Rare Bali Festival 2024: Gaungkan Permainan Tradisional untuk Pendidikan Karakter Anak

 Rare Bali Festival 2024: Gaungkan Permainan Tradisional untuk Pendidikan Karakter Anak

Panitia Rare Bali Festival 2024 saat audensi bersama Wakil Walikota Arya/Foto: ist

Dalam urusan pendidikan karakter anak, jangan ke barat-baratlah. Bali, sesungguhnya memiliki cara yang unik untuk membangun karakter anak berbudi luhur. Permainan tradisional, budaya mesatwa (literasi) hingga megending (menyanyi) rare, itu yang dilakukan para leluhur jangan dulu dalam membentuk karaker anaknya.

Karena itu, Yayasan Penggak Men Mersi kembali menggelar Rare Bali Festival (RBF) tahun 2024 ini. RBF akan dilaksanakan selama tiga hari (23 – 25 Juli 2024) yang dipusatkan di Taman Budaya Art Center dan Taman Kota Lumintang, Denpasar.

RBF mulai dilaksanakan sejak 2014, 2016, 2018 kemudian sempat vakum karena Pandemi Covid-19. Dalam pelaksanaan kali ini, dirangkaikan dengan perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar.

Permainan tradisional seakan terpinggirkan di jaman ini. Kalau pun ada anak yang melakukan permainan tradisional sering kali dipandang sebelah mata. Dianggap, deso, kuno bahkan tak jaman. Permainnan tradisional itu diangkat, berharap dapat memperbaiki pendidikan karakter anak.

Baca Juga:  Rare Bali Festival 2024: Beri Kesempatan Anak-anak Berekspresi Melalui Bermain

RBF tahun ini secara khusus mengambil tema tribute untuk Made Taro. “Saya mengapresiasi pelaksanaan Rare Bali Festival 2024 ini,” kata Wakil Walikota (Wawali) Denpasar, I Kadek Agus Arya saat menerima audensi panitia RBF di kantor Walikota Denpasar, Kamis 27 Juni 2024.

Pada kesempatan itu, Panitia Rare Bali Festival 2024 dipimpin oleh penanggung jawab yang juga Kelian Penggak Men Mesi, Kadek Wahyudita, S.Sn.,M.Sn, dan Ketua Panitia, I Putu Suryadi serta didampingi anggota panitia lainnya. Sementara Wawali Arya Wibawa didampingi para Kepala Dinas terkait

Setelah lama vakum, tentu Rare Bali Festival perlu digaungkan lagi mengingat begitu krusialnya pendidikan karakter bagi anak-anak saat ini. Anak-anak di jaman ini lebih pada pendekatan gadget, dan terasa jauh dengan budaya literasi, terlbih permainan tradisional.

“Sangat penting mengenalkan kepada anak-anak kita, budaya warisan leluhur seperti mendongeng (mesatua) cerita rakyat Bali dan permainan tradisional yang di masa kini ini cenderung mulai tergerus penggunaan gadget dan media sosial oleh anak,” ungkapnya.

Baca Juga:  Raih Sertifikat KIK, Permainan “Megandu” Milik Desa Adat Ole

Kota Denpasar dengan predikat Kota Layak Anak secara berkelanjutan terus mengakomodasi hak anak untuk bermain dan memperoleh pendidikan. Hal ini utamanya pendidikan karakter yang bisa didapat melalui pengenalan kepada mendongeng dan permainan tradisional.

Sementara Kadek Wahyudita didampingi Putu Suryadi menjelaskan RBF 2024 mengusung tema “Merawat Tradisi, Cipta Inovasi, Untuk Generasi” yang diterjemahkan menjadi ragam workshop, lomba, pagelaran, parade, budaya anak, pameran dan sarasehan.

Paling spesial tahun ini, RBF 2024 mengusung tribut untuk sosok I Made Taro, seorang tokoh pendidikan kelahiran Denpasar yang selama puluhan tahun telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak melalui mendongeng dan permainan tradisional Bali.

Maka dari itu, dalam RBF ini dilakukan juga pendokumentasian karya Made Taro, selain juga menguatkan eksistensi Kota Denpasar sebaga Kota Ramah dan Layak Anak. “RBF 2024 menyasar generasi muda Bali, guru dan pendidik, komunitas lokal, masyarakat luas,” ujarnya.

Baca Juga:  Penggak Men Mersi dan Undiksha Ajak Generasi Muda Membuat Komik Tradisional

Termasuk pula wisatawan, bahkan secara inklusif melibatkan anak-anak berkebutuhan, dan paling penting didukung pemerintah daerah. “Sebelumnya, kami sudah menggelar workshop permaina tradisional dan mesatwa dengan narasumber Made Taro,” tambah seniman karawitan ini.

Workhop serangkaian dengan Rare Bali Festival berlangsung di Rumah Budaya Penggak Men Mesri, Mei 2024. Aktivitas budaya, khususnya permainan tradisional dan me satwa itu digelar berkolaborasi dengan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kota Denpasar.

Namun yang paling menarik, RBF 2024 ini mengusung misi penyelamatan pengetahuan berharga dari I Made Taro melalui pendokumentasian. Hal itu penting, mengingat bertambahnya usia beliau. “Hal ini memiliki urgensi melestarikan pengetahuan beliau agar tetap dapat diakses anak dan cucu kita nanti,” jelas Kadek Wahyudita. [B/darma]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post