Kesenian Janger Bernuansa Sosial, Tari dan Nyanyian Penuh Percintaan.

 Kesenian Janger Bernuansa Sosial, Tari dan Nyanyian Penuh Percintaan.

Pernah menyaksikan kesenian Janger? Dulu, sekitar tahun 70-an, kesenian Janger sangat populer di Pulau Dewata. Tari dan nyanyiannya penuh percintaan. Janger sering pula dikolaborasikan dengan kesenian lain, sehingga nuansa kesenian sosial itu ada pada garapan-garapan baru, baik yang digarap oleh koreografer luar daerah ataupun luar negeri. Janger, sebuah genre tarian Bali dikategorikan sebagai tarian sosial, biasanya ditarikan secara berkelompok oleh sejumlah muda-mudi penuh kegembiraan. Penari putra (muda) disebut “kecak” dan penari putri (mudi) disebut “janger” tampil ceria dan memikat.

Belakangan, kesenian janger dirasakan sangat rendah intensitasnya. Entah karena pertunjukan seni tari janger sulit diwujudkan atau masyarakat dan generasi muda sekarang tidak berminat pada pertunjukan tari janger itu. “Saya mencoba menelaah keberadaan janger dengan menggunakan metoda pendekatan ontologi, epistimologi dan aksiologi, berkenaan dengan terminology, sejarah dan perkembangannya. Juga mengupas balutan pesan-pesan keindahan, keagamaan, pendidikan, kebersamaan, sosial ekonomi, politik, kenegaraan, percintaan dan propaganda lainnya,” kata Dr. Desak Made Suarti Laksmi, SSKar.,MA, Minggu 8 Januari 2023.

Dosen Program Study (Prodi) Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini, telah melakukan kajian terkait sejarah dan popularitas kesenian janger. Kesenian Janger memang indah, dan sebagai sebuah pendidikan. Tariannya membutuhkan kebersamaan dan kerampakan, sehingga penonjolan kemampuan individu menjadi sangat terbatas. Ekspresi keceriaan dalam ragam geraknya yang serempak (unison) dan lebih banyak dilakukan dalam posisi matimpuh (duduk bersimpuh), dan penari Kecak masila (duduk bersila). Lantunan pesan diekspresikan lewat tembang-tembang yang dikelompokkan dalam tembang sekar rare secara solo dan korus.

Wanita kelahiran Karangasem, 28 Maret 1959 ini mengatakan, janger itu menarik karena ada Jangkrangan, permainan kata-kata “jangkrangi jangi janger” dengan mengikuti melodi pokok pangawak lagu yang diposisikan pada bagian akhir setiap stuktur komposisi lagu, merupakan nyanyian khas dalam tarian janger. Kata janger sering dikatakan sebagai medium penerangan, propaganda, karena sisipan-sisipan pesan dapat dirajut dalam teks-teks lirik lagunya, baik yang diungkap secara terselubung ataupun terkadang vulgar. Tari Janger memakai iringan gamelan bebatelan gong suling atau tetamburan.

Tarian janger juga sangat adaptif bisa diiringi dengan gamelan pegongan saih pitu, seperti Gamelan Semaradana maupun Semar Pagulingan. Degup ritmikal tabuh tetamburan (stamburan) dalam siklus colotomik dengan patern pendek (2/2, 3/4, atau 4/4) untuk mengiringi atraksi demonstrasi koreografi. Penonjolan maskulinitas koreografi kecak dengan gerak rampak, stakato, dalam berbagai formasi menarik perhatian penonton. Penggunaan instrumen tawa-tawa sebagai metris tempo lagu, rebana besar atau gong pulu, kendang krumpungan, klenang, kecek, suling dan instrumen melodi lainnya yang mudah diolah ke dalam pola garap menjadi ciri khas tabuh jejangeran.

Pemilik Sanggar Seni Citta Usadhi (CITUS) itu menegaskan, seni Tari Janger sebagai salah satu ragam kesenian Bali yang tergolong seni kerakyatan yang munculnya bersifat musiman. Janger diperkirakan muncul pada dekade tahun 1930-an. Sebagai kesenian yang memiliki nafas modern dan dapat beradaptasi dengan perkembangan kekinian, janger dikembangkan dengan tetap berdasar pada kaidah-kaidah estetika tarian Bali. “Pengembangannya itu lebih pada pada ragam gerak modern sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan sajian,” ujarnya.

Baca Juga:  Pergelaran Bulan Bahasa Bali
Sanggar Bajrajnyana Music Theater Sajikan “Sanggita Karma Yoga Sanyasa”

Janger tumbuh sebagai kesenian masal yang ditarikan tidak kurang dari 24 orang penari putra dan putri berpasangan dengan busana seragam khas jejangeran. Sejak munculnya, penggiat janger memiliki kebebasan dalam menginterpretasikan bentuknya, alunan melodi dengan lirik lagunya. Demikian juga halnya dengan koreografi gerak gerak tariannya, termasuk iringannya, mengalami perkembangan yang adaptif. “Seakan tidak ada suatu keharusan yang tidak boleh dilanggar, sehingga penggiat janger sering kali memberi sentuhan baru mendobrak posisi statis yang berkelamaan,” lanjutnya.

Istri I Nyoman Catra ini menjelaskan, dinamika pertunjukan Tari Janger mengalami pasang surut. Pergolakan dan existensinya menjadi kesenian musiman, yang oleh suatu hal muncul begitu saja, semarak merebak di seluruh pelosok pulau seni ini. “Sebagai kesenian masa bersifat kerakyatan, janger merupakan seni yang sangat adaptif dalam sifat kedisiniannya dan kekiniannya, sehingga membuka peluang untuk hidup dan tidak merasa terasing pada setiap era kebangkitannya. Kreativitas penggiat kesenian ini dituntut untuk dapat mengadopsi nuansa kekinian, namun tetap mempertimbangkan unsur logika, etika, dan estetikanya,” tambahnya.

Janger

Dr. Desak Made Suarti Laksmi, SSKar.,MA

Sebagai seni hiburan yang mampu mengakomudasi tugas propaganda, Janger akan lebih baik dikemas dalam balutan karya seni yang lebih terselubung, tidak terlalu fulgar dalam sajiannya. Sebagai sajian seni yang sarat dengan muatan propaganda, pertunjukan janger mampu memberikan pendidikan pada generasi muda, dengan memuat berbagai pesan-pesan moral dan etika, serta mengingatkan berbagai larangan untuk tujuan kehidupan yang lebih baik. “Janger masuk sekolah akan dapat memberikan pendidikan budi pekerti dan nilai sopan santun,” usulnya.

Desak Suarti yang tinggal di Jalan Nangka, Gg, Kenari VI No.14 Denpasar mengatakan, generasi muda yang belakangan ini banyak diracuni nilai-nilai pendidikan moralnya, sangat perlu digugah lewat pembentukan pertunjukan seni Janger. “Isu kenakalan remaja dengan merosotnya moral dan ahklak dalam pergaulan bebas, sehingga berdampak meluasnya penghidap HIP Aids, terjerumusnya generasi muda pada barang terlarang seperti narkoba, dan yang lainnya, itu dapat diwacanakan melalui pementasan tari janger,” jelasnya.

Untuk menguatkan jati diri dengan ideologi berbangsa dan bernegara, menjunjung nilai-nilai kearifan lokal, semua itu dapat dilantunkan melalui lirik-lirik lagu yang indah dalam suasana ceria dalam kebersamaan. Ini salah satu cara merekatkan kembali nilai gotong-royong dan rasa kebersamaan dari semakin menyendirinya seseorang atau kelompok masyarakat, yang asyik tenggelam dalam kemajuan Informatika Teknologi (IT) yang melanda dunia, dan sebagai pertanda sapuan era globalisasi. “Saya memiliki keyakinan, Janger akan muncul kembali menyemarakkan keceriaan kehidupan ini,” yakinnya.

Desak Suarti yang mengutif kamus bahasa Bali (1978: 277) mengatakan, kata “janger” dan “kecak atau tecak” adalah silabes anamatope bunyi yang dinyanyikan berulang-ulang oleh penari janger dan kecak. Janger didefinisikan sebagai “tari yang terdiri dari 2 leret pemuda dan 2 leret pemudi duduk berhadapan-hadapan antara leret pemuda dan pemudi, ditengah-tengah duduk seorang “dag”. Mereka menari dan menyanyi bersahut-sahutan dengan menggerakkan tangan dan badan ke kiri dan ke kanan sambil duduk. Janger adalah penari wanita dalam tari “janger”.

Baca Juga:  Adi Siput Perankan Tokoh Peceh Ajus Dalam Lawak Bondres

Kata “jangeran” diperuntukkan gerak (ayam) karena sakit sampai kepalanya menggeleng-geleng. Karena itu, Janger dengan mahkota hiasan kepalanya dibuat seperti interpretasi “janggar ayam” dengan gerakan ngotag berulang-ulang sebagai ekspresi kegirangan, memiliki kemiripan dengan ayam yang tengah mabuk menggerak-gerakkan kepalanya. “Secara kiratabasa ada juga orang menyebutkan, kata janger adalah peniruan bunyi yang dilakukan oleh tetua manakala menggendong ataupun menimang bayi yang sedang menangis untuk diberikan hiburan dengan lantunan nyanyi-nyanyian kecil,” ungkapnya.

Ibu tiga putra ini lalu menegaskan, hal itu dikatakan oleh Walter Spies dan Bery deZoete (2002 [1938]: 211), yang menyebut kata Janger berati “humming” (senandung). Ketika si bayi jang (ditaruh), dia ngeeerrrrr (menganis); sehingga spontan senandung bunyi jangi-janger jangkangi jangi janger kembali dilantunan secara improvisasi, dilakukan berulang-ulang agar si bayi terhibur dari rasa tidak nyamannya. “Memang lagu janger termasuk kelompok sekar rare yakni lagu kerakyatan, yang dikembangkan dari lagu-lagu iringan tarian sanghyang; sebuah tari kerawuhan serta dibarengi dengan korus musik cak yang dilantunkan oleh kelompok pria.

Untuk lebih meyakinkan, Desak Suarti juga mengutif dari buku Bandem and Fritz deBoer (2004: 147) dengan mengutip pendapat Purbacaraka memberikan pandangannya, nama “janger” dapat diterjemahkan sebagai “keranjingan”, yang berkonotasi bahwa seseorang sedang ‘gila’ cinta.” Ekpresi kegembiraan, keceriaan, tersirat dalam kebersamaan pertunjukan tari janger. Sementara Dibia dan Rucina memberikan deskripsi tema sentral dalam pertunjukan janger tersirat adanya rasa kebersamaan, rasa sepenanggungan, penuh ungkapan keceriaan.

Lalu, tentang sejarah munculnya kesenian Janger, Desak Suarti belum bisa memastikan. Sebab, ada yang menyebutkan bermula dari Bali Utara, ada juga menyebutkan dari Bali Selatan, ada juga pendapat Janger dimulai dari Nusa Penida. Ada pula yang menyebutkan dokumentasi janger diambil pada tahun 1930-an dari grup Janger Kedaton Semerta Denpasar, grup janger Pegok Sesetan yang menghias maraknya tari janger sebagai genre baru ketika awal munculnya kesenian ini.

Janger

Tari Janger.

Pada masa dinamika pergolakan partai politik di awal dekade 60-an, tari janger memiliki peran penting sebagai media penerangan partai politik dengan ideologi partai. Lirik lagu, usaha merangkul demi kebersamaan, mejadi media utama dalam penggalangan masa. Pola keterkaitan dalam rangkulan sesama seakan terjalin menjadi menyatu, sebuah visual gambar kental dengan nuansa kebersamaan dan rasa sepenanggungan. “Janger menjadi simbol kekuatan idologi partai, dengan yel yel patriotismenya menggugah simpatisan anggota partai politik dalam merapatkan barisannya,” imbuhnya.

Dalam ajang Pesta Kesenian Bali pertunjukan Janger mewarnai ragam kesenian ditampilkan pada perhelatan seni yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Bali. “Sebagai pertunjukan pariwisata grup Janger Banjar Kedaton Denpasar, sempat melakukan pertunjukan rutin untuk menghibur para tamu yang tengah melakukan liburan di Bali,” paparnya.

Baca Juga:  Nyoman Suwida dan Genggong

Menurutnya, struktur pertunjukan Janger pada umumnya dibagi ke dalam beberapa bagian. Pertama mejangeran yang dilakukan oleh kelompok penari putra (kecak ± 16 orang) dan penari putri (janger ± 16 orang) mengambil posisi dua baris bersap ataupun berbanjar, dan bahkan terkadang berpasangan antara putra dan putri. Bagian kedua adalah bagian lakon, yang mengambil sempalan fragmen pendek seperti Arjuna Tapa, Sunda Upasunda, Perkawinan Bima dengan Dimbi dan lainnya. Kemudian dilakukan lagu penutup, untuk mengakhiri seluruh rangkaian pentas.

Rias busana secara desain masih bertahan dengan keadaan janger dewasa ini. Penari Janger menggunakan kain diprinting pepatran dari warna emas (pepradan), badannya dibalut dengan stagen prada, diatas susunya dibalutkan tutup dada, memakai ampok-ampok, serta oncer menggayut dipinggul kiri atau kanan penari. Hiasan kepala memakai gelungan janger yang desainnya berbentuk setengah lingkaran dengan hiasan imitasi bunga cempaka dari kayu diserpih, disusun setengah melingkar pada pinggirannya, dipancangkan pada kawat berbentuk pir (spiral), sehingga ketika digerakkan bunga itu akan bergerak jeriring dengan sendirinya.

Sementara penari Kecak menggunakan busana kain kancut yang terurai di samping kiri. Menggunakan sabuk prada (sering juga dewasa ini digunakan baju), memakai bapang kecak yang didesain agak panjang menutupi dada; dengan penutup pundak dibuat dapat bergerak naik turun ketika pundak diangkat-angkat. Hiasan kepala memakai udeng-udengan. Bila desainnya menggunakan celana, diatasnya dipasangkan baju lengan panjang, tetap memakai badong, serta hiasan kepala memakai topi dengan modifikasinya. Tataan busana seperti ini, biasanya distilisasi dengan hiasan berupa strip, rumbai-rumbai, serta acapkali dipasangkan selempang di badan, menjadikan nuansa moderenisasinya lebih kental.

Iringan tari Janger memakai gamelan batel tetamburan (beberapa buah instrument yang di dalamnya terdapat instrumen tambur). Instrumen yang disertakan didalamnya adalah sepasang kendang krumpungan, tawa-tawa, trengteng, klenang, sepangkon kecek, gong pulu, rebana, suling (empat buah atau lebih). “Belakangan ini iringan janger sudah berkembang dengan memakai gamelan pelog saih pitu ditambahkan untuk memperkaya permainan melodi lagunya,” paparnya.

Janger merupakan sajian seni dengan pola garap masalnya. Koreografinya, mempertimbangkan sentuhan garap masal dengan pola rampak, alternasi, bergantian dan lainnya. Karena itu, menuntut latihan bersama dalam sebuah kemasan formasi, dengan tugas dan peran dari masing-masing penyaji diformulasi. Lirik lagu dengan pola gerak ditambah dengan pesan kandungan isi sastra/drama-nya.

Pada tahun 1965-an, lirik-lirik lagunya mengakomudasi propaganda. Janger menjadi kesenian promosi partai baik PNI maupun PKI pada saat itu. Saat itu, hanya memberi penekanan pada warna dasar busana penari, sebagai warna dominan sebuah partai politik, menjadikan seni ini sebagai seni hiburan yang menggugah sekaligus sebagai wahana perhelatan politik. “Pada masa Orde Baru, tidak sedikit kesenian yang dijadikan media ajang propaganda. Pertunjukan Topeng, Wayang, Bondres dan dramatari lainnya dan tidak kalah pentingnya pertunjukan Janger sempat menjadi medium mewacanakan keberhasilan pembangunan,” pungkas Desak Suarti. [B/*]