Komunitas Aghumi Jelajahi Museum Le Mayeur Melalui Seni Pertunjukan

 Komunitas Aghumi Jelajahi Museum Le Mayeur Melalui Seni Pertunjukan

Komunitas Aghumi yang tengah mempersiapkan garapan/Foto: ist

Jika para seniman, khususnya pelukis menjadikan koleksi dan Museum Le Mayeur sebagai inspirasi untuk berkarya baru, dan wisatawan memilih sebagai tempat wisata seni dan budaya, maka Komunitas Aghumi membaca narasi cagar budaya Museum Le Mayeur untuk menumbuhkan kesadaran diri.

Hasilnya, kemudian dirangkum dalam sebuah program bertajuk “Ni Pollok Bercerita: Studi Tur Performatif Museum Le Mayeur”. Program tersebut dijabarkan melalui sebuah aktivitas dan kegiatan, seperti lomba, diskusi, pertunjukan, dan jelajah museum dalam format studi tur performatif. Itu akan berlangsung di Museum Le Mayeur, Sabtu dan Minggu 6-7 Juli 2024.

Aghumi yang telah berdiri sejak 2018 itu, selalu fokus pada kesehatan mental khususnya mengasah daya cipta seni anak spektrum autisme. Itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan praktik kesenian terapiutik partisipatoris dalam upaya terwujudnya penyembuhan dan penyelarasan diri.

Komunitas seni di Bali ini tak hanya melihat keadilan sosial itu hanya menyoal lelaki dan perempuan saja, namun diperluas dalam konteks keadilan bagi masyarakat rentan, khususnya anak-anak dan disabilitas. “Program ini diharapkan mampu membuka wawasan dan empati masyarakat umum terhadap penyandang disabilitas,” kata Direktur Kreatif Komunitas Aghumi, Wulan Dewi Saraswati disela-sela persiapan acara, Senin 1 Juli 2024.

Baca Juga:  RTB Menyulut Api Kreativitas Seniman dan Komunitas Seni di Kota Denpasar

Deskripsi dari rangkaian acara tersebut, yaitu Tur Performatif Museum Le Mayeur, merupakan program jelajah museum Le Mayeur dalam bentuk pertunjukan. Pengunjung diantar oleh aktor yang memerankan tokoh Ni Pollok akan mengajak penonton berkeliling museum dengan memposisikan figure Ni Pollok sebagai subjek yang bercerita.

Selain menampilkan koleksi museum, pertunjukan juga menampilkan video Arsip Ni Pollok serta video wawancara narasumber Ni Ketut Arini (Penerima Anugerah Kebudayaan Kemdikbud) yang membicarakan Ni Pollok dari perspektif penari perempuan.

Acara berikutnya, Lomba Menggambar dan Lomba Tari Kontemporer melibatkan anak-anak dan remaja dalam rangka merespon Museum Le Mayeur dan Figur Ni Pollok. Selain untuk mengaktivasi museum, program ini akan menumbuhkan kesadaran untuk menampilkan Ni Pollok dari berbagai perspektif.

“Hasil karya peserta akan digunakan tim produksi sebagai materi publikasi dalam mendistribusikan figure Ni Pollok ke publik luas,” ungkap Wulan bersemangat.

Baca Juga:  “Kenapa Legong” Angkat Maskulinitas Legong dan Teks Japatuwan

Kemudian ada diskusi “Anak dan Ibu dalam Bingkai Perempuan Penyair Bali”. Diskusi ini menampilkan narasumber Oka Rusmini (Penyair, Penulis) dan Mas Triadnyani (akademisi sastra). Diskusi ini akan dipandu oleh Pranita Dewi (penyair).

Komunitas Aghumi yang tengah mempersiapkan garapan/Foto: ist

Ketiga penyair perempuan mempercakapkan lebih lanjut tentang cara-cara penyair Bali mengekspresikan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak dalam karya mereka. Penyair Bali seringkali menggambarkan hubungan ibu dan anak dengan sentuhan emosional dan spiritual yang mendalam.

Dalam puisi, ibu mungkin digambarkan sebagai sosok penuh kasih yang mendidik anak-anaknya dengan bijaksana. Puisi-puisi ini dapat menyoroti pengorbanan ibu, peran mereka dalam membesarkan anak-anak, dan pentingnya bimbingan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, Pertunjukan Puisi Musikal Anak-anak bertajuk “Rahim Bahari” merupakan pentas apresiasi puisi dengan format drama musikal. Pentas ini merupakan hasil dari kembangan pertunjukan yang sempat dilakukan tim produksi Aghumi, berkolaborasi dengan remaja dan anak-anak.

Baca Juga:  Realita Tiga Masa, Tiga Generasi Penari Kebyar Duduk Peliatan Dipertemukan Dalam Satu Panggung

Pertunjukan menawarkan apresiasi puisi bertema laut karya perempuan penyair Bali dari kelahiran 60-an sampai 90-an. Tak hanya itu, program ini melibatkan penyair perempuan Bali yang dibagi menjadi dua, yakni penyair perempuan yang lahir di Bali dan penyair perempuan luar Bali yang berproses kreatif di Bali.

Dasar pemilihan penyair perempuan ini, khususkan pada karya dan sosok perempuan yang karyanya belum pernah dijadikan sumber bahan apresiasi dalam konteks pertunjukan. Selain itu, karya perempuan yang mengandung tema laut.

Karya dan penyair perempuan yang akan dijadikan sumber musikalisasi yakni; Di Depan Gerbang Pulau Serangan” Reina Caesilia (1965), “Stateless” Nur Wahida Idris (1976), “Majene” Mira MM Astra (1978), “Melankolia Senja Hari” Putu Vivi Lestari lahir tahun (1981)

Termasuk “Gadis-gadis Tanjung Benoa” Saras Dewi (1983), “Baruna” Pranita Dewi lahir tahun (1987), “Sanur” Ni Made Purnamasari lahir tahun (1989), dan “Kota dalam Ingatan” Ni Wayan Idayati (1990).

Baca Juga:  Lima Tari Kontemporer dalam ‘Ni Pollok Bercerita: Studi Tur Performatif Museum Le Mayeur’

“Ni Pollok Bercerita: Studi Tur Performatif Museum Le Mayeur menawarkan diskursus wacana perempuan sebagai usaha untuk membuka ruang tatapan perempuan, sekaligus sebagai tawaran pengetahuan atas posisi perempuan, dan hal-hal di sekitarnya yang layak untuk diperbincangkan, sehingga penting untuk dilaksanakan,” jelas Wulan.

Wulan mengatakan, Ni Pollok Bercerita: Studi Tur Performatif Museum Le Mayeur sebuah Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Program Layanan Produksi Media Kategori Pendayagunaan Ruang Publik tahun 2023 yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Program begitu penting dilaksanakan di cagar budaya Museum Le Mayeur yang merupakan tonggak penting dalam perkembangan seni kontemporer dan seni tradisi di Bali. Selain itu, program ini melibatkan perempuan penyair lintas generasi untuk mendorong proses kreatif seniman perempuan.

“Kami berharap program ini diharapkan dapat menjadi ruang distribusi pengetahuan bagi karya-karya penyair perempuan Bali sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai keperempuanan dalam kehidupan sosial dan budaya. Program ini melibatkan teman-teman penyandang disabilitas,” lanjut Wulan.

Baca Juga:  “Paguyuban Seniman Bali” Wadah Para Seniman Menjaga dan Melestarikan Kesenian Tradisi Tradisi

Pihaknya kemudian berharap, program ini mampu membuka wawasan dan empati masyarakat umum terhadap penyandang disabilitas. Program ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mendistribusikan pengetahuan mengenai karya-karya Le Mayeur dan Ni Pollok kepada publik yang lebih luas, sehingga museum ini menjadi lembaga yang produktif dan dekat dengan Masyarakat. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post