Keberhasilan Kerja Kurator Kunci Pelaksanaan Hajatan Seni-Budaya 

 Keberhasilan Kerja Kurator Kunci Pelaksanaan Hajatan Seni-Budaya 

“Festival, Kuratorial, dan Upaya Penciptaan Baru” topik Timbang Rasa (Sarasehan) Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV tahun 2022 dibedah oleh dua budayawan yang telah malang melintang dalam dunia seni-budaya di Indonesia, bahkan dunia, yakni Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., dan Seno Joko Suyono. Sarasehan ini berlangsung dari Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar, Kamis 20 Oktober 2022 dan disiarkan melalui Zoom Meeting dan YouTube Dinas Kebudayaan Bali. Kedua narasumber sepakat, bahwa keberhasilan hajatan seni-budaya sangat ditentukan oleh kerja kuratorial yang handal.

Pada kesempatan itu, Seno Joko Suyono memaparkan secara historis, proses kurasi awalnya eksis di dunia arkeologi. Kurasi dilakukan para pakar purbakala untuk memamerkan benda-benda yang nantinya ditempatkan di museum dan dapat dinikmati oleh setiap orang. “Kerja-kerja kuratorial kemudian berkembang di dunia seni, khususnya seni rupa dan juga seni pertunjukkan,” katanya.

Kerja-kerja kuratorial adalah dunia yang terhubung dengan pemikiran. Kuratorial diadakan untuk menampilkan pemikiran-pemikiran baru, sehingga mendukung perbaikan dari pergelaran seni-budaya yang ditampilkan. “Kerja-kerja kuratorial bisa menampilkan atau membaca ulang hal lampau sehingga relevan dengan kondisi hari ini. Kuratorial menampung gagasan baru, tafsir baru atas pemikiran yang lama,” sebut pewarta kelahiran 1970 ini.

Seorang kurator, pun dianggap bertanggung jawab terhadap keberlanjutan suatu event. Oleh karena itu ia menekankan arti penting proses kurasi dalam sebuah hajatan seni-budaya. “Kuratorial memiliki tanggung jawab untuk keberlanjutan festival. Dalam suatu festival, kadang tema hanya formalitas, di sanalah peran kurator dalam membangun hubungan yang bukan hanya formalitas, hendaknya ada komunikasi yang baik antara kurator dan para seniman,” imbuhnya.

Pelaksanaan Hajatan Seni-Budaya 

Prof. Bandem menyampaikan, mengatakan festival pada mulanya berasal dari bahasa Latin yang terkait dengan pelaksanaan pesta. Awalnya terkait dengan praktik-praktik keagamaan. Pada waktu-waktu kemudian, festival ini pun terus berkembang, bahkan hari ini dapat ditemui ada banyak festival, termasuk di Bali. “Ada festival yang bertaraf internasional, nasional, maupun lokal. Di sinilah dibutuhkan kerja kuratorial yang baik untuk menjaga keberlanjutan dari festival-festival yang kini menjamur,” jelasnya.

Baca Juga:  Tiga Seniman Asal Bali dan Yogyakarta Sambungkan Parasaan dan Isi Pikiran di Artspace ARTOTEL Sanur – Bali

Proses kurasi ada untuk membangun ekosistem seni dan membangun wacana dari setiap perhelatan seni budaya yang diadakan. “Kurator perlu melakukan riset yang baik, sehingga kelangsungan festival atau pergelaran seni bisa berjalan dengan baik. Kurator juga bertanggung jawab terhadap pembangunan wacana, bagaimana membangun tema yang akan menjadi pedoman pelaksanaan sebuah pergelaran,” sebut Prof Bandem yang dijuluki sebagai “Joe Papp dari Bali” ini.

Seorang kurator memang sangat berperan untuk evaluasi dan pijakan penggarapan event selanjutnya. Baiknya kerja-kerja kuratorial ini di akhir kegiatannya membuat buku, sehingga ada yang digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan selanjutnya. “Ke depan proses-proses kuratorial dapat digarap lebih serius. Khusus untuk FSBJ yang akan digelar pada tahun-tahun selanjutnya pihaknya berharap ada lokakarya yang secara khusus mempertajam kualitas kerja-kerja kurasi pelaksanaan hajatan seni,” harap Mantan Rektor ISI Yogyakarta ini. [B/*]