Musik Tradisional Sumatera Selatan ‘Irama Batanghari Sembilan’ yang Mempesona

 Musik Tradisional Sumatera Selatan ‘Irama Batanghari Sembilan’ yang Mempesona

Musik Tradisional Sumatera Selatan ‘Irama Batanghari Sembilan’ di PKB ke-46/Foto: doc.balihbalihan

Belum semua penonton duduk, petikan gitar itu melengking dari belakang Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali. Setelah sampai di tengah kalangan, gadis berbusana khas Sumatera Selatan itu pun menyanyi membawakan pantun-pantun yang dimusikkan.

Suaranya sungguh indah. Pantun itu pun terdengar sangat jelas dan tegas. Mula-mula menceritakan keunikan budayanya, lalu keindahan alamnya kemudian menyampaikan salam, selanjutnya memperkenalkan diri. Semua itu disampaikan lewat pantun yang indah.

Itulah, penampilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 yang sangat menawan. Duta seni ini menyajikan Musik Tradisional Sumatera Selatan yang bertajuk “Irama Batanghari Sembilan”.

Siang itu, pengunjung PKB dihibur dengan rekasadana (pergelaran) seni itu. Meski suasana siang sedikit panas, namun petikan gitar dengan alunan vocal yang syahdu itu mampu meredupkan suasana terik di pusat pesta seni milik masyarakat Bali itu.

Baca Juga:  Bulan Bahasa Bali, Gubernur Koster Nyurat Lontar Bersama 2020 Peserta

Melalui lagu-lagunya, ketiga artis itu memperkenalkan daerahnya yang memiliki keunikan serta daya tarik. Mereka kemudian menyajikan keindahan Bali sebagai destinasi dunia. Bali sebagai destinasi yang sangat cantic menjadi pilihan para wisatawan untuk berwisata.

Penampilan tim kesenian Sumatera Selatan ini tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan serta ajakan untuk melestarikan seni dan budaya Indonesia. “Kami menyajikan pantun dengan petikan gitar tunggal yang berkembang di Sumatera Selatan,” kata Agustinus selaku MC acara itu.

Berbalas pantun ini dinyanyikan dengan melodi yang sangat indah. Iringannya sebuah gitar dengan petikan yang sangat kuat. Para pemain menampilkan busana khas daerah Sumatera Selatan yang sekaligus sebagai bentuk promosi, memperkenalkan budaya yang sangat unik.

Tampak indah, songket dan kain jumputan asli Sumatera Selatan yang sudah menjadi warisan para leluhurnya. Dalam penampilan tim kesenian ini, pertama berupa lagu Incang-incang yang menceritakan tentang pantun jenaka yang dilantunkan oleh muda mudi.

Baca Juga:  Arja Sewagati Khas Jembrana: Arja ‘Negak’ Kisahkan Keluarga Petani dari Geguritan Sewagati

Lagu ini dibawakan dengan gurauan dan candaan kepada sesama muda-mudi yang enerjik dan selalu kreatif. Pada penampilannya itu, juga menceritakan tentang kebudayaan Sumatera Selatan yang terkenal dengan kuliner, yaitu mpek mpek dan pindang.

Makanan, tari dan Gending Sri Wijaya, Tanggai dan Stabek sebagai penyambutan terhadap tamu. “Lagu ini, juga mengisahkan Sumatera Selatan dikenal dengan kain songket dan kain jumputan yang sudah dikenal oleh masyarakat luas, serta sudah menjadi warisana tak benda Indonesia,” ujarnya.

Semua pengisi acara seni itu merupakan hasil binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan. Lalu, di akhir acara, menampilkan lagu-lagu ucapan terima kasih kepada yang menyaksikan pergelaran Irama Batanghari Sembilan ini. [B/*darma]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post