‘Cakepung’ Khas Karangsem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok

 ‘Cakepung’ Khas Karangsem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok

Sanggar Seni Citta Wistara, Desa Budakeling, Karangsem pentaskan Cekepung di PKB XLVI/Foto: doc.balihbalihan

Jangan samakan antara kesenian Cakepung dengan Genjek. Bentuk dan sajian Cakepung jelas berbeda. Cakepung itu merupakan teater bertutur Bali yang bernuansa Sasak (Lombok), karena menggunakan sumber sastra berupa Lontar Monyeh dengan bahasa Sasak.

Cekepung, kesenian khas Karangasem ini masih lestari, dan dipentaskan oleh Sanggar Seni Citta Wistara, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI. Cakepung pentas di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Selasa 9 Juli 2024.

Kisah yang diangkat “Diah Winangsia”. Para penari dari Sanggar Seni Citta Wistara ini sangat kreatif. Mesti dilakukan dengan posisi duduk dan berbaris di samping kanan dan kiri serta di bagian belakang (proscenium). Salah satu sebagai pembaca lontar dengan cara matembang dan seorang lagi sebagai dalang.

Kesenian ini hanya diiringi alat gamelan berupa suling, rebab dan dua penting. Sementara penari lainnya, bertugas untuk menyanyi sambil menari-nari dengan penuh ekspresi. Terkadang, ada yang berperan sebagai tokoh dalam kisah yang ditembangkan penbembang itu.

Baca Juga:  Gong Kebyar Anak-anak dan Gong Kebyar Wanita Duta Kabupaten Gianyar Siap Tampil di PKB 2024

Ada yang berperan sebagai inang (pelayan wanita), terkadang sebagai putri atau rasa, terkadang pula sebagai kuda ketika mengisahkan Raja naik kuda. Semua itu dilakukan dengan menari seadanya. Namun, gerak tari mereka terkesan kuat karena dilakukan dengan penuh penjiwaan.

Menariknya, dalam pementasan itu, juga diisi dengan minum-nimuman tuak. Beberapa orang dari penari itu, terkadang berdiri menari-nari sambil membawa bambu, seperti cerek tempat tuak. Cerek itu ditarikan melingkar dan menawartkannya kepada penari, sehingga vocal selalu lancar.

Pementasan diawali dari adegan “Pengembak” dengan pupuh “leladrangan” yang hanya diiringi alunan suling. Lalu, “pengaksama” permohonan maaf kepada penonton dengan matembang sinom. Selanjutnya “pamungkah” dengan tembang sinom dan memulai Cakepung.

Cekepung dipentaskan dengan menyajikan lakon di PKB XLVI/Foto: doc.balihbalihan

Pada adegan keempat, mengisahkan di Paseban Agung Patih, Raja, Winangcia, Galuh Liku dan Inak Rangda yang membicarakan Diah Winangsia dikucilkan. Dalam adegan ini metembang Semarandana(Jerbon Agung). Raden Una menuju pancuran di taman dengan pupuh Dangdang.

Baca Juga:  I Nyoman Geguh Garap dan Pentaskan Lebih dari 14 Judul Penyalonarangan

Kemudian Raden Una naik kuda dengan Kumambang jaran gading, Diah Winangsia di taman dengan pupuh kumambang baris kupu-kupu, Melempar manga dengan pupuh Kumambang selempang pauk, dan Pernikahan Diah Winangsia dengan pupuh Jerbon Alit.

Pada adegan terakhir, rakyat bersenang-senamg dengan pupuh Sinom Seriung atau pelentung yang diisi dengan latihan adu kekebalan. Dalam adegan ini sebagai bentuk pesta pernikahan Diah Winagsia. Rakyat melakukan dengan bersukacita, menari sambil bernyanyi.

Dalam adegan pesta ini, para penari membagikan tuak kepada penari lainnya, sehingga tuak seakan menjadi bagian dari pementasan Cakepung itu. Bahlan, para penari membagikan pula kepada penonton, termasuk kepada wisatawan yang tengah asyik menonton kesenian tradisi itu.

“Dalam pesta itulah muncul budaya makan bersama yang namanya “megibung”. Budaya ini, makin kuat di Lombok. Ini bagian dari akulturasi budaya Bali, Jawa dan Lombok,” ungkap Penglingsir Cakepung, Ida Made Adi Putra yang juga berperan sebagi penembang.

Baca Juga:  I Ketut Suteja Rekonstruksi Kesenian yang Hampir Punah

Sinopsis

Cakepung membawakan cerita Monyeh. Tersebutlah tiga orang raja bersaudara, masing-masing menjadi raja di Indrapandita, di Layangsari, di Indrasekar. Raja di Indrapandita mempunyai sembilan putri dan paling bungsu putri paling cantik bernama Diah Winangsia.

Putri ini sering difitnah oleh kakaknya, sehingga raja marah dan mengasingkannya di Taman dengan ditemani inang pengasuhnya yang bernama Inaq Rangda.

Sementara itu raja di Indrasekar mempunyai dua orang putra, yang sulung bernama Raden Kitap Muncar, yang bungsu bernama Raden Witarasari (Raden Una). Mendengar kesengsaraan yang diderita oleh Diah Winangsia, maka Raden Una menuju kerajaan Indrapandita dengan menyamar sebagai seekor monyet.

Kemudian sang kera menghambakan diri kepada Diah Winangsia serta berusaha menolong keluar dari berbagai kesulitan dan kesenangan yang dialami. Kehidupan seekor monyet dengan seorang gadis remaja cantik, tidur bersama, pergi mandi bersama, bermain bercanda, menjadikan kisah cerita dibagian ini menarik.

Baca Juga:  “Ghora Manggala” Tari Persembahan Terinspirasi Dari Tradisi Ritual Ngerebeg

Setelah beberapa lama berlangsung kedok menyamaran Raden Una diketahui oleh Diah Winangsia, akhirnya Raden Una menjelaskan bahwa dia mencintai Diah Winangsia dan hidup berbahagia di kerajaan tersebut untuk menggantikan ayahnya.

Sejarah

Ida Made Adi Putra yang merupakan penglisir Cakepung generasi ketiga ini menjelaskan, terbentuknya kesenian Cakepung di Desa Budakeling Karangasem tidak lepas dari sejarah kemenangan Raja Karangasem melawan kerajaan di Lombok.

Penari Calepung membagikan tuak kepada penonton/Foto: doc.balihbalihan

Raja Karangasem berkuasa di Lombok dan ingin membawa seni Sasakan atau Cakepung ke Karangasem. Untuk mewujudkan keinginannya, Raja Karangasem mengajak seniman Karangasem yang berasal dari Budakeling sebanyak tiga orang berangkat ke Lombok.

Seniman itu, adalah Ida Wayan Oka Tangi, Ida Made Putu, dan Ida Ketut Rai yang memiliki tugas masing-masing. Ida Wayan Oka Tangi bertugas mempelajari lontar Monyeh beserta pupuhnya, Ida Made Putu mempelajari sesulingannya dan Ida Ketut Rai mempelajari rebabnya.

Baca Juga:  Festival 'Merayakan Marya' dengan Pergelaran Seni dan Pameran Arsip di Puri Kaleran Tabanan

Ketiga seniman tersebut berhasil menguasai kesenian tesebut dengan mahir. Karena bahasanya dominan menggunakan bahasa Sasak dan kesenian tersebut berasal dari Lombok maka disebut kesenian Sasakan. Ketiga seniman ini memiliki kemampuan pada bidangnya masing-masing.

Kemampuan berpupuh dari Ida Wayan Oka tidak ada yang menandingi, begitu pula dengan kemampuan saudaranya dalam memainkan suling dan rebab. Pupuh yang digunakan dalam seni Sasakan menggunakan pupuh macepat. Begitu pula dengan sulingnya.

Suling pada kesenian Sasakan disebut “Sesulingan Ladrangan”, suling yang mempunyai lima lubang. Setelah mahir ketiga seniman tersebut kembali ke Karangasem dan mengembangkan “Sasakan” di Karangasem.

Dalam perkembangannya seni Sasakan di Karangasem dipandang monotun, sehingga dimodifikasi oleh Ida Wayan Tangi beserta saudaranya dengan menambahkan “pengecek” yang merupakan pengulangan kembali pupuh macepat dalam bentuk nada yang lebih bergairah menggunakan mulut.

Baca Juga:  Alm. Wayan Sujana ”Jedur” Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning

“Orang tua kami kemudian mengisi dengan lagu-lagu, sehingga tidak terkesan monoton. Caranya, dengan memasukan melodi yang ritmis dengan menirukan suara-suara gamelan, suara benda dan suara perang,” terang Ida Made Adi Putra.

Setelah dimodifikasi kesenian Sasakan tersebut namanya menjadi kesenian Cakepung, sehingga cikal bakal kesenian Cakepung merupakan seni Sasakan dari Lombok. Bedanya dengan Sasakan Lombok, cakepung memiliki pengecek, sehingga dalam pementasannya sangat gembira. Berbeda dengan Sasakan yang hanya sebatas membaca macepat tanpa pengecek.

Berfungsi strategis

Kesenian Cakepung dalam perkembangannya memiliki fungsi strategis. Salah satu fungsi kesenian Cakepung di Desa Budakeling digunakan sebagai media penanaman rasa kebersamaan, karena sering ditampilkan dalam acara yadnya masyarakat Budakeling.

Setiap masyarakat Desa Budakeling memiliki upacara yadnya baik Dewa yadnya, Manusa yadnya, Pitra Yadnya, maka para seniman Cakepung datang dengan sukarela tanpa harus diundang. Apabila ada upacara yadnya rasa kebersamaan sangat terlihat. Sehabis pertunjukkan biasanya diikuti dengan acara makan bersama secara kekeluargaan.

Baca Juga:  The Apurva Kempinski Bali Gelar ‘Indonesia: The Land of Art’, Suguhan Rasa dari Karya Seni Rupa Indonesia

Sebagai bagian dari tradisi berkesenian pada masa jayanya kerajaan Karangasem yang berada di Lombok seni Cakepung sangat digemari oleh kalangan masyarakat Budakeling, sehingga dalam kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat pada masa lalu Cakepung merupakan bagian dari acara tertentu.

Misalnya; Tiga Bulanan, bayi Putus tali pusar, perkawinan dan lain-lain. Seni Cakepung masa kini jarang ditampilkan, sehingga saat ini hanya ada di Budakeling sebagai pewaris generasi ke dua adalah Ida Wayan Padang (almarhum), Ida Wayan Taman.

Termasuk, Ida Made Sari (Pedanda Gede Made Jelantik Karang) (almarhum), Ida Wayan Raja, Ida Ketut Oka (almarhum), Ida Nyoman Alit (almarhum), Ida wayan Dangin (almarhum), Ida Nyoman Togog (almarhum).

Dari generasi ke-dua dilanjutkan oleh generasi ke-tiga antara lain; Ida Made Basma, Ida Wayan Gede, Ida Nyoman Cundi, Ida Made Adi Putra, Ida Wayan Oka Adnyana, dan banyak lagi yang lainnya. “Kami melakukan berbagai usaha kreatifitas untuk melestarikan seni Cakepung tradisional ini,” paparnya. [B/darma]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post