Sanggar Seni Kembang Bali dan Komunitas Seni Padma Buddharam Lestarikan Seni dan Budaya Bali melalui “KEMPA Festival”

 Sanggar Seni Kembang Bali dan Komunitas Seni Padma Buddharam Lestarikan Seni dan Budaya Bali melalui “KEMPA Festival”

Anak-anak ini tampil dengan gaya dan teknik yang memikat. Setiap bilah yang dimainkan mengundang tepuk tangan penonton yang meriah. Aksi penabuh-penabuh cilik ini, menyajikan permainan gender wayang yang tak membosankan. Itulah penampilan penabuh anak-anak pada Lomba Gender Wayang Berpasangan di Balai Banjar Tunjuk Kelod, Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Sabtu 24 Desember 2022. Lomba ini menampilkan para seniman anak-anak hingga remaja yang saling beraksi adu kepiawaian memainkan gamelan gender.

Disamping menggelar lomba gender wayang, lomba yang digelar oleh Sanggar Seni Kembang Bali dan Komunitas Seni Padma Buddharam itu juga mengelar Lomba Tari Condong Legong Lasem untuk anak-anak. Peserta lomba untuk tahun ini diikuti oleh 32 peserta Condong dan sebanyak 12 peserta gender wayang dari seluruh Bali. “Gender Wayang merupakan salah satu dari barungan gamelan Bali yang berlaraskan selendro lima nada, yang biasanya dimainkan oleh empat orang, namun kali ini dimainkan secara berpasangan (dua orang). Itu tidak mengurangi makna dari spirit gender wayang tersebut,” kata pengelingsir Sanggar Seni Kembang Bali I Nyoman Hartanegara, S.S.

Segala aktivitas komunal tidak dapat berjalan (mandeg) selama sekitar 2.5 tahun akibat dampak Pandemi Covid-19. Hal tersebut juga berdampak seniman-seniman di sanggar seni ini yang tidak dapat mengapresiasikan hasil karyanya dengan optimal. “Maka dari itu, menggelar lomba Gender Wayang dan Tari Condong dengan tema “Sangkakala Lampahing Gubarbala” ini, sebagai sebuah pemacu dalam spirit kebangkitan dalam perjuangan melawan kegundahan melalui sebuah suara nyaring yang dapat menyebabkan suatu keindahan, yang memberikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan,” ujar Ketua Panitia Kadek Agus Pusaka Adiputra, S.Sn.

Dalam tema ini, pihaknya ingin membangkitkan kembali semangat generasi muda untuk melestarikan kesenian Bali dengan membuat suatu perlombaan dalam bidang seni tari dan karawitan Bali. “Saat ini seni budaya Bali makin terkikis karena pesatnya perkembangan arus globalisasi membuat generasi muda cenderung lebih memiliki minat ke teknologi dibandingkan menjalankan minat dan bakatnya khususnya di bidang seni. “Nah, untuk melestarikan seni dan budaya Bali itu, kami realisasikan melalui sebuah festival seni dengan nama “KEMPA Festival”. Pertunjukan seni tersebut, juga merupakan seni paling popular di kalangan masyarakat Bali,” sebutnya.

Baca Juga:  “Rejang Shanti”, Tarian Pengiring Upacara di Banjar Desaanyar

Lomba ini untuk meningkatkan kesadaran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan daerah Bali khususnya dalam seni Gender Wayang dan Tari Condong. Melalui lomba ini, juga untuk menyediakan wadah bagi para peserta Gender Wayang dan Tari Condong untuk mengasah kemampuan yang dimiliki, disamping mengembangkan wawasan ke masyarakat tentang kedua seni tersebut. “Lomba ini juga sebagai rangkaian memperingati hari ulang tahun Sanggar Seni Kembang Bali dan Komunitas Seni Padma Buddharam,” papar Saka sapaan akrabnya.

Setelah dewan juri melakukan penilaian, untuk pemenang Lomba Tari Condong tingkat anak-anak se-Bali diraih oleh Ni Putu Selvia Madana Garini, Ni Komang Kirana Setyadewi Nanda Yoga, dan Ni Komang Okta Sadhu Kerta Ninggrum sebagai Juara I, II dan Juara III. Untuk juara Harapan I, II dan Harapan III diraih oleh Ni Wayan Widya Lestari Putri, Ni Kadek Rara Cipta Pratiwi dan Ni Ketut Wulan Ardyanti.

Sementara sebagai pemenang Lomba Gender Wayang pasangan Made Diptha Abhiwikrama Tanaya dan Kadek Gandhi Satua Ardiana berhasil sebagai Juara I, pasangan Ni Putu Intan Tri Gayatri dan I Putu Diptha Mediantara sebagai Juara III dan pasangan Ni Putu Gita Kirana Putri dan I Putu Eka Nugraha Pratama sebagai Juara III. Sementara untuk juara Harapan I, II dan Harapan III diraih pasangan Ida Bagus Yaswananda Manguningrat dan Dewa Made Bayu Mahayasa, I Gusti Komang Anjaya Putra dan Ida Bagus Putu Kresna Mahaputra serta pasangan I Putu Mardiana Wibawa dan I Gede Dika Agastya Ermawan. [B/*]