Awal Berkembangnya Legong di Peliatan

 Awal Berkembangnya Legong di Peliatan

Tari Legong Gaya Peliatan/Foto: ist

Berdasarkan materi Kriyaloka (Lokakarya) “Mengenang Seni Tari Legong Gaya Peliatan Karya Maestro Gusti Made Sengog” oleh Anak Agung Gde Oka Dalem dalam Lokakarya Pesta kesenian Bali (PKB) XLVI menyebutkan sejarah dan keunikan Legong Gaya Peliatan.

Paling awal disebutkan, Tarian Legong pada awalnya muncul dikembangkan menjadi bentuk tarian lain, tetapi tetap memakai gerakan tari yang sudah baku. Legong, diperkirakan muncul pada abad ke-19 pada pemerintahan “I Dewa Agung Made Karna”.

Di dalam Babad Dalem Sukawati disebutkan, dalam tapayoganya beliau bermimpi melihat bidadari menari di sorga. Ketika tersadar dari mimpinya, lalu memerintahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang mencerminkan bidadari sesuai dengan impiannya yang tersimpan di Pura Payogan Agung Ketewel.

Beberapa lama berselang tersebutlah I Gusti Ngurah Djelantik dari Belahbatuh mengubah tari “Nandir” yang gerakannya hampir sama dengan tari “Topeng Dedari” yang dibawakan oleh penati laki-laki tanpa memakai topeng.

Baca Juga:  Tari Janger dan Legong Banjar Bengkel tetap Lestari

Lalu, I Dewa Agung Manggis dari raja Gianyar kemudian memerintahkan Anak Agung Rai Perit untuk menata Tari Legong yang ditarikan oleh anak-anak perempuan mulai dari umur 10 tahun itu. Mulai dari gagasan inilah terwujud tari Legong yang sampai saat ini masih diwarisi.

Pada tahun 1926, di Desa peliatan sudah mengenal Gong Kebyar sebagai iringan tari Legong yang di bentuk oleh A.A. Gde Mandera (alm). Setelah mengadakan perjalanan ngelawang ke Desa Munduk Singaraja yang dilatih oleh pelatih tabuh “Si Pasung Grigis” dari Batubulan dan “I Ketut Madu” dari Singaraja.

Tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1931, setelah melalui proses yang panjang maka dengan jumlah rombongan sebanyak 51 orang berangkatlah misi kesenian yang salah satunya membawakan tarian legong ke Expo Paris.

Pada saat itu, Cokerde Gede Raka Sukawati (Puri Ubud), Cokerde Gede Rai (Puri Agung Peliatan) sebagai penanggung jawab rombongan. Sementara, Anak Agung Gede Ngurah Mandera sebagai pimpinan rombongan dengan 48 orang anggota terdiri dari penari dan penabuh.

Baca Juga:  Dua Sekaa Jegog ‘Mebarung’ di PKB XLVI: Ajang Memperkenalkan Kesenian Khas Jembrana

Kesuksesan misi kesenian ini dapat dilihat, karena waktu itu rombongan diberi kesempatan menggunakan tempat pementasan di salah satu teather ysng paling terkenal di dunia, yaitu “Teater Marini” salah satu tarian yang ditampilkan saat itu adalah tari legong yang dibawakan oleh “Ni Jabrig, Ni Srining dan Cok Oka Sukawati”.

Kesuksesan rombongan kesenian pada tahun 1931 kemudian dilanjutkan dengan misi kesenian yang ke-2 pada tahun 1952 ke Eropa & Amerika atas perintah “Presiden Soekarno” yang pada waktu itu. Rombongan ini membawakan tarian, salah satunnya adalah Tari Legong gaya Peliatan.

Kebetulan Bapak Lotring dari Kuta tidak menyanggupi tawaran melatih penari Legong yang masih kecil untuk itu ditunjuklah Gusti Biang Senggog (maestro tari legong) dari Peliatan dengan penari Gst Ayu Raka sebagai Condong, Anak Agung Ayu Oka sebagai Prabhu Lasem, Anak Agung Anom Sitiari sebagai Rangkesari.

Legong itu, sangat sukses dipentaskan, sehingga membuat beberapa kepala Negara di Eropa terkagum dan ini juga dapat dilihat dalam tulisan buku yang di karang oleh “Jhon Coat” dengan judul “Dancing out of Bali”.

Baca Juga:  I Ketut Gede Rudita Penabuh, Penari dan Pelawak

Di dalam pementasan Tari Legong di Peliatan tidak dapat dipisahkan antara unsur gerak tari dan iringan tetabuhan, Gusti Biang Sengog selalu bekerjasama dengan para Maestro tabuh seperti (alm) Anak Agung Gde Ngurah Mandera, (alm) I Made Lebah, Gusti Kompiang Pangkung.

Ada pula (alm) I Wayan Gandra yang biasanya diiringi oleh “Gong Kebyar” dan “Semara Pagulingan” begitu pula dengan perlengkapan tari dan tata busana seperti ukiran yang dibuat oleh Alm. Cokorde Muglen (Singapadu).

Sedangkan peperadan dibuat oleh Alm. Toh Jiwa dan Alm. Gusti Made Kuwanji (Peliatan) yang telah mempunyai bentuk yang baku dan sangat indah karena meniru busana para Dewa Dewi. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post