Dari Diskusi “To I Bungan Sandat”:A.A Made Cakra “Legend” Pionir Lagu Pop Bali

 Dari Diskusi “To I Bungan Sandat”:A.A Made Cakra “Legend” Pionir Lagu Pop Bali

Sejumlah penyanyi Bali, seperti AA Wirasuta, Jun Bintang, Dewi Pradewi, Dwarsa Sentosa, Keroncong Made in Tjrong Bali, Keroncong Pesona Dewata, UKM Kesenian Unud, AA Alit Sudarsana dan AA Rai Sukani menyanyikan lagu-lagu ciptaan AA Made Cakra di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 12 Oktober 2022. Dengan suasana senang dan gembira, mereka bersama-sama menyanyikan lagu “Kusir Dokar”, “Sopir Bemo”, “Jukut Plecing”, dan “Made Rai” yang sangat dekat dihati masyarakat jaman itu.

Itulah suasana diskusi bertajuk “To I Bungan Sandat: Tribute to AA Made Cakra” yang digelar serangkaian dengan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV. Diskusi itu menghadirkan narasumber Dr. I Made Sujaya seorang akademisi dan budayawan, Made Adnyana wartawan dan pengamat music dan dipandu Galuh Praba. Pada kesempatan itu, hadir pula penyanyi Alit Adiari dan musisi sekaligus akademisi, I Komang Darmayuda yang ikut serta urun rembuk.

Made Sujaya menyampaikan, bicara sosok dan karya-karya AA Made Cakra tak hanya bicara lagu pop Bali, tetapi juga dinamika bahkan transformasi budaya Bali. AA Made Cakra menjadi pionir lagu pop Bali memasuki era komodifikasi. Pada tahun 1970-an, AA Made Cakra dengan band Putra Dewata mengawali membawa lagu pop Bali ke panggung industri dan lagu Bali tumbuh menjadi salah satu aspek penting perkembangan budaya populer lokal Bali.

Sujaya yang meruipakan dosen Universitas Mahadewa itu menegaskan, selain kekhasan secara estetik, lagu-lagu AA Made Cakra juga punya ciri khas secara tematik, yakni kehidupan rakyat biasa, orang-orang kecil. “Sebut saja kisah kocak kusir dokar, cerita nakal sopir bemo, dagang koran, hingga kuliner khas rakyat: jukut plecing hingga kue pulung-pulung ubi,” paparnya.

Baca Juga:  Adilango FSBJ III “Kursi” Teater Agustus, Beri Pesan Matinya Kuasa atas Perusakan Alam

AA Made Cakra

Dalam kesehariannya, AA Made Cakra dulu juga berprofesi sebagai tukang cukur. Profesi yang identik dengan rakyat bawah. Ini juga yang membuat sensibilitasnya terhadap kehidupan rakyat di bawah terasa kuat. Secara sosial, ini cerminan kebangsawanan yang hidup di tengah rakyat. Hal ini pula membuat masyarakat mudah mengidentifikasi dirinya pada lagu-lagu AA Made Cakra. “Lagu-lagu AA Made Cakra juga menjadi semacam monumen kata-kata yang merekam dinamika zamannya. Lagu-lagunya sangat kontekstual,” ungkap Sujaya.

Demikian halnya Made Adnyana yang mengatakan, karya musik Anak Agung Made Cakra dikenalkan oleh ayahnya Made Adnyana sendiri. “Saya dikenali dengan karya seni musik Anak Agung Made Cakra oleh bapak saya. Saat pulang dari Denpasar ke Pupuan, Tabanan, bawa kaset album band putra dewata, saat itu umur saya masih 7 tahun,” ungkapnya.

Pengamat seni musik itu menambahkan, sebelum tahun 1970-an, belum ada rekaman lagu dengan bahasa Bali. Lagu kusir dokar saat itu dikatakan sudah disiarkan melalui radio, namun lagunya belum ada yang direkam berbentuk kaset. “Sebelum tahun 1970, belum ada rekaman kaset Bahasa Bali, lagu Kusir Dokar sudah disiarkan di radio tapi belum direkam. “Karena waktu itu di Bali studio belum bagus, sehingga perekaman kaset dilakukan di banyuwangi, dan pasca ada kasetnya langsung booming lagu Kusir Dokar tersebut,” paparnya.

Kedua narasumber menyebut kekhasan A.A Made Cakra pada era 60-an hingga 70-an, lagu-lagunya memotret kehidupan masyarakat bawah secara kocak. Memasuki era 80-an, lagu-lagunya mulai bersifat didaktis dengan pesan-pesan moral yang menonjol. Bahkan, lagu monumentalnya, “Bungan Sandat” telah mengalami “normalisasi” dalam dinamika budaya Bali. Lagu itu tak hanya jadi lagu wajib dalam berbagai lomba lagu Bali, tapi lebih dari itu telah pula menjadi semacam rujukan nilai-nilai ideal, terutama tentang bagaimana bajang (dan teruna) Bali mesti bersikap di tengah perubahan.

Baca Juga:  Pergelaran Bulan Bahasa Bali
Sanggar Bajrajnyana Music Theater Sajikan “Sanggita Karma Yoga Sanyasa”

Lagu “Bungan Sandat” diciptakan sekitar tahun 1980-an. Ketika itu, masyarakat Bali menghadapi guncangan secara kultural. Kasus-kasus kehamilan tak diinginkan mencuat. Banyak sastrawan merespons fenomena sosial itu dalam karyanya, seperti novel “Sunari” karya Ketut Rida, cerpen “Ni Luh Sari” karya Ida Bagus Mayun. AA Made Cakra tampaknya juga merespons dinamika itu melalui lagu. Dan dia berhasil karena lagunya menjadi rujukan moral etis tentang gadis Bali yang mesti menjaga kesuciannya. [B/*]