Siwaratri Sebagai Momentum Untuk Pulang Ke Sang Diri Yang Sejati

 Siwaratri Sebagai Momentum Untuk Pulang Ke Sang Diri Yang Sejati

Pengamat Pendidikan Gede Agus Siswadi/Foto: ist.

Secara etimologi Siwaratri (ada yang menyebut Siwalatri) itu terdiri dari dua kata yakni Siwa dan juga Ratri. Arti kata Siwa adalah manifestasi Tuhan sebagai Siwa (atau di dalam konsep Tri Murti disebut sebagai Dewa Pemralina), dan kata Ratri yang artinya malam. Jadi, secara pengertian yang sederhana dan umum Siwaratri artinya malamnya Siwa atau malam beryoganya Dewa Siwa.

Umat Hindu meyakini bahwa malam Siwaratri merupakan puncak malam yang tergelap selama satu tahun yang jatuh setiap Purwaning Tilem Kapitu atau sehari sebelum hari Tilem Kapitu. Dan malam inilah paling baik untuk melakukan aktivitas jiwa, baik berupa tapa-brata maupun kontemplasi dan merenungi hakikat sang diri.

Selanjutnya, kata Siwa dalam Siwaratri juga dapat diartikan sebagai yang baik hati, suka memaafkan, memberi harapan, dan membahagiakan. Ratri artinya malam. Kata Siwa menandakan hal yang dimaksud “siang, kesadaran, cinta kasih, kebenaran, kedamaian dan segala yang bernilai luhur lainnya”. Siang adalah interpretasi waktu manusia sadar diri (tutur, atanghi). Sedangkan Ratri kata yang menandakan “malam, kealpaan, papa, kekerasan, segala bernilai rendah lainnya”. Malam yang gelap adalah waktu istirahat, waktu tidur. Hari yang mempresentasikan manusia lupa diri (papa, aturu, raga).

Pelaksanaan Siwaratri tidak terlepas dari cerita Lubdaka yang ditulis oleh Maha Pengawi Mpu Tanakung, diceritakan konon Lubdaka merupakan seorang pemburu yang pekerjaan sehari-harinya tentu adalah berburu. Suatu hari tepat di hari Siwaratri Sang Lubdaka ini berburu ke hutan, dan selama satu hari penuh hingga sore tidak satupun binatang buruan yang diperolehnya, namun Sang Lubdaka ini terus melanjutkan berburunya hingga ke tengah hutan karena ia tidak mau untuk pulang dengan tangan kosong tanpa hasil buruan yang ia dapatkan.

Baca Juga:  “Kaki Kaki, I Dadong Kija” Sanggar Kelanguan Garap Sesolahan Seni Sastra Ingatkan “Tumpek Wariga”

Akhirnya tanpa dirasakan matahari telah terbenam secara penuh dan menunjukkan malam hari. Karena sendiri di tengah hutan Sang Lubdaka ini tidak berani untuk pulang di malam hari takut tersesat serta takut dengan binatang buas, akhirnya ia memutuskan untuk tidak pulang serta tinggal di hutan selama malam hari tersebut. Singkatnya, Sang Lubdaka memilih untuk bergadang di sebuah pohon Billa di tepi danau, dan ia memilih untuk memanjat pohon tersebut dan tinggal di atasnya karena takut dengan binatang buas nanti menyerangnya. Sang Lubdaka ini lalu memutuskan untuk menghilangkan rasa mengantuknya ia memetik satu persatu daun Billa dan menjatuhkannya di danau. Tanpa disadari muncullah Lingga sebagai tempat dari Dewa Siwa untuk melakukan yoga.

Singkat cerita, ketika Sang Lubdaka jatuh sakit dan kemudian meninggal rohnya dijemput oleh Cikra Bala Yamadipati untuk dibawa ke neraka, mengingat kehidupan Lubdaka ini berburu serta dipenuhi oleh dosa-dosa dengan membunuh hewan saat ia berburu tersebut. Tidak lama kemudian pasukan dari Dewa Siwa juga menjemput roh dari Sang Lubdaka ini untuk dibawa ke Siwa Loka atau Surga, karena Sang Lubdaka ini pernah melakukan Jagra, Mona dan juga Upawasa ketika hari beryoganya Dewa Siwa.

Di sanalah terjadi perdebatan antara Cikra Bala Yamadipati dengan pasukan dari Dewa Siwa. Namun, perdebatan itu berhenti ketika Dewa Siwa datang dan menjelaskan bahwa roh dari Sang Lubdaka ini pantas untuk dibawa ke Siwa Loka, mengingat perenungan yang ia lakukan ketika malam Siwaratri. Dan pada akhirnya, roh dari Sang Lubdaka ini di bawa ke Siwa Loka (Surga).

Cerita dari Sang Lubdaka yang ditulis oleh Mpu Tanakung ini tidak hanya sebuah cerita yang ada kaitannya dengan hari suci Siwaratri. Namun, di balik itu terdapat nilai-nilai yang dapat kita renungkan secara bersama-sama. Lubdaka merupakan seorang pemburu dengan senjata dari memburunya itu adalah panah, untuk memburu hewan serta aneka satwa. Jika, kita kontekskan pada diri kita sebagai Lubdaka, serta senjata panah yang kita miliki itu adalah pikiran. Pikiran kita selalu berburu satwa, sat artinya sifat/ hakikat dan twa artinya mulia, sehingga dalam hal ini selalu mengejar hal-hal yang sifatnya kemuliaan atau juga keduniawian.

Baca Juga:  Gamelan Suling Gita Semara Dari Kegelisahan I Wayan Sudiarsa

Dan pada akhirnya kita menuju perjalanan ke hutan dengan sendiri artinya perjalanan spiritual kita lakukan dengan sendiri, tanpa seorang teman yang mendampingi, dan ini menyimbolkan bahwa hanya orang yang tidak mengenal serta mampu mengatasi rasa takutlah yang berani untuk masuk ke hutan yang begitu lebat dengan sedirian. Hal ini mengisyaratkan bahwa kemampun kita untuk mencapai tujuan akhir serta penyempurnaan sang jiwa dari kegelapan menuju keterangan bhatin itu kita lakukan secara sediri. Dalam artian “siapa yang mandi, dialah yang bersih”, dan siapa yang mampu untuk melakukan pendakian spiritual maka, dialah yang terbebas dari belenggu avidya atau kebodohan serta kegelapan.

Terdapat brata atau pengendalian yang dilakukan oleh umat Hindu saat melaksanakan Siwaratri yakni Jagra yang artinya selalu terjaga, dan tidak tidur semalam suntuk, kemudian ada Upawasa artinya pantang untuk makan dan minum dalam artian berpuasa, dan juga Mona yang artinya mengendalikan perkataan, atau tidak mengeluarkan kata selama satu hari, hal ini karena memfokuskan diri untuk melakukan meditasi serta perenungan bhatin, serta bentuk penyadaran terdahap diri mengenai hakikat jiwa dalam bentuk atman yang merupakan bagian dari Brahman atau Tuhan. Oleh karenanya, Siwaratri ini sebagai momentum untuk berdialog dengan sang diri yang sejati, mengenali kesadaran Tuhan yang ada pada setiap makhluk, serta momentum untuk pulang kepada hakikat diri yang tunggal yakni atman yang merupakan bagian terkecil dari Brahman (Tuhan).

Selain itu, konsep Jagra tidak hanya sebatas tidak tertidur selama semalam suntuk, tetapi kita juga harus terjaga dengan berbagai hal yang dapat mengotori jiwa dan batin kita, atau bahkan hal-hal yang dapat mengurangi lapisan spiritual kita oleh kehidupan duniawi. Selanjutnya, adalah Upawasa, yakni sedapat mungkin mengendalikan hawa nafsu, selalu memilih makanan yang satwika untuk kesehatan tubuh demi menjaga lingkungan yang sehat. Dan berikutnya dalah Mona yang merupakan pengendalian perkataan. Karena dengan perkataan kita akan menemukan kebahagiaan, dan dengan perkataan pula kita akan menemukan penderitaan.

Baca Juga:  Pentaskan “Arjuna Tapa”. Cara Dosen dan Mahasiswa Pedalangan ISI Denpasar Menghidupkan Kembali Wayang Kulit Parwa gaya Bebadungan

Hal itu senada, dengan mengutip Nitisastra, Sargah V Bait 3 yang menyatakan karena perkataan engkau menemukan teman, karena perkataan engkau menemukan kematian, karena perkataan engkau menemukan kesusahan dan karena perkataan pula engkau menemukan sahabat. Dengan demikian, marilah menggunakan momentum brata Siwaratri ini untuk melakukan kontemplasi serta perenungan-perenungan bhatin, untuk menapaki jalan-jalan kebenaran menuju kehidupan yang lebih baik lagi. [B]

Gede Agus Siswadi adalah Dosen Filsafat Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan di Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten, Jawa Tengah yang kini Mahasiswa S3 di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post