke sisi utars sawah ketika menikmati sajian seni kedua, yaitu dari Komunitas Jalan Air. Komunitas yang berdomisili di Kabupaten Tabanan itu menyajikan musik puisi Aku Danau; Aku Laut karya Tan Lioe Ie. Ketika diminta menyanyi lagi, komunitas ini kemudian menampilkan beberapa puisi yang sudah ada sebelumnya.

Baca Juga:  Istanbul Gelar Pameran “Amplifying Mind And Optical Paradox” di Artotel Sanur
Pentas Seni Festival ke Uma 3
Komunitas Jalan Air

Posisi Komunitas Jalan Air itu kemudian digantikan oleh penampilan Komunitas Budang Bading yang berdomisili di Badung. Komunitas yang didominasi siswa setingkat SMA itu tampil penuh dangan penjiwaan. Makna puisi masih kuat, walau dibuat menjadi musik yang indah. Sebut saja Puisi Cinta Belalang Tanah dan Jalan Subak yang Menanjak karya Made Adnyana Ole. Termauk pula
Puisi Seusai Gerimis Pagi karya Muda Wijaya dan puisi Di Taman itu Jejakmu Masih Terasa karya Moch Datrio Welang.
Pesan’-pesan yang ada dalam puisi tersebut, seperti mengajak untuk menjaga sawah ditegaskan kembali melalui alunan musik minimalis, namun tetap indah.

Musik puisi yang disajikan diaransemen sangat baik. Suara 1, suara 2 dan suara 3 mengalir, seperti irama alam yang sangat kuat. Puisi yang sesekali dibaca, mempertegas pesan yang ingin disampaikan dari karya puisi tersebut. Dengan iringan dua gitar dan sebuah keyboard, menjadikan musik puisi ini sangat menaik. Suasana yang semakin malam semakin tak terasa karena setiap perubah waktu itu disisipi alunan musik puisi yang memang indah.

Pentas Seni Festival ke Uma 3
Komunitas Budang Bading

Penoton kembali bergeser kebagian barat laut areal sawah itu, saat Teater Kalangan menyajikan karya berjudul “Pan Jempiyit”. Pentar teater ini tergolong kreatif karena memadukan seni perkeliran dan seni drama diatas panggung. Ada dua kelir yang dipasang seperti tenda-tenda kemah. Dari dalam tenda itu narator atau dalang memainkan wayang-wayang kecil dan enerjik. Pada bagian tertentu, tokoh dalam cerita itu diperankan langung oleh pemain denhan kakater seeta penjiwaan yang kuat. Teater ini tak hanya sarat pesan, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap situadi jaman kini yang tak berpihak pada lingkungan.

Pentas Seni Festival ke Uma 3
Teater Kalangan

Ni Nengah Budawati dari Bali Women Crisis Centre yang ikut sebagai penyelenggara Festival ke Uma 3 ini mengatakan, penampilan keempat komunitas ini tak hanya sebagai ajang untuk pentas seni, tetapi lebih dari pada sebuah ajakan dan edukasi untuk menyelamatkan alam persawahan dengan segala tradisi yang ada di dalamnya. Hal itu pasti, karena disetiap kisah (cerita) atau puisi yang diangkat lebih pada penyelamatan alam, utamanya sawah. “Kami sangat berterima kasih kepada empat komumitas yang ikut memeriahkan Festival ke Uma 3 ini. Mereka anak-anak kreatif dan peduli pada lingkungan, ” katanya. [B/*]

Related post